SETELAH GRAND MASTER WANITA INGIN RAIH GM PRIA

Jumpa pertama BUSET dengan wanita ini berkesan singkat namun penuh dengan kejutan. Siapa yang sangka jika di usianya yang baru mau meranjak 22 tahun Irene Kharisma Sukandar sudah menyandang titel Woman Grand Master (WGM) dan menjuarai berbagai kompetisi catur internasional. Irene mendapatkan gelar ini bahkan ketika ia berusia 16 tahun.

Awal mula perkenalannya terhadap catur dimulai saat Irene kecil masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Tak bisa dipungkiri, sejak kecil kegiatan olahraga apapun sengaja ditanamkan oleh sang ayah, Singgih Januar yang ialah atlet tenis meja semasa mudanya. “Saya dulu dikenalkan dengan tenis meja dulu sebelum catur di samping kita les Inggris, les Matematika dan segalanya… juga dikenalkan dengan olahraga lari, berenang, badminton… ujung-ujungnya, nggak tau kenapa kita milihnya catur,” ceritanya ketika dijumpai BUSET di sela-sela pertandingan catur di Melbourne Chess Club (MCC), Fitzroy. Bersama sang kakak, Kaisar Jenius Hakiki, Irene mulai belajar bermain catur dan selalu merasa tertantang untuk bisa menyiasati setiap gerakan pionnya. Selang dua tahun kemudian Irene mulai serius mempelajari catur dengan mengikuti sekolah catur di Jakarta.

Kaisar dan Irene yang hanya terpaut usia dua tahun bak duo master dimana keduanya sama-sama menjadi pecatur nasional. Namun bila sang kakak yang sekarang bertitel Master Nasional (MN) lebih berfokus pada pendidikan S2-nya, Irene justru sempat menunda kelulusannya sebagai sarjana jurusan Sastra Inggris dari Universitas Gunadarma. “Harusnya akhir tahun 2013 kemarin saya wisuda cuma sengaja saya ngambil cuti… untuk turnamen dan pelatihan,” jujurnya. Keputusan tersebut dipilih karena melihat kesempatan yang jarang terjadi dimana Irene bisa mengikuti berbagai ajang bergengsi dan meraih hasil yang sangat memuaskan, sebut saja Juara Pertama pada The 5th Alexander The Great Open Championship di Chalkidiki, Yunani dan 2 medali emas pada SEA Games di Myanmar. “Satu tahun ini memang nggak sia-sia,” ucapnya seraya bersyukur.

Bicara tentang catur di Tanah Air, menjadikan permainan otak ini sebagai profesi pada kenyataannya belum bisa dijadikan jaminan kesejahteraan. Irene pun menyadari hal tersebut. Maka itu dara kelahiran Jakarta, 7 April 1992 ini memiliki strategi untuk tetap mengenyam pendidikan akademis dan meraih gelar sarjananya di akhir tahun 2014. “Saat ini di usia yang produktif untuk menelurkan prestasi ya saya pacu terus, saya kejar sampai ke titik maksimal saya, tapi di luar itu pendidikan juga tidak boleh dilupakan karena ini merupakan salah satu modal saya nanti.”

Kisah sukses Irene dilihatnya sebagai buah dari kerja keras yang tiada henti. Anak tengah dari tiga bersaudara ini bahkan menyewa pelatih dari Rusia untuk lebih mengasah keterampilannya. “Latihan itu sudah kartu mati,” tegasnya. Irene juga musti memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi di berbagai negara untuk bisa bersaing di kancah internasional. “Saya travel sendiri dari umur 14… mumpung masih muda dan belum bekeluarga travel sendiri masih mudah.” Setelah bertanding di Adelaide dan Melbourne dari Desember 2013 hingga Januari kemarin, Irene langsung bertolak ke Latvia dan Perancis untuk mengikuti kompetisi catur di sana.

Selain disiplin diri, dukungan dari keluarga dan organisasi seperti Percasi (Persatuan Catur Seluruh Indonesia) pula merupakan faktor yang sangat penting bagi Irene. Penobatan gelar WGM pun menjadi penantian lama bagi Percasi sejak berdirinya di tahun 1950. Hingga kini Irene adalah satu-satunya WGM di Indonesia.

Tahun 2008 merupakan masa yang sangat berharga dimana karir Irene meroket. Pasalnya, sejak menyandang norma yang pertama, FIDE Master (FM) pada bulan April di Indonesia, Irene berhasil menggondol norma ke-dua-nya, International Master (IM) di Malaysia pada bulan Agustus. Dan selang tiga bulan kemudian, November 2008, Irene dinobatkan norma WGM melalui Olimpiade Catur di Dresden, Jerman.

Kendati telah memiliki gelar tertinggi wanita di dunia percaturan, Irene bertekad untuk terus mengasah keterampilannya. Kini dirinya berniat untuk mendapatkan gelar Grand Master kategori pria. “Kalau di catur, secara general, putra lebih baik dari putri… wanita lebih banyak pertimbangan karena melibatkan perasaan. Walaupun kita sangkal tapi ini memang sudah kodratnya,” ujar Irene. Saat ini Irene telah menyandang norma IM kategori pria yang hanya satu tahap di bawah GM.

Dalam kehidupan sosial, Irene mengaku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dimana dirinya bisa menjadi lebih dewasa ketimbang teman-teman seusianya. “Catur mengajarkan saya untuk berpikir dulu sebelum melangkah… karena terlatih dan terlatih terus, semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk berpikir,” ujarnya.

Irene Kharisma Sukandar merupakan bukti hidup bahwa setiap usaha dan ketekunan akan membuahkan hasil yang sepadan. Dan dengan setiap langkahnya Irene membawa nama Indonesia sekaligus menjadi teladan bagi kita semua.