BUSET – ICCA

Halo teman-teman sekalian, untuk edisi kali ini, ICCA (Indonesian Creative Community of Australia) menghadirkan profil seorang penari yang mungkin tidak asing lagi buat kita, Maria Leeds. Perawakannya yang ramah selalu mampu membuat suasana menjadi hangat.

Mari sama-sama kita simak obrolan Enos dengan Maria berikut ini.

Apa itu tari bagi seorang Maria Leeds?

Tari buatku adalah hidup dan darahku karena sejak kecil Maria sudah berkecimpung di dunia tari. Aku belajar menari sejak dalam perut ibu kali ya (sambil tertawa). Keluargaku selalu dekat dengan Budaya Jawa. Di rumah mbah buyut, neneknya ibu, kita punya perlengkapann gamelan dan wayang dan selalu ada latihan ketoprak atau menari, jadi telinga Maria mungkin sudah terbiasa dengan musik gamelan dan gending tari.

Tapi Maria mulai benar-benar belajar tari itu sejak umur 3 tahun dan tampil di acara-acara desa atau kecamatan atau resepsi pernikahan. Berarti sudah lebih dari 40 tahun ya Maria menari. Tidak terasa ya..

Tarian apa yang saja yang sudah dikuasai?

Semua tari Jawa, terutama Jawa Tengah, Jawa Timuran; Banyuwangen.

Saya juga bisa Tari Jaipongan, Tari Betawi, Tari Padang, Tari Kalimantan, Tari Saman, sedikit Tari Bali dan berbagai tarian modern Nusantara. Pokoknya tari-tarian seluruh Indonesia.

Apakah benar sebuah tarian memiliki arti tersendiri?

Setiap tarian itu seperti sebuah cerita drama tanpa kata. Jadi segala gerak gerik yang ada itu menceritakan sebuah cerita yang akan disampaikan. Dari bahasa tubuh, bahasa mimik, gerak jari, gerak bibir, gerak mata, hentakan kaki, liukan badan, musik dan sebagainya adalah sebuah cerita yang akan disampaikan ke setiap penontonnya.

Satu tarian menceritakan urut-urutan bahasa tanpa kata. Gerak tari yang saya tarikan itu merupakan urutan suatu alur cerita. Saya sering merubah gerak yang sudah ada dengan cerita yang akan saya sampaikan dengan musik tari yang sudah jadi. Setiap kali menari saya berharap penonton bisa mengerti arti yang ingin disampaikan.

Setiap pulau di Indonesia mempunyai cerita khas masing-masing yang akan disampaikan. Bahkan, setiap tarian dari beda pulau itu beda aransemen musik atau gamelannya, beda ciri khas bajunya, beda pula lenggok tubuh serta gerak jarinya.

Apa saja tantangan sebagai penari?

Sebagai penari tradisional Indonesia di Australia, terutama di Melbourne, sepertinya adalah kurangnya dukungan dari beberapa pihak yang sangat berperan penting dalam mendukung sepak terjang saya untuk mengenalkan budaya Indonesia di sini. Tapi hanya beberapa, saya tetap mendapat dukungan dari banyak pihak lainnya dan saya berterimakasih.

Puji Tuhan saya bergabung dengan Cultural Infusion. Pihak CI ini justru yang sering banget meminta saya untuk melakukan tur di Victoria dan mengenalkan budaya tari Tanah Air di sekolah-sekolah.

Juga Mbak Alfira dari Suara Indonesia, yang sering minta saya untuk menari di acara-acara khusus. Di samping itu juga banyak yang menghubungi saya secara pribadi untuk tampil menari secara profesional.

Tantangannya justru dari kalangan kita sendiri yang meminta saya untuk tampil sendiri atau dengan grup saya tapi kemudian memutuskan sepihak saja setelah tahu fee yang saya ajukan karena kemungkinan ada beberapa penari/grup yang bersedia tampil tanpa bayaran. Ini lah sebenarnya mungkin tantangan kecil yang ada di sini. Kalau sesama penari profesional kita saling mengerti dan menjaga kode etik ini. Akan tetapi saya tidak bisa menyalahkan dan berusaha untuk mengerti kalau ada yang memilih gratis daripada membayar. Mudah-mudahan tetap ada kata saling menghargai di antara sesama artis seniman di sini.

