Dilihat dari nama apalagi parasnya, tidak dapat ditebak bahwa ada kecintaan terdalamnya untuk Indonesia. Itulah Iven Manning, seorang pemuda berkewarganegaraan Australia yang mengemban pendidikan perguruan tingginya dalam jurusan Indonesian and Linguistics di University of Western Australia.

Iven adalah penerima beasiswa New Colombo Plan. Selama 18 bulan, ia tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasanya, akan tetapi ikut terjun langsung ke ranah budaya yang ada di Yogyakarta, Jakarta dan NTT. Mengisap rokok kretek bekas, belajar Bahasa Jawa, merupakan beberapa pengalaman menarik yang ia cicipi sepanjang studinya di Tanah Air.

Awalnya, pria berusia 27 tahun ini mulai diperkenalkan Bahasa Indonesia saat berada di bangku sekolah dasar. Namun, Iven pun melupakannya karena bobot pelajaran yang tidak terlalu sulit. Bangku kuliah menjadi titik kembalinya untuk belajar Bahasa Indonesia “dari nol”.

“Karena kami di Australia besar dengan hanya satu bahasa dan menurut saya itu rugi, jadi makin lama saya makin tertarik dengan belajar bahasa asing,” jawabnya. Menurutnya, belajar Bahasa Indonesia adalah keputusan yang masuk akal karena Indonesia merupakan tetangga Australia. Selain itu, tingkat kesulitan yang lebih mudah dibandingkan bahasa Mandarin dan Jepang, juga meningkatkan minat Iven mempelajari bahasa ini. “Semakin lama belajar, makin cinta dengan Bahasa Indonesia,” katanya.

Saat ditanyakan tentang kata favoritnya, Iven pun melontarkan kata ‘joss’, dalam Bahasa Jawa yang artinya mantap atau sesuatu yang bagus. “Pokoknya joss!” sahutnya dengan senyuman.

Pengalamannya di Indonesia selain menerima kesempatan belajar langsung di universitas di Jogja adalah kegiatan magang di NTT, yang meninggalkan kesan tertentu bagi dirinya. Bersama dengan organisasi bernama Eastern Indonesia Aid, Iven terjun langsung dalam bidang perkembangan masyarakat yang ada di daerah tersebut. Sepulang dari NTT, ia pun menyimpan sebuah kain ikat yang meninggalkan kesan pribadinya. Kain ikat ini adalah hasil pembeliannya saat bekerja sama dengan kelompok ‘Ikat Tenun’ di kampung dekat Maumere. “Kalau memakai itu, rasanya seperti dipeluk oleh mama-mama di sana,” kenangnya. Saat mengenakan kain itu, ia pun teringat akan kenangan indah yang telah ia jalani di sana.

Pengalaman Iven mengecap langsung budaya Indonesia selama di Tanah Air juga mendukungnya menjadi pemenang Wild Card Awardee NAILA 2018 (National Australia Indonesia Language Awards). NAILA adalah sebuah ajang kompetisi berbahasa Indonesia yang diadakan di Australia setiap tahun. Selain itu, Iven menganggap bahwa NAILA telah memberi kesempatan lebih luas bagi orang Indonesia dan Australia untuk mengenalkan pendidikan Bahasa Indonesia di Australia. Baginya, NAILA merupakan wadah penting yang menjadi focal point untuk pelajar Bahasa Indonesia di Australia. “Yang paling bagus itu kesempatan untuk membangkitkan Bahasa Indonesianya,” komentarnya.

Bagi yang ingin mengikuti kegiatan Naila, silakan ikuti media sosialnya:
Facebook: AIYANAILA
YouTube: NAILAorgAus
Twitter: @AIYA_NAILA

Adisa
Foto: Naila