Setelah penayangan film Kartini yang baru saja berlangsung, dua hari kemudian bertempat di University of Melbourne, diadakan sebuah forum dengan tema: Film Kartini dan Kartini sebagai sumber sejarah dan inspirasi di Indonesia. Pembicara dalam forum diskusi kali ini erat kaitannya dengan sosok Kartini dengan moderator Associate Professor Kate McGregor, School of Historical and Philosophical Studies, University of Melbourne dan panel pembicara seperti Dr. Joose Cote yang ialah Senior Research Fellow, SOPHIS, Monash University yang juga mengeluarkan beberapa tulisan tentang terjemahan surat-surat Kartini; Dr. Dina Afrianty, Postdoctoral Research fellow, Institute for Religious Politics and Society di Australian Catholic University yang juga adalah seorang peneliti dengan topik Woman and Syaria Law in Northern Indonesia; ada pula Dr. Helen Pausacker yang merupakan wakil direktur dari CILIS (Centre for Indonesian Law, Islam and Society) di University of Melbourne, dan terakhir adalah Hani Yuliandrasari sebagai kandidat PhD Gender Studies, University of Melbourne.

Dr. Joose Cote

Forum ini dibuka dengan pertanyaan dari Kate sebagai moderator kepada Dr. Joose tentang keunikan seorang Kartini semasa ia hidup. Dr. Joose langsung menanggapi pertanyaan ini dengan informasi mengenai Kartini yang merupakan generasi ketiga yang memiliki akses ke pendidikan. Sebagai sejarawan, Dr. Joose menilai dokumentasi yang menjadi dasar dari film produksi Legacy Pictures ini sangat kuat. Menurutnya, sangat jarang, terutama pada jaman dahulu, seorang wanita membuat seratus lima puluh surat-surat termasuk didalamnya dari adik Kartini untuk membahas mengenai dasar nasionalis di era pra politikal. Tulisan Kartini ini kemudian menjadi dasar kemunculan perubahan pada kelompok kolonial dimana ia menjadi jembatan antara Indonesia dan Belanda.

(dari kiri): Kate McGregor, Hani Yuliandrasari, Dr. Helen Pausacker

Selain mengenai peran Kartini di masa lalu, Dr Helen Paulacker menyebut beberapa budaya yang bisa penonton saksikan adalah adat pingitan yang ditunjukkan dengan ‘mengurung’ wanita setelah datang bulan pertamanya. Kemudian ada juga disimbolkan dengan burung perkutut di dalam kandang; perjodohan yang bisa dikaitkan dengan Siti Nurbaya; serta poligami yang juga terjadi dengan ibu kandung Kartini yang harus merelakan suaminya (ayah Kartini) menikah lagi dengan wanita dengan status yang lebih tinggi. Ini sejalan dengan maksud sang sutradara, Hanung Bramantyo, yang melihat Kartini sebagai “potret sebuah tragedi.” Dalam catatan yang Hanung publikasikan juga melalui Buset, ia mengatakan, “[Kartini] dipenjara dalam rumahnya sendiri. Melawan keluarganya sendiri. Kecerdasannya dimandulkan, kepercayaan dirinya dipangkas. Atas dasar itulah aku tergerak untuk membuat re-make film kehidupan Trinil [nama panggilan Kartini]. Aku ingin penonton ikut merasakan tragedi itu. Drama seorang anak manusia yang hanya ingin sekedar mewujudkan keinginannya untuk menjadi dirinya. Sayangnya, hal itu sulit direalisasikan. Meski di jaman yang sudah sangat terbuka ini.”

Terlepas dari cerita dibalik film, sosok Kartini sendiri sebenarnya adalah inspirasi wanita dari generasi ke generasi. Pada masanya, banyak pergerakan dari luar Indonesia sebenarnya yang menjunjung tinggi derajat wanita. Seperti contohnya di Australia Selatan, wanita mendapatkan hak suara pertama sekitar tahun 1895, kemudian disusul Commonwealth Australia pada tahun 1902, dan Victoria dua tahun kemudian. Pada masa yang bersamaan, atas ijin oleh sang suami, Kartini mendirikan sekolah bagi perempuan dan mulai bermunculan beberapa organisasi serta majalah khusus perempuan. Selanjutnya, pada tahun 1912, Putri Mardika bersama dengan Budi Utomo menggelar kongres di Paris dengan topik poligami, pernikahan dini dan pernikahan paksa yang terjadi di masyarakat. Pada tahun 1915, di Jepara, organisasi perempuan yang anggotanya terdiri dari golongan masyarakat kelas atas mulai keluar rumah untuk melakukan aktivitas mereka dengan sesama perempuan. Dan akhirnya pada 28 Oktober 1928, dicetuskan Sumpah Pemuda yang diawali dengan kalimat, “Kami Putra dan Putri Indonesia”.

Pada sesi berikutnya, forum ini mengangkat beberapa hal menarik, termasuk perihal mendapatkan pendidikan, dimana sekarang setiap anak diwajibkan mendapatkan pendidikan yang layak. Ini dipercaya dapat membawa dampak yang mencegah pernikahan dini. Selain itu, Dr Dina juga angkat bicara dalam memaparkan opininya mengenai poligami dan Islam. Menurutnya, meski diketahui bahwa kakek Kartini adalah seorang kiai, kendati demikian, dalam film digambarkan ketika beranjak dewasa Kartini baru mengetahui bukan hanya pria yang boleh membacakan Al-qur’an, tapi wanita pun bisa.

