Tak bisa dipungkiri, dewasa ini dunia sudah semakin didominasi oleh internet, sosial media pada khususnya. Mulai dari Facebook, Twitter, Vine, Path, Instagram dan masih banyak lagi. Semisal Instagram, para pengguna dapat berkreasi dan mempublikasikan foto-foto hasil jepretan mereka untuk menarik khalayak publik, semakin banyak orang yang menyukai foto Anda, berarti akan semakin banyak juga follower Anda.

Tidak terkecuali untuk warga Melbourne asal Jakarta, Agia Sidi. Akun Instagram @agiasidi miliknya dipenuhi aneka foto makanan, minuman, restoran dan hal-hal lain yang ditemukannya di kota penyandang titel ternyaman sedunia ini. Hingga berita ini ditulis, follower Agi telah mencapai 63ribu orang.

“Tahun 2012 gue bikin akun Instagram, itu waktu pertama kali beli iphone. Awalnya belum ngerti apa-apa jadi download-download aja. Pas pertama bener-bener ngasal banget, bikin tuh cuma apa yang gue suka ya gue jepret terus gue post. Cuma lama-lama kayaknya kok seru gitu ya kalo misalkan gue bikin gambar yang bagus,” ujar pria berusia 26 tahun ini.

Agia merupakan lulusan SMA Kanisius dan sempat meraih gelar S1 di SIM (Singapore Institute of Management). Setelah selesai kuliah di tahun 2010, ia kembali ke Indonesia untuk bekerja selama 2 tahun, sebelum akhirnya beranjak ke Melbourne untuk melanjutkan kuliah S2 jurusan Akuntansi di Monash University yang ia tekuni hingga pertengahan tahun ini. Nantinya Agia berencana untuk menetap di Melbourne dan mengumpulkan pengalaman di dunia pekerjaan di kota ini.

“Pertama kali gue nyampe Melbourne tuh gue pengen ngerasain Melbourne tuh kayak apa, jadi gue pengen tau apa yang enak di sini. Dan foto-foto itu sebenernya maksudnya untuk gue pribadi doang, maksudnya ‘oh gue pergi makan disini, atau gue pergi ngeliat apa gitu’ tapi lama kelamaan gue mulai tau kayak Melbourne kopinya enak, makanannya enak, akhirnya gue cobain lah satu-satu,” paparnya.

Agia mengakui bahwa ia tidak ada kemampuan khusus dalam bidang fotografi, semuanya otodidak, dalam artian dipelajari sendiri. Foto-foto yang ia unggah ke akun Instagramnya juga hanya untuk kesenangan dirinya sendiri. “Awalnya juga karena gue kira gue bakal setahun doang di sini makanya semua tempat harus dicobain. Tujuan utamanya ya karena suka, seneng aja ngeliatnya bagus. Kalau untuk nyenengin orang tuh sebenernya ngga ada. Untuk bikin temen jealous, iya ada,” tambahnya bercanda.

Dari foto-foto tersebut Agia mendapatkan berbagai macam komentar; kebanyakan orang memberinya pujian. “Kadang yang reseh itu comment-comment orang jualan peninggi atau pelangsing gitu di foto gue. Tapi yang jahat sih ngga ada, ngga ada yang bilang ‘ah lo mah gitu sih orangnya’ gitu ngga ada.”

Mempunyai banyak follower di Instagram tentu memiliki keuntungan tersendiri. Agia mengaku selain sharing foto, ia sempat menerima tawaran endorsement – dimana sebuah usaha menjalin kerjasama dengan pemilik akun Instagram untuk membantu mempromosikan bisnis mereka lewat foto-foto yang ditampilkan. “Iya, gue pernah menerima tawaran buat endorse jam tangan, muesli, dessert dan lain-lainnya. Tapi kalau kayak gitu sih langsung kontek gue pribadi aja. Kalau soal akun Instagram dan para follower gue sih, gue cuma pengen maintain aja, keep collecting memories.

Bagi Anda yang mempunyai akun Instagram, silakan ditengok sendiri akun milik @agiasidi. Foto-fotonya akan membuat Anda ingin keliling Kota Melbourne sambil mengunjungi berbagai kafé dan restoran untuk mencoba menu andalan mereka.

