Lukman Sardi; MENEMUKAN KENYAMANAN HIDUP

0
307

Lukman Sardi merupakan seorang sosok yang cukup dikenal di kancah perfilman Indonesia. Keterlibatannya sebagai aktor di film Gie, Janji Joni, Quickie Express, Berbagi Suami, 9 Naga, Merah Putih dan masih banyak lagi, tak pelak mengangkatnya sebagai salah satu aktor asal Indonesia papan atas. Dilahirkan di Jakarta, 14 juli 1971 ke dalam keluarga berlatar belakang seni, ia memulai karirnya sebagai aktor anak saat berusia 6 tahun. Ayahnya dikenal sebagai pemain biola ternama, Idris Sardi, dan kakeknya adalah composer musik ternama di tahun 30an.

“Awalnya kan ada temannya papaku yang sutradara, dan waktu sebelumnya kakakku sudah main film duluan, abis itu tiba-tiba si sutradara ini perlu pemain anak kecil laki-laki, dan dia ngomong sama papaku ‘anak lo main deh’,” kisahnya mengenai permulaannya di dunia peran.

Sejak saat itu hingga menjelang masuk ke Sekolah Menengah Atas dirinya berkecimpung dalam dunia seni peran, hingga akhirnya Lukman memutuskan untuk berhenti bermain film karena merasa umurnya sudah bukan anak-anak, tetapi belum juga menginjak usia remaja. Bersamaan dengan itu juga, diantara tahun 1980 dan 1990 produksi film Indonesia mulai menurun drastis dan digantikan oleh film-film yang kurang berkualitas, memiliki biaya produksi rendah dan lebih bergantung kepada adegan-adegan usia 17 ke atas. “Jadi benar-benar berhenti akting, saya cuma lanjut sekolah, kuliah, terus sempat kerja di beberapa tempat. Dan setelah itu sempat in denial, nggak mau kerja di area seni pokoknya, karena menurut aku seumur hidup di dalam keluarga sudah di seni-seni melulu, jadi aku ngga mau di daerah situ. Kuliah juga jurusannya hukum,” jelasnya.

 

KEMBALI KE DUNIA PERAN

Kendati demikian, pada tahun 2003, sutradara dan produser ternama Mira Lesmana dan Riri Riza sedang dalam tahap awal membuat film berjudul Gie, film mengenai pejuang dan aktivis mahasiswa tahun 1960-an bernama Soe Hok Gie yang dibintangi oleh Nicholas Saputra. Kebetulan Lukman kenal dengan casting direktur dan ia pun diajak untuk ikut casting. Awalnya ia sempat ragu karena sudah lama tidak berkecimpung di dunia seni, tetapi akhirnya ia coba juga untuk datang.

“Aku datang di casting beberapa kali dan ternyata masuk. Nah, sebenarnya titik baliknya disitu. Pada akhirnya aku masuk ke film itu, ternyata I enjoyed it. Mulai dari research, karena itu kan asalnya dari true story, terus mulai ketemu sama orang-orang aslinya dan segala macem, I feel comfort banget dan aku akhirnya nemuin bahwa selama ini memang ini dunia saya,” tutur pria yang pada saat itu ingin mengejar karir sebagai aktor profesional. “Kalau dipikir-pikir sih momennya menurut aku tepat aja. Sekian lama nggak ada film-film Indonesia, terus saat film Indonesia muncul lagi, tiba-tiba aku dapat tawaran main, and then start lagi,” tambahnya.

BUSET-Lukman SardiSetelah itu Lukman beranjak membintangi film 9 Naga bersama aktor Fauzi Baadilla, dan disutradarai oleh Rudi Soedjarwo, yang pada saat itu turut membangkitkan perfilman Indonesia dengan film ikonik, Ada Apa dengan Cinta. “Terus abis itu main film Berbagi suami arahan Nia Dinata. Jadi 3 film pertama aku itu sama orang-orang yang benar, dengan cerita dan karakter yang beda-beda, nah ini sebenarnya bentuk pembelajaran yang menjadikan aku sebagai aktor yang mau research, mau observasi, mau ngasih effort yang lebih. Setelah itu puji Tuhan aku nggak pernah berhenti, tiap tahun ada film. Jarang banget ada orang yang sudah lama nggak main film bisa dapat yang seperti itu,” paparnya bersyukur.

