Ajang promosi budaya perfilman Indonesia yang diangkat dalam Indonesian Film Festival (IFF) telah berakhir dengan mulus. Dari sembilan film layar lebar termasuk penayangan edukasional yang diputar di ACMI Cinemas, dua film berhasil menjual habis tiketnya, yakni ‘Comic 8’ dan ‘Sokola Rimba’.

IFF merupakan agenda tahunan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) ranting The University of Melbourne yang telah berlangsung sejak 2006. Awalnya, IFF diputar di RMIT Capitol Theatre dan hanya menayangkan tiga film. Namun seiring dengan meningkatnya minat masyarakat akan karya film anak bangsa, maka IFF pun pindah rumah ke Australian Centre for the Moving Image (ACMI) di Federation Square. Pada 2008, IFF didaftarkan sebagai Indonesian Film Festival Incorporated yang hingga saat ini dikelola pasangan suami istri Ronald dan Zendi Wicaksana. IFF Incorporated berdiri sendiri hingga empat tahun kemudian badan ini kembali menggandeng PPIA Melbourne University untuk pelaksanaan IFF ke-tujuh. Christian Runtuwene selaku Project Manager The 9th IFF Melbourne mengakui, “kita ada agreement dengan IFF Inc. sejak 2012 untuk setiap Indonesian Film Festival dimana dalam bentuk dana, rugi atau laba dibagi dua.”

Di tahun yang ke-9 ini, IFF kembali membuktikan eksistensinya dengan merambah ke Sydney. IFF yang tadinya dijuluki IFF Melbourne kini telah menjadi IFF Australia. Kendati baru memutar tiga film, ‘Something In The Way’, ‘Sokola Rimba’ dan ‘What They Don’t Talk About When They Talk About Love’, akan tetapi animo warga Indonesia di Sydney cukup tinggi.

Untuk Melbourne sendiri, Christian mengatakan tahun ini IFF sudah jauh lebih baik. “IFF ke-9 ini sudah lumayan sukses, apalagi untuk tahun ini kita lebih banyak pujian karena kita banyak mengundang local people,” ujar Christian. “Seperti untuk ‘Comic 8’ dan ‘Sokola Rimba’ kebanyakan penontonnya adalah orang lokal.” Christian lanjut menjelaskan pihaknya menggunakan jaringan Australia Indonesia Youth Association (AIYA) untuk menjangkau penduduk setempat.

Selain beberapa film tadi, tidak banyak terlihat penonton berkebangsaan lain selain warga Indonesia. Hal ini patut disayangkan mengingat ajang bergengsi seperti IFF merupakan medium yang amat tepat untuk menunjukkan kualitas bangsa di mata dunia.

Kerjasama dengan ‘The Raid 2’

Salah satu film Indonesia yang berhasil menembus pasar internasional, ‘The Raid 2’ naik tayang di beberapa bioskop besar ketika IFF 2014 berlangsung, namun bukan merupakan bagian dari IFF. Mengenai ini, Christian mengatakan jika pihaknya lebih mengutamakan karya-karya orang Indonesia sebab meskipun ‘The Raid 2’ dibintangi dan diproduksi di Indonesia, film ini disutradari seorang warga Inggris, Gareth Evans.

“Yang kedua, dealing dengan Madman Entertainment [perusahaan distributor film di Australia –red.] berbeda, caranya agak susah, dan mungkin IFF juga masih belum sebesar itu. Tapi kita juga bekerjasama dengan Madman Entertainment dalam hal media partner,” lanjut Christian.

