OPINI

PBB mengatakan: “ It has come out at a price that is almost too much to bear”.

‘Gajah yang berantem, semut yang mati’. Mungkin kalimat ini dapat mendeskripsikan peristiwa tiga perang besar dalam abad ke-20 dan 21 yang sudah dialami umat manusia dan tercatat dengan ‘tinta darah’ karena selalu mengorbankan rakyat yang tidak berdosa.

Apa yang terjadi di Gaza beberapa minggu terakhir betul-betul menyayat dan memilukan hati, terlebih lagi ketika melihat judul artikel pada surat kabar The New York TimesAir Strike Near UN School Kill 10” (4/8/14). Sekali mungkin bisa dikatakan suatu kesalahan, tapi bila 3 kali sekolah dijadikan sasaran, apakah bisa dikatakan kebetulan?

Ketegangan ini akhirnya mereda setelah gencatan senjata 72 jam dipelopori oleh Mesir. Namun sampai artikel ini ditulis sudah lebih dari 1865 orang sipil yang tewas dan 500 diantaranya adalah anak-anak. Di pihak Israel tercatat 87 tentara dan 3 orang sipil. Disinyalir perang kali ini bermula dari 3 anak muda Israel yang diculik dan dibunuh. Penculikan lalu dilanjutkan lagi-lagi terhadap warga Palestina yang juga dibunuh kemudian dibakar.

Alhasil, setelah tiga minggu terlambat akhirnya setengah juta anak Palestina kembali bersekolah. Kendatipun, PBB memperkirakan 373,000 anak memerlukan konsultasi psikologis, 24 sekolah hancur dan 190 rusak.

Suatu saat penulis tinggal bersama 8 orang di sebuah rumah tua (shared-house) di North Caulfield. Salah seorang dari mereka adalah wanita Israel yang pernah berdinas di Angkatan Darat Israel. Penulis bertanya apakah ada kemungkinan kedua kelompok masyarakat – Israel dan Palestina – hidup damai berdampingan seperti sebelum 1948. “I’m not saying impossible but nearly impossible because the hatred is so deep,” begitu jawabnya.

Penulis juga memiliki teman orang Palestina. Kakeknya tinggal di sebuah rumah di Haifa, rumah ini lalu diturunkan ke orangtuanya. Namun ketika Negeri Israel terbentuk pada 1948, orang Yahudi yang berpaham Zionis dari Jerman datang ke Palestina dan mengusir keluarganya dengan alasan seturut undang-undang tanah tersebut milik Israel. Konflik memperebutkan tanah yang sama belum juga selesai hingga jaman sekarang.

Lantas apakah tidak ada jalan keluar? Analoginya seperti benang kusut, memang belum kelihatan dua ujung benang, kita sebagai penonton harus tetap sabar sebab pada akhirnya yang akan memecahkan masalah adalah si pemain sendiri. Gagasan perdamaian mungkin sudah ratusan kali, kalau bukan ribuan diajukan berbagai negara lainnya. Juga ada golongan ‘refusnik’ yaitu anggota tentara Israel sendiri yang tidak tahan melihat cara-cara Israel memperlakukan rakyat Palestina yang bertentangan dengan hati nurani mereka.

Gerakan perdamaian di Israel dan Palestina yang dipelopori anak-anak muda masing-masing bangsa tak dipungkiri telah bermunculan. Jadi bisa dikatakan banyak yang menyadari bahwa ‘perdamaian tidak bisa didapat dengan kekerasan’.

Yitzhak Rabin, Perdana Menteri Israel yang juga ialah mantan seorang jenderal bahkan pernah mengambil inisiatif untuk berdamai dengan Palestina. Sayang, beliau akhirnya ditembak seorang fanatik Israel.

Terciptanya negara Palestina yang diimpikan rakyatnya selama lebih dari setengah abad mudah-mudahan tercapai setelah pemungutan suara Parlemen Inggris menyatakan 274 mendukung dan hanya 12 menentang. Sementara itu negara pertama anggota Uni Eropa yang mengakui Palestina sebagai sebuah negara merdeka adalah Swedia.


anton alimin
google/youtube: jembatan poetry society
[email protected]