Ia mengaku tidak terlalu pemilih dalam membintangi film, menurutnya yang paling penting untuk adalah cerita dan karakternya, dibandingkan dengan siapa sutradara atau lawan mainnya. Karena menurutnya kalau tidak nyaman dan tidak suka dengan film dan karakter yang ia perankan, pada saat mengerjakannya akan kurang totalitas. Misalkan ada yang menawari dirinya untuk main film, ia akan membaca dulu sinopsisnya dan tentang karakternya. Kalau merasa ada ketertarikan baru akan dilanjutkan.

Saat ditanya mengenai karakter paling favorit yang pernah diperankan, Lukman mengaku sulit untuk menjawabnya. Karena untuk dirinya, semua karakter merupakan favorit. “Menurut aku tiap karakter punya dunianya masing-masing, dan kita punya momen eksplorasi-nya masing-masing. Kadang nemuin banyak hal yang baru, makanya mulai dari yang 9 Naga kek, mau yang tiba-tiba jadi gay kek, yang mau jadi komedi yang nyeleneh, buat aku sih mereka menjadi sesuatu yang hidup dan menarik.”

Kendati tidak memiliki favorit, karakter yang paling berkesan untuknya adalah saat ia berperan menjadi Herman Lantang di film Gie. Karena film itu yang merubah jalan hidupnya hingga sekarang, jika tidak ada Gie, mungkin cerita hidupnya akan berbeda lagi. “Di awal karir aku tuh aku selalu nyebut I’m a lucky bastard, setelah sekian lama nggak main film, masuk ke produksi filmnya itu Gie, film yang setelah sekian lama perfilman Indonesia mati, ada film yang budgetnya mencapai 8 milyar, terus ditanganin sama orang-orang yang memang credible di bidangnya.”

Salah satu karakter yang paling sulit untuk ia perankan adalah saat ia memerankan Kyai Haji Ahmad Dahlan di film arahan Hanung Bramantyo yang rilis di tahun 2010, Sang Pencerah. Memainkan seorang karakter nyata memang terkadang merupakan beban moral, tetapi sebagai pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan merupakan tokoh nasional sekaligus pahlawan di Indonesia, dan itu merupakan tanggung jawab yang cukup berat.

“Saya mikir bisa nggak ya merepresentasikan ini dan diterima sama mereka semua, itu sesuatu hal yang nggak gampang, apalagi referensinya dikit banget, karena dia hidup di jaman yang belum ada video, dan dia juga bukan typical menulis diary, jadi susah banget nyari cerita tentang dia. Ketika saya ketemu sama cucunya juga sudah tua-tua, jadi susah ingat tentang dia. Di buku-buku sih sejarahnya ada, tapi kan untuk aktor itu more than that, saya perlu bagaimana personalnya, cara dia ngomong, cara dia jalan, cara dia makan, jadi saya mencoba menginterpretasikan dari berbagai buku apa yang saya lihat, sekaligus nyari sumber dari buku-buku sejarah di Belanda,” jelasnya.

Belum lagi ada kritik dari beberapa pihak dan tokoh masyarakat mengenai agama Lukman yang pada saat itu sudah menjadi Kristen. Walaupun sutradara, produser, sekaligus Ketua Muhammadiyah sudah tahu ia yang akan memerankan karakter tersebut, tetap ada sedikit ketakutan saat proses perfilman. Kendati demikian setelah filmnya keluar tidak ada masalah dan malah meraup hingga satu juta penonton di Indonesia.

Untungnya saat ia memerankan Mohammad Hatta di dalam film Soekarno pada tahun 2013, anak-anak dan pembantu Bung Hatta yang sudah lama bekerja untuk beliau masih hidup, sehingga Lukman bisa langsung berbincang dengan mereka untuk mengetahui hal-hal pribadi mengenai Bung Hatta.

Sebaliknya, jika tokoh yang ia perani merupakan tokoh yang fiktif mungkin secara beban tidak terlalu berat, tetapi secara pencarian mungkin lebih sulit dari tokoh-tokoh yang nyata. Karena ia harus membuat karakternya lebih hidup. Contohnya saat ia berperan menjadi pembunuh bayaran di 9 Naga, menjadi gigolo di film Quickie Express, dan menjadi seorang yang orientasi seksualnya gay, ia musti terjun mempelajari mengenai hidup seseorang yang homoseksual.

