Setiap tanggal 21 April kita merayakan Hari Kartini, seorang Pahlawan Nasional RI yang memperjuangkan kesamarataan hak antara wanita dan pria melalui jalan edukasi. Hambatan dari tradisi dan budaya tidak pernah menghentikan Raden Ajeng Kartini untuk terus belajar dan berkarya.

Kini kebebasan dan keadilan bagi kaum wanita Indonesia telah jauh berkembang jika dibandingan dengan jamannya. Kaum wanita pun dapat berkarya di dunia ini dengan kemampuan dan menurut cita-cita setiap individu.

Di antara banyaknya wanita yang sukses di bidangnya masing-masing, BUSET sempat mewawancarai 3 wanita yang menjalani karir di Victoria dengan penuh keberanian dan kemandirian.

Baru berusia 24 tahun, Vania Clarissa Soegianto berhasil mendirikan Ayam Penyet Ria di Melbourne dengan beberapa partnernya Mei tahun lalu. Rupanya ide untuk membuka restoran sudah ada sejak lama walaupun dirinya tidak memiliki background yang berhubungan dengan kulinari. Oleh sebab itu wanita lulusan Monash University jurusan Banking and Finance ini bersyukur karena telah berhasil menemukan partner bisnis yang sudah biasa berkecimpung di bidang restoran.

Namun rupanya selain harus mengurusi restorannya itu, Vania juga bekerja di kantor project audit retail yang juga memakan banyak waktunya. Kesibukannya memang bisa membuat rasa stres muncul, tetapi bagi anak perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara ini, pergantian suasana sangatlah penting bagi dirinya. “Aku ga bisa stuck di satu tempat, misalnya terus-terusan bekerja di kantor saja atau di restoran saja,” ujar Vania mengungkapkan rasa senangnya bisa bekerja di dua tempat dengan bidang yang berbeda.

Saat ini Vania belum memiliki keinginan untuk kembali ke Indonesia karena menurutnya lebih banyak kebebasan tinggal di Negeri Kangguru. Kebebasan ini juga berlaku di dunia bisnisnya sebab jika sedang berada di kampong halaman, Vania merasa campur tangan dari keluarga tidak bisa dielakkan. Kendatipun, kecintaannya terhadap Tanah Air tetap terpancar dengan mempromosikan budaya melalui menu makanan Ayam Penyet Ria.

Untuk kedepannya wanita Aquarius ini memiliki harapan besar untuk mengembangkan Ayam Penyet Ria agar bisa dinikmati di seluruh Australia.

Wanita dengan berbagai kesibukan ini merupakan seorang akuntan di perusahan public practice accountant ternama di Melbourne, dan juga merupakan istri dari pemilik perusahaan jasa fotografi Unikblue. Klara telah menjadi permanent resident di Australia sejak 1998 oleh karena dampak krisis yang sedang terjadi di Indonesia dan mulai bekeluarga di tahun 2002.

Karena hari-harinya yang padat, Klara selalu mencoba untuk membagi dan mengatur waktunya dengan baik. Ibu dari Christopher Kayden Sutedja yang baru menginjak usia 22 bulan ini mengaku selalu belajar untuk memprioritaskan hal-hal yang penting dalam aktivitasnya sehari-hari. “Aku harus bisa memprioritaskan mana yang harus dilakukan duluan walau terkadang itu memang sulit, dan bahkan ada sesuatu yang harus dilakukan secara bersamaan,” jelasnya. Di lain pihak, ada pula pengorbanan yang harus dilakukan seperti mengorbankan waktu untuk memanjakan dirinya ke salon atau bahkan sekedar untuk membaca buku.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, Klara masih mampu menjalani aktivitasnya dengan penuh senyum. Rahasianya rupanya adalah sense of humor. Wanita yang telah berhasil menyelesaikan program CPA dalam bidangnya ini merasa bahwa seberapa besarpun usaha untuk merencanakan sesuatu, hal-hal tak terduga masih bisa tetap terjadi dan tidak ada yang bisa kita lakukan selain tersenyum dan melihat semuanya dari sisi positif.

Untuk bisa bekerja di bagian sales dalam bisnis real estate memang tidak mudah. Natalia Susanti yang ialah alumni Swinburne University sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa menduduki jabatannya sekarang ini di MICM. “Dulu mulainya dari kasih brochure, terus dapat kesempatan di rental department terus masuk ke marketing dan finance sebelum akhirnya ke sale,” jelasnya menceritakan perjuangan di tempat kerjanya. Setidaknya tidak ada diskriminasi gender di bidangnya bekerja. “Asalkan memiliki skill yang memadai, maka akan ada kesempatan yang terbuka.”

Memang tidak ada alasan khusus mengapa wanita dari tiga bersaudara ini terjun ke dunia real estate, namun ia cukup merasa enjoy dengan pekerjaan yang dilakukannya.

Kedepannya, Natalia yang sejak kecil sudah terbiasa hidup mandiri jauh dari orangtua memiliki harapan untuk menjalankan sebuah bisnis di bidang baru. Sayangnya, kesempatan ini belum juga hadir, terutama saat mempertimbangkan kondisi ekonomi di Australia sekarang ini. Jika ada kesempatan bisnis yang baik di Indonesia, wanita yang belum bekeluarga ini pun tidak enggan untuk kembali ke Tanah Air dan memulai karirnya kembali di sana.