Tepat pada Sabtu, 26 Agustus, komunitas karismatik pemuda dan pemudi Katolik di Western Australia, yang tergabung dalam organisasi Turrist Orationist Ministry (TOM), mengadakan Kebangunan Rohani Katolik (KRK) 2017 yang bertemakan “Infinite Glory”.

“Banyak orang berpikir kalau kemuliaan Tuhan itu cuma dilihat pada acara-acara tertentu, seperti Misa, Persekutuan Doa, acara-acara keagamaan. Di dalam “Infinite Glory” ini kita juga mau push bahwa kemuliaan Tuhan tidak sebatas itu, tetapi juga di dalam keseharian kita,” jawab Michael Endang, Ketua Panitia KRK saat ditanya alasan dibalik pemilihan tema. “KRK itu sendiri adalah sebuah acara untuk menjangkau orang yang mungkin tidak terlalu aktif di dalam Gereja dan belum mengenal Tuhan, tapi gimana caranya mereka itu bisa merasakan kasih Tuhan,” Michael lanjut menjelaskan. Michael sendiri sudah aktif di TOM selama sekitar 17 tahun, dan baginya iman Katolik itu universal, jadi tidak hanya dikembangkan di dalam Gereja tapi juga di luar Gereja.

KRK dibuka dengan sebuah video, pujian-pujian dan tarian-tarian oleh tim musik dan tari acara, kemudian dilanjutkan oleh kesaksian dari seorang penyanyi rohani, Jeffry S. Chandra. Sedangkan penyampaian firman dibawakan Jane Hanjaya dari Komunitas HSM (Heman Salvation Ministry) Surabaya.

“Awalnya, kita ada beberapa nama untuk speaker pembawa firman. Setelah berdiskusi dengan panitia, doa, dan puasa, kita memutuskan untuk go with Tante Jane karena memang kita mau menekankan bahwa kemuliaan Tuhan bisa melalui pujian penyembahan juga, dan Tante Jane bergerak di bidang pujian penyembahan, Sama juga halnya untuk Jeffry,” papar Michael.

Jeffry tak sungkan bercerita mengenai kisah hidupnya dan bagaimana ia percaya bahwa Tuhan sudah memilihnya untuk berkarya dan melayani melalui bernyanyi. Setelah 20 tahun pelayanan, Jeffry sudah merampungkan 46 album rohani yang ia percaya merupakan berkat kemuliaan Tuhan. Tidak dipungkiri, di dalam perjalanannya sebagai penyanyi rohani, banyak tantangan dan rintangan yang dihadapi, seperti keraguan dan cemooh banyak orang. “Backing vokal saya akhirnya mengakui bahwa mereka menertawakan saya setelah sesi rekaman,” cerita Jeffry. Jeffry juga tak malu mengakui teknik bernyanyi yang ia gunakan tidak benar sehingga menyebabkan suaranya cepat serak saat bernyanyi. Tapi Jeffry percaya bahwa Tuhan memilih dirinya yang penuh ketidaksempurnaan untuk melayani sebagai peringatan jika orang-orang yang berkekurangan pun bisa memuliakan Tuhan.

Hal ini seakan dikonfirmasi melalui pemberitaan firman oleh Ibu Jane yang mengatakan kemuliaan Tuhan diperoleh tidak dengan cuma-cuma. Kita sebagai umat manusia harus bisa merendahkan hati dan taat pada perintah-perintah Tuhan untuk mendapat kemuliaanNya. Sebagai gantinya, Tuhan akan memberikan berkat, perlindungan, dan kebahagiaan yang melimpah kepada kita yang mau percaya, menaati dan melakukan perintah dan ajaranNya.

Sebelum penutupan KRK, Jane memimpin doa pencurahan roh kudus bersama tim doa yang telah disiapkan panitia.  Peserta yang ingin dan terpanggil untuk didoakan lalu diundang maju ke area depan panggung. “Rasanya seperti lega setelah didoakan. Seperti semua dosa dan beban yang ada di hati yang lama hilang,” cerita salah seorang jemaat yang jatuh saat didoakan.

Sebelumnya, TOM sempat mengadakan KRK bertajuk “Miracle Possible” pada tahun 2013. Banyak mukjizat yang terjadi dimana salah satunya adalah seorang peserta yang datang menggunakan alat bantu pendengaran namun pulang tanpa menggunakan alat tersebut. Saat ditanya bagaimana panitia menanggapi komentar peserta yang skeptis akan acara KRK ini, dengan santai Michael menjawab bahwa hal itu tidak masalah. “Pengalaman sama Tuhan itu tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksa. Iman itu kita tidak paksa dan iman itu buat aku adalah pengalaman. Kalau kita mengalami Tuhan, kita mengalami bagaimana dicintai Tuhan, itu yang bisa mengubah orang. Mangkanya kenapa di KRK ini kita banyak berdoa supaya orang-orang ini bisa membuka hati dan ngalamin Tuhan,” jelas Michael.

Secara keseluruhan, acara yang diselenggarakan di salah satu auditorium Mt Pleasant College, Booragoon, Western Australia berlangsung khusyuk dan khidmat.

 

 

 

 

Thelia