“Effort-nya lumayan untuk saya nyemplung ke area-area seperti itu. Di film Rectoverso juga saya berperan sebagai orang yang autistic, nah ini orangnya memang ada, Dee Lestari (pengarang buku Rectoverso) menulis karakternya berdasarkan orang tersebut. Saya mesti combine antara kondisi Abang (karakternya di Rectoverso) ini sama orang itu yang kondisi lebih parah dari Abang, dan saya menghabiskan waktu 2 hari full sama mereka.”

 

AKAN RILIS

Bulan Desember ini pun film yang ia bintangi akan dirilis yaitu The Professionals, di film tersebut ia berperan bersama Arifin Putra dan Fachri Albar. Film laga asal Indonesia ini bisa dibilang film heist pertama di Indonesia, dan konsepnya lebih seperti film ternama Ocean’s Eleven, yang dibintangi oleh George Clooney dan Brad Pitt.

“Jadi ceritanya tentang sekelompok orang yang berencana dan punya keahlian masing-masing, dan mereka ngumpul untuk ngalahin orang yang jahat. Ada yang ahli nyetir mobil, ahli buka brankas, adrenaline junkie. Karakter aku itu orang yang ahli buka brankas dan ga percaya dengan alat atau hal-hal yang bersifat digital, tapi dia percayanya sama yang bersifat analog. Makanya dia nutupin side job-nya itu dengan buka toko reparasi jam, dia juga teliti dan bersih. Ini termasuk interesting role sih, saya juga banyak belajar tentang berankas,” cakap pria berusia 45 tahun ini.

Selain The Professionals, Lukman juga membintangi 4 film yang akan tayang tahun depan, yaitu Night Bus, Jakarta Undercover 2, 27 Step of May, dan Fire Gate. Kemudian masih ada 3 film lagi yang akan ia perankan, dan baru mulai syuting tahun depan.

Sedangkan sebagai produser, ia menyiapkan film tentang penyanyi legendaris di Indonesia, Chrisye, 3 dara 2, dan beberapa film lainnya.

Tak cukup sibuk, Lukman juga terlibat di proyek teater yang dipentaskan di gedung kesenian pada bulan Agustus silam yang berjudul Bunga Penutup Abad. Di proyek tersebut ia adu akting dengan aktor yang juga sedang naik daun, Reza Rahadian, dan dua aktris cantik Chelsea Islan dan Happy Salma. “Kita akan show lagi di Bandung bulan Februari, sama Belanda di bulan April.”

 

PINDAH AGAMA

Pada tahun 2015 silam, Lukman Sardi terlibat sebuah kontroversi saat masyarakat Indonesia sadar bahwa ia telah berpindah agama dari Islam menjadi Kristen. Ia mengaku sudah berpindah sejak tujuh tahun yang lalu, tetapi baru sekitar satu setengah tahun lalu ia dihujat karena ada yang meng-upload video saat dirinya sedang memberi kesaksian di Gereja Bethel Ecclesia. “Aku sudah pernah kesaksian di beberapa gereja dan pada saat itu aku lagi kesaksian di gereja aku sendiri, karena nggak ada masalah apa-apa jadi pas dimasukin youtube aku fine-fine saja. Dan video-nya sudah dari April di upload, tapi kayaknya ada orang yang sengaja di bulan Juni menjelang puasa baru dikeluarin secara gede-gedean,” sesalnya.

Setelah kejadian tersebut, ada yang mengancam ingin membunuhnya, akun Instagram-nya penuh dengan hujatan-hujatan. Bahkan akun twitter-nya dan kejadian tersebut menjadi trending topic. “Pertamanya sih cuma mikir ini kayaknya saya mau naik level deh. Jadi saya cuekin saja, nggak terlalu saya tanggepin. Malah dari Islam sendiri juga banyak yang bela.”

“Efek ke istri aku sih lumayan, Karena dia ngga pernah ngalamin yang kayak gitu banget, tiba-tiba dikata-katain orang, instagram-nya penuh dengan orang nyalahin dia dan lainnya. Cuma aku ambil sisi positifnya saja, itu artinya they care, kalau mereka nggak peduli mungkin mereka cuek saja. Artinya mereka menganggap saya ada dan menganggap aku milik mereka, walaupun sebenarnya bukan.”

