MASUK TAHUN KE-11, IFF KEMBALI DISELENGGARAKAN APRIL INI

 

Festival Film Indonesia atau yang lebih dikenal dengan Indonesian Film Festival (IFF) di Melbourne akan dilangsungkan 14-20 April di ACMI, Federation Square. Semua tiket akan dijual melalui box office ACMI.

Tara Basro dipilih sebagai duta IFF tahun ini, dan Tara akan menjadi tamu spesial di Melbourne. Pengalaman akting Tara di berbagai film telah menjadikannya salah satu aktris ternama Indonesia. Ia juga diketahui telah bekerja bersama beberapa sutradara terkenal dan telah memenangkan penghargaan sebagai Aktris Terbaik di FFI 2015 untuk perannya di film karya Joko Anwar, A Copy of My Mind yang sempat ditayangkan di Venice, Toronto and Busan International Film Festivals pada 2015.

Duta cantik IFF 2016 ini dapat dijumpai pada acara malam gala, 13 April di Crafty Squire, 127 Russell Street Melbourne, pukul 17:30-20:00.

Memasuki tahun yang ke-11, IFF selalu bertujuan untuk memperlihatkan kebudayaan dan film Indonesia pada masyarakat Australia. Dengan demikian, IFF membawa misi yang sangat penting. Cendekiawan Gaston Soehadi dan Ariel Heryanto pula mengakui adanya nilai-nilai dasar yang dibawa festival semacam ini terhadap kondisi sosiopolitik dan ekonomi Indonesia.

Ariel Heryanto ialah seorang Profesor Budaya, Sejarah dan Bahasa di Australian National University, dan melalui bukunya, Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture (2014), beliau mendeskripsikan bagaimana sebuah film dapat merefleksikan sekaligus mempengaruhi isu sosial dan politik.

Gaston Soehadi yang terkenal sebagai akademisi, dosen dan penasihat IFF Melbourne menyatakan bahwa festival film internasional, khususnya untuk film Indonesia, merupakan penjelmaan dari diplomasi budaya. Dalam jurnal yang ditulisnya, Gaston memberikan contoh ketika pemerintah Australia menggunakan layar lebar sebagai medium untuk melepas ketegangan hubungan bilateral kedua negara dalam menghadapi permasalahan seputar kekayaan keluarga mantan Presiden Soeharto.

Selain itu, nilai sosial yang menjembatani hubungan Indonesia dan Australia ini diakui juga oleh Victorian Indonesian Language Teachers Association (VILTA), Australian Indonesian Youth Association (AIYA), anggota panitia yang telah terlibat sejak awal IFF Ralf Dudat, dan kritikus film Peter Krausz. Clarice Campbell, President AIYA Victoria, mengatakan, “IFF merupakan acara yang sangat baik untuk berinteraksi dengan masyarakat Melbourne dan mempromosikan seni dan budaya kontemporer Indonesia.”

Bahkan salah seorang anggota komite yang telah lama bekerja untuk IFF, Ralf Dudat, kerap mengatakan dalam berbagai wawancara bahwa “IFF mampu memperlihatkan gambaran Indonesia secara komprehensif kepada khalayak Australia yang berasal dari aneka bangsa.” Ralf menambahkan, “agar IFF dapat menggapai misinya secara konsisten, harus ada perencanaan jangka panjang yang lebih baik lagi. IFF juga membutuhkan struktur kepemimpinan yang mantap untuk dapat memberikan hasil diplomasi budaya jangka panjang seperti yang dikatakan Gaston Soehadi dan Ariel Heryanto.”

Pernyataan senada dilontarkan kritikus kenamaan yang juga mantan Presiden Australian Film Critics Association Peter Krausz. “The Indonesian Film Festival is vitally important in order to foster better understanding of Australia’s oft misunderstood nearest neighbour. IFF is a forum for cross-cultural dialogue on topics such as politics, religion, social values, media control and censorship, and of course it offers a chance for Australian and Indonesian filmmakers to meet and discuss possible co-productions and sharing of resources. Indonesia is a major country and Australia needs to engage with it culturally, economically, and politically, and a film festival is a key way of doing that, hence there is an urgent need for IFF to have good management and stable funding,” ujarnya.

Ketika diminta berkomentar mengenai IFF, anggota VILTA dan pengamat IFF Anton Alimin menjawab dengan penuh makna tersirat, “kemarin adalah sejarah, hari ini adalah nyata, besok adalah masa depan. Namun tanpa kemarin dan hari ini, besok tidak akan muncul.” Anton kembali mengatakan dirinya berharap IFF dapat mengakui dan belajar dari kejayaan serta kegagalan masa lalu.