Dr. Dina Afrianty

Dr Dina lanjut menjelaskan mengapa menurutnya bagian pertanyaan Kartini mengenai Islam menjadi penting, yakni karena masalah yang kerap dihadapi umat Islam di Indonesia ada kalanya terjadi akibat salah interpretasi terhadap Al-Qur’an. Berhubungan dengan ini, Dr Dina mengutarakan tentang kongres ulama perempuan di Cirebon, Jawa Barat beberapa waktu lalu dimana dari semua agenda yang akan dibicarakan, tidak ada satupun yang menyangkut poligami.

Dalam konferensi yang juga didukung oleh beberapa organisasi berskala nasional dan internasional tersebut, ada seorang wanita dari Yogyakarta yang mengutarakan pendapatnya mengenai poligami yang dinilai merugikan dan harus dihentikan karena tidak sesuai dengan hukum Islam dan dampak buruk yang dihasilkan poligami. Hal ini juga sempat menjadi sorotan masyarakat ketika ada ulama yang cukup popular namun kemudian banyak wanita yang marah dan berhenti mendengarkan kotbahnya setelah sang ulama diketahui telah menikah lagi sebelum akhirnya menceraikan istri yang sebelumnya.

Sebaliknya, ada pula tokoh agama Islam lainnya yang kerap muncul di layar kaca terlihat menggandeng kedua istrinya dan mengatakan bahwa kedua istri saling menghormati dan mereka dapat hidup bahagia. Dalam kaitannya dengan Kartini, ada kelompok pro poligami yang justru menggunakan nama Kartini sebagai teladan dalam konteks yang sedikit menyimpang. Kelompok tersebut mengajak para anggotanya untuk bisa seperti Kartini karena seberapapun pintar dan hebatnya seorang Kartini dalam memperjuangkan hak asasi wanita, namun ketika seorang pria yang telah memiliki tiga istri memutuskan untuk menikahinya, maka ia harus menyanggupi.

Sebagai kandidat PhD dalam bidang studi persamaan hak antar pria dan wanita, Hani melihat film karya Hanung Bramantyo ini memiliki sisi feminisme dan maskulinitas yang kuat. Trinil yang sejak kecil selalu mengikuti adat, sembah, dan tradisi Jawa lainnya yang sangat ketat, kemudian digambarkan bisa memanjat tangga, duduk bersila, dan tertawa terbahak-bahak. Hani merasa melalui film ini, Hanung sekaligus menekankan bahwa pria harus memenuhi janjinya sebagai pria, dimana ketika Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat melamar Kartini ia berjanji mendirikan sekolah bagi perempuan, dan ini dilakukan sesuai permintaan Kartini setelah menjadi istrinya.

Hani juga membahas mengenai pesan yang muncul di film Kartini bahwa ketaatan merupakan suatu hal yang harus dilakukan, terutama oleh keluarga Indonesia. Hanung seakan ingin menyiratkan pesan sebuah ketaatan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, hanya bisa dinegosiasi.

Melalui forum ini, terbukti bahwa kekayaan adat istiadat dan budaya Indonesia menjadi salah satu pemicu ketertarikan bangsa asing, khususnya Australia. Besar harapan agar kemajuan Tanah Air bisa menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan warganya dan terus dipromosikan di tanah Kangguru ini.

 

 

APA KATA MEREKA

 

Kate McGregor

Saya pertama kali ke Indonesia sewaktu saya 18 tahun, hanya berkeliling dari Bali ke Sumatera menggunakan kapal. Kemudian dari situ saya ke kota kecil naik bus. Setelah pulang dari situ saya belajar Bahasa Indonesia. Jadi perjalanan ini adalah kali pertama saya tertarik dengan Indonesia. Ditambah lagi Indonesia adalah negara terdekat dengan Australia sehingga itu yang membuat saya tertarik dengan Indonesia. Saya belajar Bahasa di University of Melbourne, lalu ada kursus sejarah Indonesia.

Saya merasa anak muda sekarang kurang suka dengan sejarah sehingga mereka tidak begitu mengerti sejarah bangsa. Oleh karena itu ketertarikan saya dengan film ini adalah karena film seperti ini memberikan pengetahuan tentang masa lalu. Kita selalu bisa belajar masa lalu. Seperti Kartini bisa menjadi inspirasi hingga sekarang.

Sebagai sejarawan, pendidikan sangat penting. Saya ingin semua perempuan punya kesempatan untuk belajar.  Keterbatasan perempuan dalam pendidikan itu menjadi masalah di dunia sehingga buat saya itu penting. Apalagi Kartini juga berjuang untuk perempuan dan beliau melihat keadaan yang tidak sama antara perempuan dan laki-laki. Untuk saya, Kartini adalah simbol inspirasi.

Harapan saya, hargailah sejarah bangsa. Berkontribusi lah untuk dunia yang lebih baik. Banyak sekali challenge di dunia ini kedepannya, oleh karena itu lihatlah sejarah sebagai pelajaran agar kedepannya lebih baik.

 

Barbara Hatley

I really enjoyed the movie and I enjoyed the discussion for bringing up other aspects. I particulary like the history that has been added, such as the difference between the portray of Kartini long ago and Kartini now, about historical such as documentation that has been discussed by Dr Joose Cote.

How Kartini as polygamy icon for Islam is also new for me. I don’t have any interest in Kartini before but I’m interested in woman issues. I hope, young generation or people nowadays also want to start digging information from google about Kartini.

 

 

Vina