Mengawali masuknya Agustus, Indonesia Business Center (IBC) yang baru saja mengangkat kepengurusan barunya turut berpartisipasi dalam rangakaian Small Business Festival Victoria dengan mengadakan forum diskusi dan networking bertajuk Opportunities and Risks of Sourcing your Business From Indonesia, dan Accessing the Indonesian Market for Small Business. Kedua acara tersebut diadakan di Ruang Bhinneka Konsulat Jenderal RI Melbourne dan tidak hanya dikunjungi oleh peminat berlatar belakang Indonesia, melainkan juga dari beragam nasionalitas lainnya.

“Acara hari ini topiknya adalah Accessing Indonesian Market for Small Businesses di Australia. Tujuan kita mengadakan acara ini adalah to promote Indonesia as a great market for people to do businesses in. With a population of 260 million people, that is a great volume of market share that they could expose their products to. We want people to see Indonesia as a great market to do business in and Indonesia tidak lebih berbahaya to do business in compared to any other countries,” ujar Angela Ang, Ketua IBC.

Menurut Angela, masih banyak orang yang ragu untuk menjalankan bisnis mereka di Indonesia dengan berbagai alasan, salah satunya adalah stereotip mereka sendiri bahwa ketidakpastian hukum yang ada di Indonesia membuat sulit untuk membuka atau menjalankan bisnis. Maka itu, melalui penyuluhan semacam ini, Angela berharap pebisnis bisa mendapatkan sebuah ide dan pencerahan untuk keterlibatan bisnis mereka dengan Indonesia kedepannya.

Acara yang dihadiri tak kurang dari 74 peminat tersebut dibuka dengan pidato singkat dari Presiden Australia Indonesian Business Council (AIBC) Murli Thadani, yang kemudian dilanjutkan dengan introduksi topik dari nara sumber yang meliputi Craig Malcolm, Trade Adviser dari TradeStart – grup industri asal Australia; Lawrence Christoffelsz, Chairman Australian Chamber of International Trade (ACIT); dan Kevin Mager, Associate Director of Global Trade and Supply Chain Finance, Institutional Banking and Markets dari Commonwealth Bank.

Tampak hadir ialah Konsul Muda Ekonomi Banga Malewa yang menyatakan dukungan penuhnya terhadap inisiatif IBC. “Ini adalah kegiatan partnership antara KJRI, IBC, dan AIBC. Kegiatan ini ditujukan untuk diseminasi informasi mengenai peluang dan tantangan ekspor-impor produk Indonesia ke sini, dan produk Australia ke Indonesia. Jadi sebenarnya rangkaiannya ada dua, yang minggu lalu itu adalah bagaimana impor produk dari Indonesia ke sini, hari ini adalah bagaimana mengekspor produk Indonesia dan bagaimana mengakses pasar ke Indonesia. Jadi kegiatan ini juga kita gunakan untuk mensosialisasikan mengenai trade expo Indonesia yang akan dilaksanakan pada tanggal 12-16 Oktober 2016 di Jakarta,” papar Banga mantap.

Pada segmen tanya jawab, terlihat minat para hadirin untuk berpartisipasi secara aktif. Kebanyakan menanyakan seputar mitos dan berita negatif tentang berbisnis di Tanah Air. Menanggapi hal tersebut, nara sumber serta Konsul Muda Banga lalu memberikan penjelasan dan informasi yang benar.

Konsul Muda Ekonomi Banga Malewa
Konsul Muda Ekonomi Banga Malewa

“Saya punya harapan yang besar supaya tentunya, orang banyak yang mengekspor produk dari Indonesia ke sini, atau mengimpor produk dari sini ke Indonesia, itu satu poin. Tetapi kalau melakukan dua-duanya, itu dua poin. Ketiga adalah ketika dia ekspor-impor dan ia menjadikan Indonesia sebagai production base, itu yang sebenarnya kita impikan,” urai Banga usai menampis pandangan buruk yang dimiliki beberapa orang mengenai sistem usaha Indonesia.

Di akhir acara, Angela mengaku banyak peserta yang menghampirinya untuk menghanturkan terimakasih karena mereka telah dibekali banyak informasi baru. Beberapa diantaranya mengatakan puas setelah mendapat jawaban atas pertanyaan yang selalu ada di benak mereka sebelum menghadiri forum diskusi ini.

They said it actually helped them move one step closer to setting up business in Indonesia. I love hearing feedback like that. It makes me feel like IBC has a direct positive impact on their business and in turn, contribute to the economic growth of Indonesia,” kata Angela bangga.

Lawrence Christoffelsz, Chairman ACIT yang telah memiliki keterlibatan dengan IBC selama tiga tahun belakangan menyetujui bahwa keuntungan dari acara seperti ini adalah untuk memberikan sebuah pengetahuan dan kepastian bahwa masih banyak kesempatan dan keuntungan berbisnis dalam pasaran Indonesia. “It’s not as difficult and even if it can be quite daunting, but the benefits of these events is that you get access to support, networks, individuals and organizations who can really handhold the process, especially if it is for a new experience,” tuturnya.

Hal tersebut diamini Konsul Muda Banga yang memperhatikan golongan masyarakat yang hadir hari itu. Menurut beliau, sebagian dari mereka sudah mempunyai bisnis, dan kalaupun belum punya bisnis, orang-orang tersebut memiliki sebuah keinginan untuk membuka bisnis, “jadi bukan cuma kita berteori, tetapi benar-benar orang yang melaksanakan di lapangan. Dengan begitu kita mengharapkan diseminasi informasi ini bisa membantu mereka untuk mendapatkan pengetahuan yang baik tentang peluang dan tantangan pasar, terutama di Indonesia.”

Untuk kedepannya, Angela berkata bahwa IBC ingin lebih fokus untuk mengorganisir acara untuk para pre-entrpreneur, termasuk diantaranya mereka yang baru saja memulai bisnis, atau mereka yang mau memulai bisnis tetapi masih bekerja full time, mereka yang masih belum yakin ingin mulai dari mana, apa yang ingin dilakukan dan siapa yang bisa diajak bicara mengenai bisnis mereka. “I want to focus on events where we can give some practical tips to these pre-entrepreneurs, so they walk away from the event knowing that they are one step closer to setting up a successful business.”

Sebagian panitia IBC
Sebagian panitia IBC

 

Sasha