Disela hiruk pikuknya persiapan upacara bendera yang dilaksanakan 17 Agustus silam, terlihat ada pasukan selain Paskibra yang juga turut hadir meramaikan. Ya, mereka adalah siswa siswi dari SMPN 5 Yogyakarta yang hendak melakukan penampilan baris berbaris di KJRI Melbourne. Usai penaikan bendera, giliran pasukan mini ini unjuk gigi dan memperlihatkan kebolehannya. Dan ternyata, penampilan mereka pun tidak kalah memukaunya dengan paskibra KJRI Melbourne, lho!

Guru Bahasa Inggris, Madyaningsih (kiri) dan Siti Maftuha (kanan)

Ditemui usai penampilan, guru pendamping, Madyaningsih yang juga merupakan guru Bahasa Inggris di sekolah tersebut, menjelaskan maksud kedatangan mereka. “Kegiatan ini merupakan student exchange program, kerjasama sekolah kami dengan pemerintah Australia yang sudah dibina sejak tahun 2008. Kebetulan tahun ini tanggalnya berbarengan sama dengan upacara 17 Agustus,” ungkapnya. Alasan utama SMPN 5 Yogyakarta mengirimkan siswa siswinya ke Melbourne tidak lain untuk memberikan pengalaman baru dan memberikan gambaran kondisi perayaan 17 Agustus di Melbourne. Tahun ini, SMPN 5 Yogyakarta bekerjasama dengan Cobden Technical School untuk melakukan proses pertukaran pelajar, dan kabarnya tahun depan akan dilanjutkan dengan Portland Secondary College.

Diketahui bahwa Australia tidak hanya menjadi satu-satunya destinasi bagi sekolah asal Yogyakarta ini, melainkan, terdapat beberapa negara lain yang menjadi target, yakni Eropa dan Jepang. “September nanti sekolah kami akan mengirimkan 24 siswa ke Eropa. Dan rencananya akan membawa siswa tersebut ke London dan Perancis. Jepang juga akan menjadi destinasi selanjutnya untuk di bulan Desember ini,” jelas Madyaningsih.

Dengan jumlah mahasiswa sebanyak 16 orang, Madyaningsih mengaku salah satu indikator dalam memilih siswa tidak hanya dari prestasinya saja, melainkan juga melihat faktor ekonominya. “Karena program ini semua biaya akan ditanggung oleh siswa dan siswi sendiri. Termasuk biaya mengirimkan guru pendamping.” Siswa-siswi ini dipilih secara acak dan tanpa melalui tes dari seluruh angkatan kelas 8 dan 9.

Kegiatan baris-berbaris yang dipertontonkan bukan kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Melainkan, hanya dibentuk semata-mata untuk mempersiapkan penampilan di Melbourne. “Kita memilih kegiatan baris-berbaris ini karena ada nuansa kebangsaannya. Dan menurut kami juga sangat cocok dengan atmosfir upacara kemerdekaan”.

Harapan Madyaningsih kedepannya agar semakin banyak peserta yang mengikuti program serupa.”Saya berharap anak-anak dapat melihat langsung orang Indonesia yang sudah belajar di sini, dan mereka terinspirasi untuk bisa mendapatkan beasiswa dan sekolah di sini. Jadi dari sekarang dipupuk bahwa sekolah bisa dengan berprestasi dan mandiri, dan tidak bergantung kepada orangtua,” tutupnya.

 

 

APA KATA MEREKA

Raffi Kusuma Daniswara 

Saya senang datang ke Melbourne, udaranya enak, tidak seperti di Indonesia. Sebelum kesini juga saya sempat menyiapkan beberapa hal seperti belajar Bahasa Inggris, latihan baris berbaris, dan semua itu menyenangkan. Saya sangat ingin menambah pengalaman saya dalam menjelajahi tempat Melbourne. Dan ternyata Melbourne merupakan kota yang tepat untuk jalan-jalan dan belajar.

 

Mardhia Naura 

Saya memang dari dulu kepingin sekali kuliah di sini. Kemarin kami sudah jalan-jalan mengunjungi Monash University. Ketika kuliah nanti saya bercita-cita untuk ambil jurusan Hukum di sini.

 

 

 

Alifia
Foto: Nys