Harriyadi Irawan lahir di Pontianak, Kalimantan Barat 30 tahun yang lalu. Semasa kecil, bersama orang tuanya, Harri pindah ke Batam, Kepulauan Riau. Di sana dirinya sempat mengecap pendidikan di Yayasan Perguruan Tinggi Nasional (YPTN) Batam sambil pula mengisi waktu luangnya dengan pekerjaan sambilan.

Seperti kebanyakan orang, Harri memutuskan untuk merantau dan bekerja di Jakarta. Sempat dia bekerja di berbagai industri di ibukota, kendatipun itu semua tidak pernah memupuskan keinginan Harri untuk berjuang mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Di tahun 2010, Harri mendapatkan Fulbright Scholarship dari Community College Initiative Program Awards dimana dirinya berkesempatan mengambil program Diploma of Hospitality Management di Kirkwood Community College, Iowa, Amerika Serikat selama setahun.

Sepulangnya dari negeri Paman Sam, Harri langsung mendaftarkan diri lagi untuk program beasiswa Endeavour Awards dari pemerintah Australia melalui departemen pendidikan. Tidak disangka-sangka, Harri kembali mendapatkan beasiswa selama dua setengah tahun untuk menempuh pendidikan di William Angliss Institute dalam program Advance Diploma of Hospitality Management.

Lepas dari beasiswa tersebut, Harri melanjutkan program bachelor of Tourism and Hospitality Management di institusi yang sama. Namun kali ini dirinya membiayai sendiri dengan berkerja paruh waktu. Perjalanan akademisnya kembali mendapatkan kesempatan ketika pihak kampus memberikan peluang kepada seluruh mahasiswanya untuk mendaftakan VIEA (Victorian International Education Awards) 2014. Tentu ini kesempatan yang tidak akan dilewatkan oleh Harri. Ia pun mendapatkan dua penghargaan dengan kategori berbeda di ajang yang sama.

Tidak hanya prestasi gemilang yang pemuda ini dapatkan dalam kuliahnya, namun dalam berkerja dan kegiatan sosialnya ia juga tidak bisa disepelekan. Terutama dalam hal menjadi pekerja sosial, Harri terlibat di berbagai macam organisasi sosial yang ada di Victoria, sebut saja Jesuit Social Services, City Ambassador City of Melbourne, Collingwood Community Information Center dan lain sebagainya. Tidak hanya sekedar membantu, akan tetapi sumbangsih tenaga dan pikiran yang dituangkan secara maksimal telah menghasilkannya penghargaan dari tiap organisasi sosial tersebut.

Sudah dua setengah tahun dirinya tinggal, bekerja dan menempuh pendidikan di Melbourne, Victoria. Tak pelak, Harri merupakan salah seorang dari ratusan ribu mahasiswa internasional yang menempuh pendidikan di kota ternyaman di dunia ini. Dari ribuan aplikasi yang diterima VIEA, hanya segelintir saja yang sukses menjadi finalis, diantaranya ada dua pelajar Indonesia yang masuk dalam kategori yang sama; International Student of the Year – Vocational Education & Training. Mereka adalah Harri dan Yuliana Sari, pelajar dari North Melbourne Institute of TAFE (NMIT).

Harri langsung meraup dua penghargaan sekaligus, yakni International Student of the Year – Vocational Education and Training dan yang paling bergengsi, Premier’s Award – International Education Student of the Year. Penghargaan ini diberikan beserta beasiswa sejumlah 20ribu dolar Australia.

Jika ditengok ke belakang, dari prestasi dan pencapaian akademis serta sosial Harriyadi, bukanlah hal yang sulit bagi pihak juri untuk memilih Harri sebagai pemenang kedua penghargaan tersebut. Harriyadi Irawan adalah contoh konkrit pelajar Indonesia yang sukses di tanah rantauan. Panel juri dalam VIEA 2014 menyatakan “Harriyadi demonstrates outstanding academic excellence and commitment to his studies. Harriyadi has embraced a range of volunteering opportunities that will pay dividends not only for his future job prospecs but right now as he builds connections with the local community.”

Harri menyatakan jika dirinya tidak pernah berhenti bermimpi untuk sekolah di luar negeri dan menekuni bidang hospitality dan tourism, padahal orang tuanya tak mampu membiayainya. Harri direncanakan lulus gelar S1 pada 2016 mendatang.

Kita patut bangga dengan pencapaiannya, dan tentunya berharap akan ada banyak Harriyadi lain yang muncul dari Tanah Air.