Lily Yulianti Farid

Untukmu, Makassar

Wanita yang akrab disapa Ly ini sudah tak asing lagi bagi dunia tulis menulis. Ly bahkan telah menerbitkan beberapa judul buku kumpulan cerita pendek, sebut saja Makkunrai dan Maiasaura. Tidak berhenti di sanakecintaannya terhadap kota kelahirannya, Makassar, mendorong Ly untuk membuat suatu karya sebagai bentuk terimakasih dan balas jasanya kepada ibu kota Sulawesi Selatan tersebut. Bersama Riri Riza, sahabatnya, di tahun 2011 ia membangun sebuah rumah budaya, galeri serta tempat aktivitas kesenian lainnya yang bernamakan Rumata’ Artspace. Seiring dengan berjalannya waktu, Ly pun menggagaskan sebuah ide yang melahirkan sebuah festival sastra pertama di Indonesia bagian timur bernamakan, Makassar International Writers Festival (MIWF), yang menjadi salah satu program tahunan Rumata’.

“Kenapa Makassar International Writer Festival? Karena menurut saya, perkembangan Indonesia Timur itu selalu terlambat dibandingankan Indonesia bagian barat, terlebih pulau Jawa. Misi kita mau bikin kesempatan baru, dengan diadakannya festival skala internasional dan disusul kelas pendidikan film se-Asia Tenggara bernama Makassar-SouthEast Asian Screen Academy yang dimulai tahun 2012, menjadi upaya kami agar Makassar menjadi ‘a global creative hub’. Teman-teman penulis dan pembuat film yang datang dari berbagai daerah di Indonesia Timur, dan kesulitan ke Jakarta atau pusat-pusat kesenian lainnya yang lebih maju seperti Yogyakarta atau Bandung, mereka sekarang punya alternatif di Makassar,” seru Ly saat ditanyai mengapa memilih Makassar sebagai tempat acara besar tersebut.

Menerima penghargaan dari Dekan Prof. Mark Considine (foto: Mark Farrelly Photography)
Menerima penghargaan dari Dekan Prof. Mark Considine
(foto: Mark Farrelly Photography)

Menurut Ly, keberadaannya yang sering bolak-balik Australia dan Indonesia memberikan sebuah keuntungan tersendiri untuk membangun MIWF lebih maju lagi. “Karena saya tinggalnya bolak balik Melbourne dan Makassar, itu malah menjadi modal saya, memperkenalkan festival ini ke kelompok-kelompok penulis, organisasi seni di Melbourne. Dan didorong oleh infrastrukturnya yang sudah maju, mereka dengan mudahnya mendapatkan dukungan untuk datang dan hadir di Makassar,” jelas wanita berbintang Cancer tersebut. Ly merasa semua kegiatan itu perlu dilihat dari perspektif yang berbeda. Tidak semua hambatan bisa menghalang terlahirnya sebuah karya.

Menjadi seorang sukarelawan dan memberikan kontribusi kepada Indonesia tidaklah mudah. Itu pula yang dirasakan oleh ibu satu anak ini. Dari mempresentasikan kegiatannya untuk menggalang dana hingga mencari sponsor telah dilalui Ly sedemikian rupa. Lalu, kerap kali kerabat maupun sahabatnya bertanya, apa yang didapatkan dari pekerjaan seperti ini? “Teman-teman saya selalu bertanya, apa saja yang kamu dapatkan dari kerja seperti ini? Yang saya dapatkan adalah berupa rasa syukur yang luar biasa. Saya justru ingin lebih bekerja lebih keras. Dan saya selalu berpikir, coba saja saya jauh lebih mampu daripada sekarang, mungkin yang akan saya bantu lebih banyak. Misi saya itu adalah membuat anak-anak muda itu punya rasa percaya diri dan bangga terhadap diri sendiri sebagai ordinary people. Kita tidak punya privilege atau power, tapi kita kalau bersama-sama dengan resource yang kita miliki dan sesama ordinary people, kita bisa membawa perubahan meskipun kecil. Kecil dan konsisten akan menghasilkan suatu perubahan yang besar. Jadi setiap tahun saya bekerja dengan ratusan volunteers, dan kita juga selalu membawa suatu yang baru, yang menghasilkan pada akhirnya Makassar menjadi pusat tempat lintas kerjasama antar negara yang diupayakan oleh orang-orang biasa,” jawab Ly bangga.

Karena dedikasinya ini, baru-baru ini Ly mendapat penghargaan ‘The Faculty of Arts Alumni Leadership Award, The University of Melbourne 2016‘. Ly menyelesaikan S2 bidang gender dan pembangunan (2013) serta meraih gelar doktor bidang gender (2015) dari Universitas Melbourne. Tim seleksi menilai bahwa Ly telah menunjukkan dedikasi luar biasa membangun hubungan Australia-Indonesia di tingkat akar rumput di bidang penulisan dan seni melalui berbagai inisiatif yang digagasnya.

