Jane Ahlstrand, wanita kelahiran 9 Desember 1982 asal Queensland ini tidak pernah menyangka bahwa liburan luar negeri pertamanya ke Bali pada tahun 1998 akan menjadi titik awal kecintaannya pada bahasa dan budaya Indonesia yang kini tak dapat dipisahkan dari dirinya. Saat ini Jane sudah fasih berbicara dalam Bahasa Indonesia, terbukti dengan kemenangannya sebagai penerima penghargaan kategori Wild Card dalam kompetisi pidato Bahasa Indonesia, National Australia Indonesia Language Awards 2015. Jane juga sedang menyelesaikan studi S3 di bidang Studi Indonesia di University of Queensland dengan dukungan beasiswa Australia Post Graduate Award dan aktif menjadi guru tari Bali untuk masyarakat Queensland.

Awal Belajar Bahasa Indonesia

Jane sebenarnya sudah mulai belajar Bahasa Indonesia pada tahun 1993, tepatnya pada saat ia masih duduk di kelas 6 SD. “Namun waktu itu saya belum menyadari betapa pentingnya Bahasa Indonesia bagi masa depan saya. Ya, saya bisa dibilang murid bandel yang lebih suka bermain-main atau coret-coret di meja daripada mendengar instruksi guru bahasa saya,” jelasnya.

 Mendalami pengetahuan akan Indonesia melalui jenjang pendidikan S3 di University of Queensland

Mendalami pengetahuan akan Indonesia melalui jenjang pendidikan S3 di University of Queensland

Perjalanan ke Bali pada tahun 1998 itulah yang meninggalkan kesan berarti untuk dirinya. Jane mengaku bahwa liburannya ke Bali telah berhasil membuka pandangannya bahwa ada dunia yang besar di luar kampung kecilnya, Toogoolawah, yang terletak di sebelah tenggara Queensland. Sekembalinya dari Bali, Jane pun menjadi semakin gencar mempelajari Bahasa Indonesia. “Tanpa ragu saya mencari buku les Bahasa Indonesia dari perpustakaan dan mulai belajar sendiri di rumah dengan menghafal kosakata baru, berjuang memahami teka-teki tata bahasa, dan juga melalui surat-menyurat dengan pen pal (sahabat pena) yang saya cari dari internet. Dalam satu tahun saya berhasil menguasai dasar-dasar Bahasa Indonesia. Saya masuk kuliah pada tahun 2000 dan tentu saja ambil jurusan Bahasa Indonesia,” paparnya.

Jane dan Tari Bali

Jane tidak pernah menyangka bahwa ketekunannya dalam mempelajari Bahasa Indonesia akan membuka berbagai kesempatan lain yang baik baginya, bahkan sampai mengubah alur hidupnya. Sebenarnya setelah lulus kuliah S1, Jane mengaku bahwa ia menjalani kehidupan yang sangat biasa sebagai seorang pegawai negeri Australia. Saat itu dirinya yang merasa kurang puas dengan kehidupan seorang pegawai yang harus “terkurung” di kantor dari Senin hingga Jumat pun akhirnya berusaha untuk mencari “jalan keluar”.

Akhirnya Jane memutuskan untuk mendaftarkan dirinya dalam Program Beasiswa Darmasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia untuk mempelajari bahasa dan seni budaya Indonesia secara langsung dan sukses mendapatkan beasiswa ini pada tahun 2011. Jane sangat bersyukur karena ia berhasil memperoleh kesempatan belajar di kampus pilihan pertamanya yakni Institut Seni Indonesia di Denpasar.

“Di sana saya mulai mengenal dunia tari Bali dan menjadi akrab dengan beberapa tokoh seniman di Bali. Saya juga daftar di sanggar tari tradisional di salah satu desa di luar kota Denpasar dan mulai belajar menari secara ‘organik’ bersama anak-anak Bali. Dengan bergaul bersama seniman Bali dan anak-anak dari desa itu, saya benar-benar jatuh hati pada dunia tari Bali. Walaupun saya orang asing, saya berjanji sama diri sendiri, ‘Jane, kamu harus bisa!’,” jelasnya dengan bersemangat.