Bersama istri (Lia) dan ketiga anak mereka; Akiva, Akira dan Akino
Bersama istri (Lia) dan ketiga anak mereka; Akiva, Akira dan Akino

Lukman menilai bahwa agama adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksakan. Sesuatu yang memang secara prinsip dirasa nyaman, inilah yang dijadikan pilihan. Ajaran agama Kristen juga bukan sesuatu yang asing baginya. Banyak dari keluarga ayahnya yang berdomisili di Yogyakarta juga beragama Kristen, walaupun ayahnya sendiri memeluk agama Islam. Menurutnya, agama Kristen bukan sesuatu yang tiba-tiba dirinya temukan atau berasal dari mukjizat atau mimpi, melainkan merupakan proses yang berjalan.

“Perjalanannya cukup panjang. Dari waktu opa sama oma-ku pada saat ulang tahun perkawinan mereka bikin buku, tiap cucu bukunya dikasih tulisan berbeda-beda, I don’t know why pas bagian aku ditulisnya tentang kasih, aku sangat tertarik. Berjalan bukan seperti orang yang nggak punya pegangan. Aku Muslim bukan yang taat-taat banget tapi I know my own religion, Muslim juga bukan agama yang mengajarkan kekerasan, sama juga seperti Kristen. Cuma di satu titik yang aku merasa there’s something more, dan itu membuat aku sangat merasa nyaman,” jelasnya.

Apalagi saat bertemu dengan istrinya pada tahun 2009, Pricillia Octaviany Pullunggono, yang akrab disapa Lia, dan ternyata beragama Kristen. Lukman merasa ada sesuatu di keluarga Lia yang membuat ia melihat bahwa rasa kasih mereka terhadap sesama anggota keluarga itu sangat besar. Tetapi ia juga tidak pernah mau bertanya kepada Lia, dan Lia sendiri juga tidak pernah memaksa dirinya. Tetapi entah kenapa ia merasa bahwa pikirannya terus diarahkan kesana, konsep itu terus yang keluar, sampai pada akhirnya ia memberanikan diri untuk tahu lebih banyak, ikut ke gereja, dan merasa nyaman didalamnya.

Problem-nya adalah cara ngomong sama orangtua. Karena jauh sebelumnya adik aku sudah jadi Katolik. Dan aku tahu bagaimana papaku kecewa, dan aku anak laki sendiri, pasti dia lebih kecewa lagi. Tapi aku merasa ini sesuatu yang sudah jalannya, dan aku yakin sama yang aku yakinin. Aku ngomong akhirnya, dia kecewa tapi akhirnya it’s fine. Berarti memang sudah jalannya. Sampai kemudian aku menikah juga sama Lia. Papaku juga akhrinya nggak pernah mempermasalahkan itu, dia cuma bilang saya harus bertanggung jawab terhadap pilihan saya,” ujarnya lega.

Untungnya sekarang sudah tidak ada lagi masalah, akun media sosial Lukman malah bertambah pengikut dari berbagai kalangan, karirnya di dunia perfilman tidak terpengaruh dan ia merasa kejadian tersebut memang sudah jalannya. Ia malah bersyukur karena kejadian tersebut terjadi setelah ia sudah 7 tahun berpindah agama, karena jika hal tersebut terjadi setelah ia baru berpindah, mungkin akan berbeda reaksinya, karena imannya belum sekuat sekarang. “Hebatnya aku selalu bilang Tuhan sudah nyiapin aku selama tujuh tahun, karena itu kan terjadi gara-gara Dia juga, tetapi Dia sudah tahu kalau aku sudah ready. Setelah kejadian itu justru banyak yang ngajak kesaksian, jadi seakan Tuhan sudah merasa aku sudah ready dan ‘saatnya lo bisa membawa kesaksian ini kemana-mana’.”

Karena kejadian yang menimpa Lukman tersebut, dapat dilihat bahwa membesarkan anak di tengah sensitifnya isu agama di Indonesia masih dirasa sulit. Apalagi makin lama masyarakat Indonesia makin kurang toleransinya antar umat beragama. Kendatipun, Lukman berpikir bahwa mungkin bukan salahnya orang-orang tersebut, mungkin ada sebagian orang yang memiliki tujuan khusus untuk menciptakan masalah, jadi melihat bahwa isu agama yang paling mudah untuk dibawa. Pada kenyataannya, masyarakat juga masih banyak pendidikannya yang masih di bawah sehingga mudah untuk dimanfaatkan dan diprovokasi.