Mencanangkan kegiatan membaca (foto: Rumata' Artspace/MIWF)
Mencanangkan kegiatan membaca
(foto: Rumata’ Artspace/MIWF)

Bagi Ly, tidak ada hal yang lebih penting daripada meningkatkan minat baca di Indonesia. “Memang minat baca kita sangatlah rendah, mungkin di Asia Tenggara kita yang termasuk paling rendah. Cuma 1 dari 1000 orang yang membaca buku secara rutin, menurut data UNESCO. Tapi di pihak lain, banyak orang yang haus bacaan tapi tak punya akses, seperti yang terlihat di desa dan pulau terpencil,” tuturnya. Untuk itulah, dengan keberadaannya di Melbourne, banyak hal yang bisa ia dapatkan dan mengadopsi kegiatan-kegiatan yang sudah pernah ada di Melbourne sebelumnya. Salah satunya adalah Ly mengadopsi kampanye bernamakan Reading Challenge. “Aku coba memperkenalkan 2 tahun lalu di festival, aku minta beberapa keluarga muda, memposting kegiatan mereka masing-masing dan menceritakan tentang buku apa yang mereka baca setiap harinya. Karena mereka posting terus, orang jadi ingin tahu lebih lanjut dan berminat untuk ikut. Selama beberapa minggu, keluarga itu bikin jurnal, jurnal singkat tentang review buku apa saja yang mereka baca, apa saja yang mereka dapatkan. Dan ini disertai foto dan video. Suprisingly, ini meningkatkan minat baca di kalangan teman-teman mereka,” ungkap Ly.

Saat ini harapan Ly untuk MIWF adalah menjadi platform untuk orang-orang yang gemar membaca dan para pejuang literasi. “Di festival tahun ini, kita memfasilitasi jambore Pustaka Bergerak Indonesia, bekerjasama dengan para pejuang literasi dari Papua, Sulawesi, dan lainnya. Mengubah konsep perpustakaan itu menjadi bergerak ternyata mendapat dukungan luas. Dan mereka yang datang adalah orang-orang biasa tapi punya kemauan tinggi. Festival ini kontribusinya membuka platform dan mengkampanyekan hal tersebut. Pejuang literasi dari berbagai daerah ini menyiapkan perpustakaan bergerak, ada Perahu Pustaka, Kuda Pustaka, Noken Pustaka, Motor Pustaka, dan kita menjadi salah satu penghubung antara orang yang tertarik untuk belajar dan mengenal lebih jauh perpustakaan bergerak, dengan orang-orang yang mau membantu. Dengan membuka platform tahunan, masyarakat akan tahu dimana tempat menghubungi orang-orang yang mau membantu melalui MIWF ini. Selain membuka kerjasama dengan para pejuang literasi, writer’s festival ini juga menjadi tempat pergulatan ide. It’s all about ideas! Kita akan bertemu dengan banyak orang yang idenya berani, bermanfaat dan menggerakkan. Dan orang-orang ini telah menunjukkan komitmen untuk menjalan ide mereka itu. Setiap tahun MIWF mengundang orang-orang yang menjadi sumber inspirasi,” jelas Ly.

Sebagai penutup, kepada pembaca setia BUSET, wanita yang sedang berproses untuk menerbitkan dua bukunya itupun berbagi tips untuk menulis. “Kalau menulis diselesaikan. Menulis itu harus konsisten, bikin deadline, dan harus ada yang mendorong. Tanamkan dalam diri bahwa ‘aku ingin nulis ini karena aku ingin punya karya’. Atau kita bikin deadline dengan mengatur jadwal sendiri. Di dunia penulisan, kita harus punya target, dan banyak baca, biar kita terinspirasi untuk menulis. Dan bergaulah serta bertukarpikiran dengan penulis lainya juga sangat membantu.”

(MIWF 2016) bersama penulis M. Aan Mansyur (kedua dari kiri) dan produser/sutradara film AADC2, Riri Riza (kedua dari kanan) dan Mira Lesmana (kanan) dan editor Gramedia Pustaka Utama, Sisca Yunita (kiri), merayakan terjualnya lebih dari 35.000 copy buku karya M. Aan Mansyur, ‘Tidak Ada New York Hari Ini’, yang mencatat penjualan buku puisi paling laris sepanjang sejarah di Indonesia. Puisi-puisi ini digunakan dalam film AADC2 dan menjadi contoh yang baik kolaborasi karya sastra dalam film. (foto: Rumata' Artspace/MIWF https://www.flickr.com/photos/135365172@N06/27075532271/in/photostream/)
(MIWF 2016) bersama penulis M. Aan Mansyur (kedua dari kiri) dan produser/sutradara film AADC2, Riri Riza (kedua dari kanan) dan Mira Lesmana (kanan) dan editor Gramedia Pustaka Utama, Sisca Yunita (kiri), merayakan terjualnya lebih dari 35.000 copy buku karya M. Aan Mansyur, ‘Tidak Ada New York Hari Ini’, yang mencatat penjualan buku puisi paling laris sepanjang sejarah di Indonesia. Puisi-puisi ini digunakan dalam film AADC2 dan menjadi contoh yang baik kolaborasi karya sastra dalam film.
(foto: Rumata’ Artspace/MIWF
https://www.flickr.com/photos/[email protected]/27075532271/in/photostream/)

 

Alifia