Baru-baru ini telah terjadi berbagai kasus kekerasan terhadap umat Muslim, terutama para wanita di Australia. Hal ini dipicu oleh beberapa kejadian yang melibatkan gerakan ekstrimis dan teroris yang mengatasnamakan Islam serta tertembaknya tersangka teroris di Victoria.

Lebih dari 30 kasus kekerasan terhadap Muslimah di berbagai lokasi telah tercatat sejak 9 Agustus hingga berita ini diturunkan pada pertengahan Oktober 2014. Selain dilakukan secara verbal, ada korban-korban yang mengalami bentuk penganiayaan lainnya, seperti diludahi dan didorong (lansiran sbs.com.au).

Para pelaku juga menyerang mesjid yang ada di Australia, salah satunya vandalisme terhadap mesjid komunitas Indonesia di Rocklea, Queensland. Grafiti yang menjatuhkan nama Islam ditulis di salah satu dinding gedung mesjid tersebut. Kabar ini tentunya sangatlah memprihatinkan dan memunculkan berbagai reaksi di tengah komunitas Muslim.

Kendati demikian, bantuan dari pihak kepolisian dan para relawan membuat keadaan menjadi lebih tenang dan terkendali. Para pelaku kekerasan pun akan dijatuhi hukuman sesuai hukum yang berlaku.

Rupanya kekerasan yang terjadi tidak hanya mengecewakan umat Muslim, namun juga masyarakat Australia yang menjunjung nilai keberagaman dan toleransi. Sebagian besar mengakui jika oknum yang melakukan hal-hal tidak bertanggungjawab seperti itu hanyalah segelintir orang yang memiliki konsepsi yang salah terhadap agama Islam.

“Perbuatan yang tidak bertanggujungjawab seperti itu bisa kita pahami sebagai bentuk kesalahpahaman terhadap Islam dan merupakan akibat dari pemberitaan media yang memang memiliki kepentingan tertentu dalam menyampaikan apa yang terjadi,” ujar Pimpinan Indonesian Muslim Community of Victoria (IMCV) Ostra Saleh menanggapi kasus kekerasan yang telah terjadi.

“Islam adalah agama damai yang mana masyarakat pemeluknya telah sekian lama tinggal dan memberikan kontribusi positif bagi Australia sehingga jumlah kasus melawan hukum yang terjadi di beberapa tempat dan melibatkan sebagian Muslim adalah sama sekali tidak mewakili Islam,” lanjut Ostra.

Senada dengan pernyataan pihak IMCV, Ivan Syahputra, Ketua Young Indonesian Muslim Students’ Association (YIMSA) mengatakan, “pada dasarnya, saya yakin bahwa tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menyakiti atau melukai orang lain. Jadi ketika ada aksi dari orang-orang yang berbuat kekerasan dengan mengatasnamakan agama, saya yakin bahwa orang-orang tersebut bukan representasi yang mewakili umat agama tersebut. Jadi saya rasa yang terjadi adalah kesalahpahaman yang diakibatkan oleh citra negatif agama Islam di kalangan kaum non-muslim Australia yang tercipta akibat aksi-aksi radikal yang mengatasnamakan Islam… Saya rasa sudah sewajarnya kita menunjukkan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa umat Muslim bukanlah umat yang penuh kekerasan dan kekejaman. Karena Muslim adalah umat yang damai, dan Islam adalah agama kedamaian.”

Ostra pula menghimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak menjadi reaktif; bila sesuatu terjadi jangan diselesaikan sendiri, melainkan melalui jalur hukum yang legal.

Oleh karena perbuatan segelintir manusia, citra agama Islam menjadi buruk di mata banyak orang. Karena itulah sudah menjadi tugas bagi seluruh masyarakat Indonesia yang mengerti keindahan dan kedamaian dari Islam untuk mengubah pandangan tersebut.

gaby