Tentu proses belajar tari Bali tidak semulus yang Jane kira. Jane mengaku bahwa ia sempat merasa minder saat berlatih menari bersama anak-anak Bali yang bergerak secara lincah dibandingkan dengan dirinya yang masih memiliki gerakan tubuh dan ekspresi wajah yang kaku. Terlebih lagi, ia juga sempat kesulitan menyesuaikan diri dengan suara gamelan yang mengirinya saat menari Bali. “Awal-awal, suara gamelan seperti musik semerawut dan saya gagal terus menangkap hitungan atau sinyalnya, tetapi lama-lama saya mulai mengerti dan mengapresiasi ciri khas musik Bali,” ujarnya.

“Satu persoalan lagi yang membuat saya selalu prihatin adalah kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dalam bentuk cultural appropriation. Ada yang sempat bertanya, ‘kenapa harus bule?’ Saya masih ingat waktu diajak naik panggung di salah satu lomba menari di Gianyar, saya diperingatkan oleh MC, ‘jangan meng-klaim budaya kami!’ Ya, dengan muka yang kerap dibilang ‘bule banget,’ saya tidak mampu meniru penari Bali apa lagi berhasil mengklaim budaya orang lain. Malahan, saya mengharapkan keindahan tari Bali dapat diapresiasi oleh semakin banyak orang dari berbagai negara. Daripada menjadi turis yang hanya dapat menonton dari luar saja, lebih bagus lagi kalau kita dapat mengalami seni budaya secara keseluruhan, secara ikhlas.”

Akan tetapi, Jane tidak pernah menyesali keputusannya mempelajari tari Bali. Jane tetap gigih berlatih dan memperbaiki gerakan serta ekspresi wajahnya hingga ia berhasil mendapatkan kepercayaan untuk menarikan tarian penyambutan di Pesta Kesenian Bali, sebuah agenda rutin Pemerintah Provinsi Bali untuk mempromosikan dan melestarikan budaya Bali, pada tahun 2013. “Ibu saya terbang ke Bali untuk mendukung saya. Berkat dukungan ibu, saya bisa berhasil,” tambah Jane.

Proses Pembelajaran Menjadi Seorang Guru Tari

Sekembalinya dari Indonesia, Jane pun memutuskan untuk mengajarkan tari Bali kepada masyarakat di Queensland di sela-sela kesibukkannya menyelasaikan studi S3. Memang, mengajarkan tari Bali tidak selalu gampang dan lancar. “Salah satu tantangan besar adalah mencari tempat yang nyaman dan kondusif. Dulu, kami menari di luar di depan kaca gedung, di atas tanah berbatu. Aduh sakitnya! Tetapi tahun lalu akhirnya saya berhasil mencari tempat di gedung Multi Faith di kampus. Wow! Ada AC dan karpet. Enak sekali. Merasa sangat bersyukur karena tidak harus menderita lagi,” jelasnya.

Wanita yang memiliki target untuk menadi dosen setelah lulus kuliah ini juga mengaku sangat senang ketika ada banyak orang yang tertarik dan setia mempelajari tari Bali bersamanya selama lebih dari setahun sejak ia memulai kelas menari ini. Ia juga mengaku merasa sangat puas melihat murid-muridnya membawa tari Bali dengan bersemangat.

“Jangan malu-malu karena perasaan malu itu justru akan merugikan Anda sendiri. Dan kalau ingin belajar sesuatu jangan setengah-setengah . Kalau ingin bisa berenang, harus berani ‘nyemplung.’,” ujar Jane akan prinsipnya dalam mempelajari Bahasa Indonesia dan tari Bali.

Bersama sang bunda
Bersama sang bunda
Jane belajar menari Bali
Jane belajar menari Bali
Jane menari bersama anak-anak di Bali
Jane menari bersama anak-anak di Bali

Myang
Foto: dok. pribadi