Indonesia kini mulai memperhatikan tentang buruknya penggunaan kantong plastik yang tidak mudah hancur. Sejak akhir Februari kemarin masyarakat diharuskan membawa tas belanja sendiri apabila ingin berbelanja ke supermarket. Jika tidak, maka akan dikenakan biaya per kantong plastik.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari dijadikan momentum untuk melaksanakan program Diet Plastik ini. Walau belum semua wilayah di Indonesia memberlakukannya namun beberapa kota besar seperti DKI Jakarta, Bandung, Bekasi, Bogor, Depok, Denpasar, Tangerang, Solo, Semarang, Surabaya, Palembang, Medan Balikpapan, Banjarmasin, Makasar, Jayapura dan Ambon sudah menerapkan.

Di ibu kota, pasar modern saat ini menarik biaya sebesar 200 rupiah untuk setiap kantong plastik. Sedangkan Walikota Bandung Ridwan Kamil menyatakan pihaknya memiliki rencana yang lebih ekstrim, yakni dengan sama sekali melarang penggunaan kantong plastik. Sedangkan Gurbernur DKI Basuki T Purnama (Ahok) berencana untuk menaikkan biaya kantong plastik di angka Rp 5,000 untuk pasar modern dan Rp 500 untuk pasar tradisional yang nantinya akan diatur dalam Pergub yang dikeluarkan dalam waktu dekat. Hal ini serta merta mengundang pertanyaan dari pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengenai kejelasan penggunaan biaya yang ditarik untuk setiap kantong plastik itu. Disinyalir, kebanyakan penduduk masih akan memilih membayar harga Rp 200 per plastik. Jika demikian, lantas pemasukan ekstra ini apakah dapat digunakan untuk memperbaiki lingkungan atau justru malah semakin memperkaya golongan tertentu saja.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) juga mempertanyakan alasan mengapa DKI merencanakan harga jual kantong plastik yang jauh di atas harga minimum Rp 200 seperti yang sudah ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Memang, sudah saatnya masyarakat disadarkan akan pentingnya pelestarian lingkungan untuk kehidupan bersama. Kabarnya, Indonesia merupakan negara yang banyak membuang plastik ke laut ke-dua setelah Tiongkok.