富不过三代 merupakan salah satu ungkapan Tiongkok yang mungkin bisa juga dianggap sebagai “kutukan.” Ungkapan serupa kita jumpai pula di Amerika Serikat yang bunyinya “shirtsleeves to shirtsleeves in three generations.” Orang Italia lain lagi versinya, “from the stables to the stars to the stables in three generations,” sedangkan di Inggris dibilangnya “clogs to clogs in three generations.”

Fu bu guo san dai, harta/kekayaan/bisnis tidak akan melewati/bertahan dari tiga generasi. Kedengarannya miris tapi faktanya memang rata-rata begitulah adanya. Mengapa bisa demikian? Benarkah “kutukan” tadi eksis?

Bermacam-macam analisa dan penjelasan telah disampaikan oleh pakar manajemen, keuangan dan ekonomi. Ada yang mendeskripsikan generasi pertama di tahun nol sebagai tahap penciptaan kekayaan. Generasi kedua di tahun 45 sebagai periode preservasi kekayaan. Generasi ketiga pada tahun ke 75 adalah periode penghancuran/menghabiskan kekayaan. Teori lain menjelaskan bahwa generasi pertama mempraktekan prinsip keuletan dan kerja keras. Generasi kedua masih bisa melihat prinsip kerja keras dan kegigihan. Generasi ketiga sudah lupa akan prinsip-prinsip tadi. Makanya usaha/kekayaan yang dibangun oleh sang kakek dan dipertahankan oleh sang ayah pun jadi habis.

Ahli lain menjelaskan karena faktor psikologis yang tidak “mempercayai” orang luar. Orang luar di sini maksudnya yang tidak ada pertalian darah. Jadi meski keturunannya kurang atau tidak kompeten, tetap saja dipaksakan untuk menjalankan bisnis. Tidak diberikan ke tenaga profesional yang jauh lebih kompeten dengan alasan “orang luar.”

Ada lagi penjelasan yang mengaitkan dengan “boomerang” pendidikan. Sebagai masyarakat yang menomorsatukan pendidikan, kita selalu mati-matian mengusahakan pendidikan anak. Segala cara akan kita lakukan agar anak mendapatkan pendidikan terbaik, bahkan bagi keluarga yang kurang mampu sekalipun. Via perbaikan pendidikan, status sosial bisa ditingkatkan, kesempatan pun bisa lebih luas. Secara general, pendidikan ala Barat lah yang menjadi kiblat. Setelah anak dikirim ke luar negeri untuk mendapatkan gelar, maka kecenderungannya akan menjadi profesional di berbagai perusahaan di manca negara, bahkan ada juga yang tidak mau pulang. Ada pula yang menganggap menjalankan bisnis keluarga terlalu “kecil” untuk tingkat pendidikannya. Ini biasanya kalau bisnisnya level menengah ke bawah. Bagi yang usaha orang tuanya menengah keatas pun bukan berarti pasti akan manut. Mereka (sang anak) menganggap akan gengsi/malu kalau “kerja” buat sang orang tua. Maka akhirnya mereka mencari kerja di perusahaan lain. Ada pula yang bidang pendidikannya beda jalur dengan jenis bisnis orang tua, jadi tidak “cocok.” Dan aneka alasan lainnya yang menyebabkan generasi kedua tidak menjalankan usaha generasi pertama.

Ada juga kasus dimana memang justru sang orang tua nya yang dengan sadar mengarahkan sang anak untuk tidak “mengikuti” bidang bisnisnya yang meletihkan. Biasanya alasannya agar si anak tidak perlu “susah dan capek,” “tak perlu di lingkungan yang kotor,” dan beragam alasan lainnya.

Masih berbagai teori dan penjelasan lainnya mengenai ungkapan (dan “kutukan”) 富不过三代. Tapi kebanyakan melihatnya dari faktor Ren. Yang sering luput dicermati ialah faktor Tian. Maksudnya perbedaan SWOT (Strengths Weaknesses, Threats and Opportunities) antar generasi. Berdasarkan analisa ba zi, sang kakek cocok bisnis A belum tentu sang anak, apalagi sang cucu, juga klop. Memang dengan dari kecil “kena radiasi” dan bergumul di lingkungan jalur bisnis sang orang tua bisa membantu menimbulkan minat. Tapi tidak jaminan/lantas maka sang generasi berikutnya juga akan hoki dan maju dalam bidang bisnis tersebut. Kalau ba zi-nya tidak cocok, maka hasilnya pun tak akan banyak berbuah, alias tak akan bisa coan (untung).

Tak jarang saya jumpai, si anak atau cucu sebenarnya cukup memiliki keterampilan untuk menjalankan usahanya. Juga punya minat dan mau coba. Tetapi karena faktor tidak sesuai/bertentangan dengan ba zi maka akhirnya selalu saja ada problem yang menghadang kelancaran usahanya. Biasanya si kakek atau ayah mengeluh kenapa sang anak atau cucu “payah?” Sudah dikuliahkan di luar negeri eh malah ga becus/kompeten menjalankan bisnisnya? Sang kakek/ayah kecewa, sang anak/cucu juga merasa tertekan. Padahal biang keroknya adanya di faktor ketidakcocokan antara bidang bisnis dengan ba zi. Ini yang sering luput dari radar. Ini yang masih banyak tidak diketahui.

Bukan hanya bidang bisnis, di profesi dan aktivitas lain pun sama. Kalau bukan “tulang” nya di situ maka segimana banting tulang, segimana keringetan dari ubun-ubun sampai telapak kaki atau mandi darah sekalipun, maka hasilnya tak akan maksimal. Inilah gunannya kita memposisikan dan menyesuaikan diri (termasuk berkarir/berprofesi/berbisnis) dengan ba zi.

Tanpa itu maka bukan tak mungkin kita juga akan terkena kutukan 富不过三代 atau bahkan lebih parah, 富不过二代, tidak akan melewati dua generasi!

 

Suhana Lim
Certified Feng Shui Practitioner
0422 212 567