Bertepatan dengan hari Ibu yang dilangsungkan pada Hari Minggu kedua Mei silam, organisasi masyarakat yang tergabung dalam Perhimpunan Warga Indonesia di Victoria (Perwira) kembali mengadakan Indonesian Satay Festival di Box Hill Town Hall. Agenda tahunan yang bertujuan untuk memperkenalkan makanan dan budaya Indonesia kepada masyarakat luas ini merupakan yang ke-29 kalinya dan berlangsung dari pukul 11 pagi sampai 8 malam.

Ruangan dua lantai tersebut terlihat dipenuhi pengunjung yang berasal dari Indonesia, Australia dan beberapa bangsa lainnya. Banyak keramaian yang terlihat mengantri di beberapa food stall, sedangkan beberapa lainnya duduk di bangku-bangku yang tersedia sambil menikmati acara panggung, seperti Pencak Silat dan Tari Saman.

Ada beberapa hal baru yang ditawarkan Satay Festival tahun ini, misalnya saja pengadaan workshop B.U.A.B (Buku Untuk Anak Bangsa) hasil kerjasama dengan organisasi mahasiswa PPIA Victoria dimana pengunjung dapat mendonasikan buku-buku Bahasa Inggris untuk kemudian diberikan kepada instansi-instansi di Indonesia. Ada pula peragaan busana tradisional yang pertama kali diikutsertakan untuk pengisi acara Satay Festival.

“Jamnya juga diperpanjang. Sekarang kita kerjasama dengan beberapa komunitas untuk bisa sharing kegiatan, fashion show juga merupakan yang pertama. Tahun ini juga Pengunjung bertambah, sesuai dengan yang diharapkan. Acara juga smooth, masih sesuai dengan rundown, belum ada masalah yang mengganggu. Walaupun di bagian non-food stall agak-agak sempit karena pengunjung agak banyak, tetapi itu bukan benar-benar masalah, mungkin next time tempatnya dipikirkan lagi,” ujar Riza Radjatjut selaku Panitia Pelaksana Satay Festival 2015.

Di lain pihak, Riza pula mengatakan bahwa tahun ini Satay Festival bukan tanpa hambatan. Pasalnya, banyak orang yang mengutarakan pertanyaan mengenai kasus eksekusi dua terpidana kasus Bali Nine sebelas hari sebelumnya. “Cuma dari meeting Perwira sudah menghubungi polisi dan konsulat, ada nggak saran-saran untuk menunda atau membatalkan acara. Kebetulan dari mereka nggak ada yang menyarankan, jadi kita go ahead aja,” papar Riza.

Untuk kedepannya, Riza menambahkan, tiap tahun pasti ada hal menarik lainnya yang ditawarkan. Dan ada acara-acara yang bisa diminati sehingga pengunjung tidak bosan. “Kerjasama akan terus kita coba kontak ke komunitas-komunitas organisasi Indonesia. Jadi acara ini juga akan lebih meriah dan bisa diikuti oleh semua golongan masyarakat.”

 

** Apa Kata Mereka **

Acaranya asyik, lumayan banyak yang datang ke sini, banyak yang ngasih liat seni-seni tradisional seperti pencak silat, sama tari samannya.

Masukan:
Tempat duduknya kurang, tapi banyak orang yang duduk cuma 10-15 menit trus ganti-ganti sih, tadi pas saya masuk kirain ngga bakal dapat tempat tapi akhirnya dapat juga. Buat makanannya enak, tapi nunggunya agak lama, terus ngantri-nya kurang ada aturannya.

 

Aku pikir sih bagus, karena orang Indonesia walaupun banyak, tapi kita sulit bertemu satu sama lain, jadi mungkin acara seperti ini sebagai ajang silaturahmi dan showcase orang Indonesia untuk orang Indonesia di sini.

Overall, Makanannya kita suka, soalnya kalo di Jakarta suka beli gorengan di pinggir jalan, di sini ada, meskipun bukan abang-abang yang jual dan lebih mahal, tapi karena obat kangen jadi ya sudah, lagian kan repot kalau masak sendiri.

Masukan:
Yang tahun sekarang justru sangat berhasil kalau melihat tamu yang datang karena suasananya tepat pas mother’s day dan juga waktunya cukup panjang hari ini sampai jam 8 malam. Jadi orang-orang yang nggak bisa datang pagi, bisa datang siang. Jadi untuk kedepannya kalau bisa waktunya seperti ini, itu baik. Mungkin saya pikir kalau memungkinkan cuaca dan koordinasinya, mugkin performance bisa di luar, jadi orang kalau lewat bisa lihat.

 

** GALERI FOTO **





 

sasha