“Aku sih tentunya ingin mendidik sebaik mungkin, bagaimana juga hidup itu about love, aku selalu nerapin bahwa itu tentang kasih. Bagaimana kamu mengasihi orang-orang, keluarga, kakak, adik. Basically aku lebih mengarah dari kita sendiri dulu. Bagaimana kita menunjukkan kasih kita sama anak kita, cara kita ngomong, biar kita jadi contoh untuk anak-anak kita,” katanya mengenai ketiga buah hatinya, Akiva Dishan Ranu Sardi (6), Akira Deshawn yi Obelom Sardi (5), dan Akino Dashan Kaimana Sardi (3).

Menurutnya karena anak-anak umur segitu akan melihat perlakuan orangtuanya. Ia juga membiasakan anak-anaknya untuk berkata terima kasih kepada orang yang memberi mereka sesuatu, apakah orang itu kasir atau klien, mereka akan berkata terima kasih. “Buat aku itu sudah jadi hal yang crucial karena dia respect others dan menghargai tiap orang yang ada di sekeliling mereka, itu yang basic buat aku. Bagaimana respect each other di tengah situasi Indonesia yang kayak gini. Yang penting kita stay positive saja,” tambahnya.

 

GEREJA DAN NATAL

Setelah perjalanannya dalam berpindah agama, kini Lukman juga aktif di Gereja. Walaupun bukan di kepengurusan gereja, hampir setiap Natal ia diminta untuk menjadi panitia Natal. Banyak juga yang minta kesaksian dan pelayanan darinya. Lukman merasa Tuhan memang mengarahkannya kesitu. Untuk memberikan kesaksian pun ia tidak pernah membuat konsepnya, tetapi berdasarkan apa yang muncul saja. Ia menganggap apa yang akan ia dapatkan untuk konsep kesaksian merupakan arahan dari Tuhan.

Nggak pernah persiapan, tiba-tiba muncul aja. Dan nggak tahu kenapa, setiap mau kesaksian aku pasti dihadapkan dengan situasi yang lagi ribet banget. Entah waktu, entah saya harus kemana-kemana gitu, jadi kayaknya Tuhan mau selalu aku dealing with that, bagaimana aku meng-handle situasi-situasi yang mepet seperti itu. Terakhir juga pas mau kesaksian, anak aku yang paling kecil tiba-tiba rewel banget nggak kayak biasanya, sampai aku agak sedikit emosi dan sedikit keras sama dia, sampai akhirnya aku ajak dia, tiba-tiba di mobil aku nanya kenapa ya aku emosi. Akhirnya kesaksian aku tentang bagaimana aku menjadi orang yang sabar.”

Lukman merasa Tuhan ingin ia bercerita tentang hal tersebut, karena ia bingung kenapa kok pada saat itu ia menjadi orang yang tidak sabar terhadap anaknya, padahal di beberapa titik di kehidupannya ia bisa sabar, terutama saat ia menghadapi ayahnya yang kecewa oleh Lukman yang berpindah agama. Karena itulah ia bisa menemukan konsep untuk kesaksiannya pada hari itu. Bisa dibilang saat itu Tuhan sedang mengujinya.

Untuk Perayaan Natal tahun ini Lukman mengaku belum ada rencana spesifik, tetapi yang penting untuknya adalah menghabiskan waktu dengan keluarga, apakah itu di luar atau di rumah. Malah ia berencana untuk pergi liburan setelah hari Natal dan tahun baru. Yang pasti, ia sedang menyiapkan sebuah filler untuk acara Natal tahun ini di MNC. “Mereka minta aku bikin filler tentang ‘damai di hati’ tapi konsep ceritanya aku yang buat dan aku yang nge-direct. Tanggal 25-26 November ini shooting-nya. Bikinnya tentang kehidupan kayak tipe iklan-iklan Thailand yang lagi banyak beredar. Reflection about that, jadi mau orang Kristen atau apapun bisa ngelihat.”

Selain menjadi aktor, produser, dan direktur, Lukman Sardi memiliki hobi kuliner, dan jalan-jalan. “I love travelling, biasa mengamati jadi senang nemuin hal-hal baru. Dulu juga suka berburu babi hutan, karena di Jawa Barat kan babi hutan merusak tanaman, jadi nggak apa-apa kita nembakin supaya populasinya berkurang,” tutup sosok pria yang penuh dinamika dan cerita hidup yang menarik ini.

 

 

Sasha
Foto: Nys