Harapan untuk IFF dirangkum oleh Gaston yang mengatakan, “komite IFF perlu menciptakan dialog dan kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait di Melbourne, serta representatif pemerintah Indonesia, AIYA, VILTA, Australia Indonesia Association Victoria, organisasi masyarakat Indonesia, Australian Department of Foreign affairs and Trade, dan organisasi perfilman Australia. Agar semua dapat secara proaktif mendiskusikan pencapaian tujuan IFF, yakni promosi budaya serta penjualan film Indonesia di Australia.”

IFF Under the Stars

Adalah penayangan film layar terbuka yang diadakan gratis di Testing Grounds, 1-23 City Road, Southbank pada hari Sabtu, 2 April pukul 18 petang. Film yang akan diputar adalah komedi Nagabonar Jadi 2 (2007).

Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan budaya Indonesia lewat film sekaligus menarik perhatian masyarakat akan IFF.

***

Film IFF 2016
IFF2016

Filosofi Kopi (Coffee Philosophy, 2015)

Pemilik gerai kopi kesulitan membayar hutangnya, namun pada saat yang bersamaan ia harus mempertahankan hubungan pertemanan, keluarga dan prinsip hidupnya. Film ini disutradarai Angga Dwimas Sasongko, dan sempat menjadi box office di Indonesia. Mengisahkan pencarian jati diri dan berusaha untuk berdamai dengan masa lampau, Filosofi Kopi diadaptasi dari novel terlaris karya Dee Lestari.
>> Opening night, 14 April, 19:00, $20

Another Trip To the Moon (2015)

Didasarkan dari mitologi Jawa, sutradara Ismail Basbeth sukses membuat alur cerita yang dipenuhi legenda kuno dan konvensional. Di lain sisi, Ismail berusaha merubah sosok pahlawan maskulin dengan kehadiran seorang wanita yang diperankan Tara Basro. Tara akan hadir untuk sesi tanya jawab seusai pemutaran film ini.
>> 15 April, 19:00, $18

Negeri Van Oranje (The Land of Oranje, 2015)

Film ini disutradarai Endri Pelita dan ditulis oleh Titien Watimena. Menceritakan tentang problema dan tantangan lima pelajar Indonesia yang sedang menyelesaikan studi mereka di Belanda, yang juga terkenal dengan sebutan Negeri Oranye.
>> 16 April, 19:00, $18

Hijab (2015)

Hanung Bramantyo mengangkat kisah seputar perbedaan peran antara pria dan wanita seperti yang layaknya terjadi di antara masyarakat Indonesia. Hijab merupakan salah satu dari banyak film garapan Hanung yang menyentuh isu sosial dan SARA. Pada film komedi/drama ini diceritakan empat wanita independen yang sukses mendirikan sebuah gerai hijab dimana kesuksesan mereka lalu mempengaruhi para suami mereka.
>> 17 April, 19:00, $18

The Sun, The Moon & The Hurricane (2014)

Melalui film ini, sutradara Andri Cung menghadirkan sebuah drama tentang dua pemuda yang terlibat asmara. Mereka harus menyesuaikan perasaan mereka dengan situasi masyarakat yang sedang marak dengan pemberitaan LGBT, bahkan beberapa figur publik telah menyatakan jika LGBT merupakan isu yang lebih serius ketimbang terorisme dan perang nuklir.
>> 18 April, 19:00, $18

Nay (2015)

Djenar Maesa Ayu yang ialah putri dari ikon perfilman Tanah Air, Sjumandjaja (1934-1985) memperlihatkan kebolehannya dalam berperan sebagai aktris sekaligus sutradara dan penulis naskah melalui drama tentang seorang remaja wanita yang dihadapkan berbagai dilema kehidupan. Nay dikejutkan dengan berita kehamilan dini dimana ia harus memilih antara menjadi seorang ibu dan mengejar karir.
>> 19 April, 19:00, $18

Badoet (Clown, 2015)

Sutradara kawakan Awi Suryadi kali ini mempersembahkan sebuah genre horor dengan menghadirkan arwah badut yang dibunuh oleh orang tua anak yang sempat ia aniaya semasa hidupnya. Badut ini kembali untuk menghantui segerombol anak muda. Bagi mereka, kunjungan ke karnival tidak akan sama seperti kunjungan biasanya.
>> Closing night, 20 April, 19:00, $20

Negeri 5 Menara (The Land of Five Towers, 2012) Educational Screening, hanya untuk sekolah

Affandi Abdul Rachman membuat film anak-anak ini dengan mengadaptasi dari novel bejudul sama oleh Ahmad Fuadi yang diambil dari kisah nyata. Layaknya Laskar Pelangi (The Rainbow Troops, 2008), film ini menonjolkan pesan agar kita dapat terus memegang teguh pendirian hidup serta pantang menyerah dalam meraih mimpi.
>> 19 & 20 April, 10:00, Book at ACMI [email protected]

 

 

Ralf (IFF)