Seperti berikut ini adalah top 5 tempat yang direkomendasikan oleh Agia:

  1. Tall Timber: Perth Street, Prahran VIC 3181
  2. Top Paddock: 658 Church St, Richmond VIC 3121
  3. Hammer and Tong: 412 Brunswick St, Fitzroy VIC 3065
  4. Proud Mary: 172 Oxford Street, Collingwood VIC 3066
  5. Bluebird Espresso: 134 Johnston Street, Collingwood VIC 3066

Dan menurut Agia, untuk para penggemar kulinari yang ingin memulai dari area pusat kota, dapat dicoba Bowery to Williamsburg yang terletak di 16 Oliver Lane, Melbourne.

 

DAPAT FOLLOWER LEWAT SEPATU

Fenomena Instagram juga dialami alumnus RMIT jurusan Business Management, Melissa Saputra. Tak berselang lama setelah berhasil menggondol gelar S1-nya, Melissa yang mulai menimba ilmu di Melbourne sejak kelas 10 (1999) kembali ke kota kelahirannya, Jakarta sekitar akhir tahun 2005. Sekitar lima tahun kemudian Instagram mulai diperkenalkan ke khalayak dunia. “Awalnya kan semua orang main Instagram, lalu aku mulai foto-fotoin barang-barang di rumah, barang-barang yang nggak penting kayak boneka unicorn, bunga, tapi ini things that I like. Lalu karena I really have passion in shoes, jadi aku start taking pictures of my collection of shoes, almost every shoes I have.”

Tak disangka-sangka, foto sepatunya tersebut memikat perhatian banyak orang. Dari orang yang mengagumi gaya pemotretannya hingga yang meminta pendapat tentang beberapa merk sepatu. “Orang-orang mulai bertanya tentang ini itu lewat line aku sebab memang aku kasih line account aku di profil Instagram-ku. They are total strangers, but they’re nice. Mereka biasanya nanya sepatu ini enak nggak dipakainya, sampai-sampai ada yang curhat about their personal life, ” ujar Melissa seru. Perempuan cantik ini pun mengaku senang merespon komentar dari para follower-nya. “Aku tuh enjoy responding to them and give my opinion, I feel like I can help them in a way.”

Di lain pihak, karena akun Instagram-nya bersifat publik dan dapat diakses siapa saja, Melissa tak jarang mendapatkan pesan dari laki-laki yang mengajaknya berkenalan. “Beberapa kali ada cowok yang ngajak kenalan di Line, tapi kalau yang kayak gini aku langsung blok,” tegasnya.

Saat ini, akun @nokturnelle milik Melissa mendapatkan sebanyak lebih dari 4,300 pengikut yang sebagian besar adalah remaja putri dan ibu rumah tangga. Bahkan dengan angka follower yang masih termasuk sedikit dibandingkan Instagramer lainnya, Melissa telah menerima banyak tawaran endorsement. Selain senang karenya hobinya ternyata dapat menghasilkan, kesempatan ini lalu ia gunakan untuk berbagi ke komunitasnya. “Kadang aku dapat free goodies untuk di-endorse. Nah, ini sering aku jadikan give away, kan barang tersebut mungkin berguna untuk orang lain.”

Pernah juga Melissa menjual barang-barang ber-merk miliknya yang masih bagus dimana kemudian hasilnya ia sumbangkan untuk yayasan sosial di Indonesia. Dan nyatanya, banyak yang merespon positif dan barangnya pun laris terjual.

Keberhasilannya itu lalu mendorong Melissa untuk membuka satu akun spesial untuk menjual produk berkelas internasional, baik itu yang baru maupun yang pernah dipakai namun tidak diinginkan lagi. Ia mengaku banyak temannya yang menitip jualkan tas atau sepatu mereka melalui akun yang ia beri nama @nokturnelle_luxe. “Tentunya ya semua yang dijual merupakan barang asli sebab I against fake things,” ucapnya mantap.

 

sasha/vr