Saya sering juga kok menari tanpa dibayar kalau itu untuk kepentingan charity atau untuk organisasi non profit. Tapi paling tidak tolong hargai juga hasil karya kita dan mudah-mudahan sesama penari saling menjaga, bukan saling menjatuhkan. Alangkah indahnya seandainya sesama penari terutama di Melbourne ini punya wadah dan misi yang sama demi kemajuan Budaya Indonesia di Negeri Australia.

Mimpi dan tantangan saya yang lain adalah menyatukan sesama penari di sini dan menghasilkan karya agung demi Bangsa Indonesia. Lalu tampil bersama seperti saat Celebration Of Indonesia (COI) tahun lalu.

Sebalnya, walaupun tidak semua, kadang-kadang tetap ada penonton Indonesia tidak begitu appreciative dengan penari. Mereka pada asyik ngobrol sendiri jadi kehilangan cerita yang akan disampaikan. Karena kan setiap tarian menceritakan cerita yang berbeda.

BUSET ICCA - MARIA LEEDS 1Apakah bisa mengajar menari juga?

Saya tampil nari, ngajar nari di sekolah-sekolah di Victoria. Hampir semua sekolah di Victoria sudah pernah saya datangi untuk workshop sekaligus tampil. Dromana, Wangarrata, Rosebud, Frankston, Wollongong, Bendigo, Rye, termasuk semua suburb di Melbourne, seperti Epping, Millpark. Saya juga sempat tampil di Tasmania, Port Douglas, Darwin, Perth, Brisbane, mana lagi ya.. sepertinya semua sudah saya goyangin jaipongan saya hehe… Juga menjadi juri berbagai lomba tari di Melbourne dan menjadi juri di Pentas Bakat yang diadakan di Melbourne juga.

Apa yang sangat berkesan selama menari?

Kegiatan yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat saya dipercaya oleh Tante Sherley dan Mas Enos untuk menjadi koreografer Celebration Of Indonesia yang dilangsungkan tanggal 12 September tahun lalu di Melbourne Town Hall. Saya melatih penari-penari dari berbagai latar belakang yang berbeda dan bekerja dengan ratusan seniman berbakat dari segala penjuru Victoria serta perwakilan dari berbagai suku dan agama di Indonesia yang sedang ada di Melbourne.

Pengalaman ini tidak akan pernah terlupakan seumur hidup dan sangat berkesan sekali. Menciptakan tarian dengan musik yang spektakular dari musisi top Mas Enos, wow!

Tantangan menciptakan tari tersulit yang pernah ada tapi menghasilkan karya yang sangat agung sekali. Terimakasih COI. Mudah-mudahan kesempatan kedua akan ada lagi.

Rencana ke depannya?

Saya akan menghidupkan kembali Sanggar NIMAR LARAS yang sempat saya hentikan sementara karena kesibukan saya sebagai ibu 3 anak. Aktivitas saya di dunia televisi di Melbourne, juga kembalinya saya ke bangku kuliah.

Apa harapan sebagai seorang penari?

Harapan saya semoga kalau nanti ada tempat ngumpul untuk latihan lagi, tempat ini bisa menjadi wadah bagi pemula atau siapapun yang ingin belajar tari untuk bersatu. Menyatukan visi dan misi yang sama sebagai sesama seniman tari atau seniman yang lain untuk latihan bersama biar kita sesama bangsa Indonesia yang tinggal di luar itu rukun, saling menghargai, saling menjaga, saling memberi, saling tukar ilmu dan pengalaman dan tidak berantem hehe…

Alangkah indahnya hidup jika kita bisa saling menjaga. Dimulai dari hal kecil yang mungkin tidak pernah terpikirkan tapi kalau dilakukan dari diri kita sendiri akan berpengaruh ke orang lain, yaitu berpikiran positif dan selalu tersenyum.

 

Demikianlah obrol-obrol singkat kita dengan Maria, sang penari. Sebelum menutup pembicaraan, wanita berambut panjang ini pun bertitip pesan, “kalau boleh saya mau mengucapkan terimakasih untuk Bapak Ibu Soekarno, keluargaku, alm. Pak Madi, sahabat-sahabat sesama seniman yang selalu mendukung kiprahku Rini Marbeek, Alfira O’Sullivan, Peter Cultural Infusion, Mas Enos, Om Lucky Kalonta, Mbak Yati Magri, Martina, Luis Leeds, Amelia Leeds, Jonathan Leeds dan Tony Parker serta teman-teman sekalian yang mendukung kiprah tariku dimana pun berada. Terimakasih untuk dukungannya. God Bless you all.”

Sampai jumpa di edisi BUSET selanjutnya.

Salam kreatif,
Enos