Acara tahunan Indonesian Satay Festival kembali diadakan Perwira (Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria) awal Mei silam di Box Hill Town Hall. Alasan utama bagi kebanyakan pengunjungnya datang ke festival ini adalah untuk menikmati berbagai makanan tradisional serta pertunjukan budaya Indonesia. Akan tetapi, dari pantauan BUSET pada hari tersebut terlihat adanya penurunan jumlah penjual makanan.

“Bedanya tahun ini food stall-nya berkurang karena dibarengin dengan acara lain. Tahun lalu lebih banyak daripada ini. Untuk performance kita lebih dari yang kemarin. Time dari setiap performance lebih panjang,” ujar Nunung Bonser selaku Ketua Umum Perwira saat dimintai pendapatnya.

Kunjungan BUSET ke Indonesian Satay Festival tidak hanya fokus untuk wisata kuliner namun BUSET pula mendapat kesempatan untuk berbincang dengan Chairperson Victorian Multicultural Commissionen Chin Tan. Menurut beliau, pihaknya dengan bangga telah banyak memberikan dukungan serta bantuan finansial untuk membantu komunitas Indonesia agar bisa lebih dikenal di wilayah Victoria. Chin Tan menambahkan, kendala terbesar ialah banyaknya jumlah komunitas serta tenaga yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan sebuah acara. “Angka dari komunitas Indonesia di Melbourne cukup besar sehingga membutuhkan sarana yang lebih interaktif untuk bisa mempromosikan budayanya kepada masyarakat luas. Kami dari Komisi Victorian Multicultural akan dengan senang hati memberikan gagasan ide serta koneksi, sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan masyarakat Australia.”

Pertunjukan pencak silat, angklung dari Mojang Angklung Dharma Wanita Persatuan KJRI Melbourne dan Tari Saman oleh Grup Saman Melbourne adalah beberapa yang meramaikan panggung yang dipandu MC Nika dan Dwi hari itu.

Acting Consul General Republik Indonesia Ita Puspitasari mengatakan “setiap tahun kami pasti mendukung acara Indonesian Satay Festival. Pokoknya, asalkan ormas tersebut ingin mempromosikan Indonesia maka kami pun akan ikut serta.”