Kabinet Baru PPI Australia Canangkan Gerakan 3B

Nama Lengkap:   
Muhammad Fathahillah Zuhri
Tempat, tgl lahir:  
Lhokseumawe, 13 Oktober 1992
Pendidikan:        
S1 Teknik Fisika ITB, sedang melanjutkan studi Master of Energy Change di ANU
Hobi:  
Membaca, menggambar, dan sedang belajar memasak
Makanan favorit:
Yang pedas-pedas

 

Memasuki tahun ajaran baru, tak hanya mahasiswa saja yang bersiap untuk kembali masuk universitas, beberapa organisasi pun melakukan seleksi dan berganti kepengurusan. Salah satunya adalah kepengurusan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Australia. Baru-baru ini telah digelar pemilihan kepengurusan yang baru, dan terpilihlah Muhammad Fathahillah Zuhri, sebagai ketua PPI Australia periode 2016/2017!

Menggantikan Mutiasari Mubyl Handaling, yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua PPI Australia 2015/2016, Fatah, begitu panggilannya, terharu bisa meraih amanah tersebut. “Perasaannya terharu sekaligus gelisah. Terharu karena melihat dan merasakan sendiri dukungan penuh dari keluarga PPIA ACT, juga dukungan dan kepercayaan teman-teman delegasi kongres yang padahal baru bertatap muka secara langsung hanya beberapa hari saat acara. Gelisah karena saya sadar ini bukan amanah yang ringan. Makanya saat terpilih, saya sampaikan kepada teman-teman “mohon doa dan dukungannya.” Ucapan selamat tahun depan saja saat LPJ, saya baru menerima tanggungjawab, belum melaksanakan tanggungjawab dan belum menjadi orang yang bertanggungjawab,” tutur Fatah. Ia pun mengaku baru tinggal selama 6 bulan di Canberra, dan ini merupakan kali pertama ia berada di PPIA pusat. “Makanya, aku benar-benar minta bantuan dari seluruh elemen PPIA, tidak peduli pusat, cabang, maupun daerah, untuk bisa bekerjasama dan bersinergi,” serunya.

Tak tanggung-tanggung, pria kelahiran Lhokseumawe, 24 tahun yang lalu ini pun berbagi tentang visi dan misi apa yang ia punya kedepannya terhadap PPI Australia. “Saya ingin membentuk PPIA yang solid, dekat dengan sesama PPIA sambil terus mengembangkan keunikan dan potensi tiap cabang dan ranting masing-masing. Visi saya adalah 3B: bersama-sama, berjuang dan bersenang-senang. Untuk misi ‘bersama’ berarti lebih peka terhadap kebutuhan internal PPIA, serta bersama membentuk struktur organisasi yang lebih cair dan dinamis.

PROFIL BUSET - KETUA PPIAuBerjuang berartikan mendirikan portal informasi terpusat untuk memfasilitasi pelajar yang ingin melanjutkan studi di Australia, memfasilitasi kampus yang jumlah pelajarnya terlalu kecil untuk bergabung dengan PPIA ranting yang sudah ada atau membuat ranting baru yang terdiri dari beberapa kampus. Dan juga membuat PPIA youth untuk pelajar SD sampai dengan SMA di daerah yang populasinya besar. Terakhir, bersenang-senang mengartikan bahwa membangun keakraban dengan berbagai program lintas ppia cabang dan ranting agar semakin akrab,” jelas Fatah.

Fatah sendiri mengaku bahwa ia ingin PPIA lebih mengikuti perkembangan jaman dan peka terhadap situasi sosial dan kemajuan teknologi informasi saat ini. “Saya ingin agar PPIA cabang dan ranting lebih aktif di dunia maya dan manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak orang. Terkadang, perubahan paling nyata bergerak dari dunia maya. Contohnya, radio PPIA, walau memiliki nilai historis, sudah kurang relevan, karena banyak orang yang sudah meninggalkan radio. Saya ingin, agar materi radio PPIA didokumentasikan dengan video, baik rekaman maupun live streaming, agar gampang ditonton dan dibagikan orang-orang melalui media sosial seperti Facebook,” jawab Fatah.

Bagi dirinya, PPIA pusat sudah cukup untuk dikategorikan sebagai solid. Hanya saja perlu beberapa perbakaikan seperti koordinasi dengan PPIA cabang dan ranting yang sulit dikarenakan persebaran geografis yang sangat luas. “Harapan utamaku koordinasi dan komunikasi antara pusat, cabang, dan ranting semakin baik dan kegiatan antar cabang/ranting semakin banyak agar bisa saling mengenal dengan lebih baik. Apalagi semakin aku mengenal berbagai anggota PPIA dari berbagai cabang saat kongres, ternyata semuanya orang-orang luar biasa yang bersinar dengan caranya sendiri-sendiri. Sangat disayangkan jika mereka tidak bisa berkolaborasi karena masalah jarak, padahal sekarang sudah era informasi,” tutupnya.

Selamat berjuang Fatah!

 

 

Alifia