Kemunduran IFF

Menurut Robby Ertanto Soediskam, sutradara yang kini menjabat sebagai pengurus Badan Perfilman Indonesia (BPI) – sebuah badan yang dibentuk melalui Undang-Undang Perfilman yang mengurus industri perfilman Tanah Air – IFF tahun ini sedikit mengalami kemunduran. “IFF ke-9 ini menurut saya semestinya lebih teroganisir lebih baik, dalam artian seharusnya bisa lebih rapih dan lebih belajar dari tahun-tahun sebelumnya, misalnya saja mencontoh tahun 2010 atau 2012 dimana IFF memiliki tema… dan yang bisa menjadi pembelajaran IFF adalah promosi, bagaimana bisa menjaring orang-orang lokal setempat agar bisa peduli dengan film Indonesia. Meskipun sudah terlihat beberapa tapi diharapkan bisa lebih banyak lagi.”

Robby yang sengaja diterbangkan BPI untuk melakukan review terhadap IFF Australia lanjut mengkritik perihal pemutaran film ‘Something In The Way’ yang dinilai salah strategi untuk dijadikan film pembuka karena terlalu sensitif mengingat tayangan perdana suatu film festival seharusnya merupakan film yang memuat unsur promosi budaya negara produksinya. Hal ini diamini beberapa penonton yang memilih meninggalkan ruang bioskop lebih awal karena merasa film tersebut terlalu vulgar untuk ditonton bersama keluarga.

Menanggapi peristiwa tersebut, Ronald Wicaksana selaku Pendiri sekaligus Pimpinan IFF Inc. mengatakan jika peringatan rating film yang masuk kategori R18+ (Restricted to 18 and over) sudah jelas diumumkan sebelumnya. Mendukung pernyataan Ronald, Christian menambahkan jika ‘Something In The Way’ justru banyak ditunggu-tunggu karena hanya ditayangkan di festival-festival film semacam Berlin International Film Festival dan Jogja Netpac Asia Film Festival, tidak dapat ditemukan di bioskop biasa. “Kita ingin menayangkan film-film award winning, jadi bukan film-film seperti yang sudah umum ditayangkan.”

Ketika ditanya mengapa tidak menampilkan ‘Sokola Rimba’ yang lebih edukatif dan terbukti sold out, Christian menjawab, “kebetulan waktunya tidak cocok dengan availability Mira Lesmana untuk datang menghadiri penayangan filmnya.”

Kendatipun, Robby memberikan pujian untuk program edukasi IFF yang memutar film pendidikan untuk anak-anak sekolah. “Tadi saya ngobrol sama Ronald, menurutnya satu bulan sebelum IFF film edukasi sudah sold out, nah berarti respon terhadap film edukasi ini sangat besar karena banyak sekolah-sekolah di Australia yang belajar Bahasa Indonesia. Mungkin program ini bisa lebih ditingkatkan dengan menjaring sekolah-sekolah dan bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kedua negara.”

Ditanya apabila IFF dapat dimasukkan dalam program kerja BPI, Robby menjelaskan pihaknya telah menghubungi IFF Inc. untuk merencanakan pengadaan IFF ke-10 dengan skala yang lebih besar. BPI sendiri bertugas untuk memberi masukan kepada pemerintah tentang kreativitas asosiasi atau festival film di dalam dan luar negeri. “Saya inginnya di tahun yang ke-sepuluh, IFF dibuat lebih baik dan lebih menarik. Dan karena prosesnya yang sudah 10 tahun tersebut, IFF dapat dibuka oleh menteri terkait agar respect-nya lebih besar.”

Kepada seluruh masyarakat Indonesia, Robby berpesan “kita harus dukung terus industri film Indonesia, saya rasa sambil berjalan sambil belajar pasti akan menemukan rumahnya sendiri.”

 

** APA KATA PENONTON **

(…usai menonton ‘Comic 8’) Filmnya lucu, joke-joke-nya juga masuk ya… ceritanya juga ok. Tahun lalu gua juga nonton beberapa film yang dibawa IFF. Dibandingkan tahun lalu IFF masih ok. Keep up the good work.

I haven’t seen Indonesian movie for a while… so bring back old memories. To be honest I don’t have any expectation because this is my first time (attending IFF), overall it’s very creative. Good job.