Mungkin masih banyak dari kita yang belum terlalu paham akan kondisi negara kita sendiri saat ini. Masih banyak yang belum terlalu mengetahui lebih dalam lagi isu-isu yang bergelimpangan di Indonesia sekarang. Sebagai rakyat Indonesia, ada baiknya kita, mengikuti perkembangan negara agar bisa bersama-sama membantu pembangunan negara yang lebih maju. Dan ternyata, semangat inilah yang telah dituangkan para anggota dari IKAWIRIA atau Ikatan Warga Indonesia di Victoria bekerja sama dengan IKA UII (Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia) untuk meng-update pengetahuan rakyat Indonesia yang berada diluar negeri tentang bagaimana kondisi dan perkembangan Tanah Air saat ini.

Mendatangkan 3 narasumber yang sangat kompeten dibidang nya masing-masing, yakni Mahfud MD, Halim Alamsyah dan Edi Suandi Hamdi, acara yang dinamakan ‘Indonesia Kini’ pun berlangsung sangat menarik.

Bertempat di Rotunda Monash University Campus, acara talkshow ‘Indonesia Kini’ pun mengundang cukup banyak antusias. Tidak sedikit hadirin yang hadir untuk menyimak ulasan tentang politik, hukum, dan ekonomi Indonesia saat ini, apalagi setelah selesainya pilkada DKI Jakarta, bahasan politik terasa tidak ada habisnya. Tidak ketinggalan, acara yang berlangsung pada tanggal 23 April 2017 dihadiri pula oleh Konsul Jenderal Dewi Savitri Wahab yang dalam kesempatan tersebut ikut memberikan kata sambutan untuk membuka acara siang hari itu.

Talkshow berlangsung dari pukul 2 siang hingga 4 sore, dimulai dengan ulasan tentang hukum dan politik yang dibawakan oleh Mahfud MD. Dalam bahasannya, Mahfud menjelaskan terlebih dahulu tentang politik Indonesia dimera orde baru, yakni era Presiden Soeharto. Ia mengatakan pada zaman itu, politik dan hukum Indonesia bersifat otoriter dan ortodoks. Lalu apa yang dimaksud dari dua istilah ini? Mantan ketua Mahkamah Konstitusi periode 2008 ini pun menjelaskan adanya 3 hal penting yang patut rakyat Indonesia ketahui. “Di politik yang otoriter itu, parpol (partai politik) saat itu lemah dengan hukum yang sentralistik. Dimana semuanya terpusat. Keadaan kedua, pemerintah bersifat intervensionis dengan hukum yang positivistik instumentalistik,” ujarnya.

Mahfud MD

Mahfud mengatakan bahwa dengan semua hukum yang terpusat, mengakibatkan kebijakan dari pemerintah sendiri banyak mengintervensi urusan beberapa pihak, seperti pihak politik, pesantren, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, hukum pun dijadikan untuk membenarkan sesuatu yang seharusnya salah. “Instrumen untuk membenarkan yang salah, jadi itu namanya bukan lagi demokratis,” papar Mahfud ketika menjelaskan tentang makna dari hukum positivistik instrumentalistik. Hal ketiga, Mahfud mengungkapkan bahwa pers pada saat itu gerak-geriknya dibatasi dengan hukum yang bersifat open-interpretatif.

Kendati demikian, apakah saat ini politik Indonesia sudah termasuk berhasil, atau cenderung lebih ke dalam kegagalan, dibandingkan dengan era orde baru? Pria yang lahir pada tanggal 13 Mei 1957 ini pun mengatakan saat ini politik Indonesia sedang berbelok arah. “Sekarang itu oligarki. Tidak demokrasi. Para elit politik berkolaborasi untuk mengambil keuntungan-keuntungan mereka sendiri. Alhasil, aspirasi rakyat pun tidak terjadi. Namanya saja demokrasi, tapi prakteknya tidak,” ungkap Mahfud.

Modal terbesar yang Indonesia miliki untuk dimanfaatkan dalam mewujudkan politik dan hukum yang lebih baik, bersumber dari empat hal. “Pertama, pemilu kita sudah baik. Luber-jurdilnya harus terus dipertahankan. Kedua, kita itu memiliki keadilan dan kesatuan yang kuat dalam negeri. Tidak seperti Zimbabwe yang pemimpinnya melakukan pemilu, dihitung sendiri, dan mengumumkan diri sendiri menang. Ketiga, tidak adanya oposisi atau koalisi permanen dan ikatan kebangsaan kita menguat. Dan yang terakhir adanya kebebasan pers,” tutup pria kelahiran Madura tersebut. Dalam hal ini Mahfud berpesan, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi lebih baik lagi asal mampu memegang dan menjaga teguh 4 poin tersebut.

Sesi kedua pun dimulai langsung oleh Halim Alamsyah yang mengupas lebih dalam tentang perekonomian Indonesia. Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan ini menjelaskan bahwasanya ekonomi Indonesia dikatakan baik ketika menyentuh tahun 2012 dan 2013. Namun, dikarenakan ekonomi global sekarang menurun, imbasnya pun juga dirasakan oleh Indonesia.

Halim Alamsyah

Halim memaparkan lebih detilnya lagi dengan menggunakan estimasi. “Suku bunga kemungkinan di Amerika naik nyaris 3 persen. Dan kemungkinan suku bunga di Indonesia akan menjadi sekitar 8 hingga 9 persen. Ini akan sedikit mengurangi investasi dimana Indonesia sendiri harus bersiap-siap. Beban bayar utang luar negeri akan menjadi semakin berat dan sulit,” ujar Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini.

Halim juga menambahkan, Indonesia termasuk pasar yang menarik untuk menanamkan modal. Rupiah akan menguat jika arus modal dari luar terus masuk. Namun, jika Amerika memutuskan untuk menaikkan suku bunganya, reaksi yang didapatkan akan uncertain dan berimbas pada penekanan nilai rupiah. “Saat ini yang bisa kita lakukan untuk perekonomian yang lebih baik adalah jika Indonesia tidak bisa menciptakan sistem yang bagus, maka kita bisa tiru saja sistem yang sudah ada dan sudah bagus. Dan sumber daya dan aset itu harus kita yang mengendalikan, bukan pihak manapun,” ungkap Halim singkat.

Setelah sesi penjelasan tentang perekonomian Indonesia selesai, Edi Suandi lalu dengan sangat singkat menjelaskan tentang proyek infrastruktur di Indonesia. Walau dengan waktu yang sangat singkat, Edi berhasil membuat riuh suasana dengan leluconnya yang menghibur hadirin kala itu.

Edi Suandi Hamdi

Edi cukup memberikan kesimpulan yang sangat dalam. “Saat ini kita butuh presiden yang mindset nya seperi Pak Jokowi, visioner. Namun, kita butuh seseorang dengan power yang besar dan kuat seperti Pak Harto,” ujarnya sambil menutup talkshow sore hari itu.

 

 

Alifia