Tahukah kamu kalau ada sebuah kepercayaan – bagi sebagian orang disebut sebagai agama – bernama Church of the Flying Spaghetti Monster (FSM). Meski FSM sudah eksis sejak ribuan tahun yang lampau, namun keberadaannya semakin menarik perhatian publik pada 2005 ketika seorang pemuda bernama Bobby Henderson yang kala itu berusia 24 tahun menulis surat terbuka mengenai FSM untuk menantang sistem pengajaran Intelligent Design (ID), yakni bahwa kejadian dunia dan keberadaan makhluk hidup hanya dapat dijelaskan melalui pemikiran tersendiri, bukan melalui proses ilmiah. Surat terbuka mahasiswa lulusan Universitas Oregon State tersebut ditujukan kepada Kansas State Board of Education.

Menurut Henderson, bila memang ID dapat diterima berbagai kalangan, maka kepercayaannya terhadap FSM sebagai Tuhan tidak boleh dimentahkan begitu saja.

Church of the Flying Spaghetti Monster – juga dikenal sebagai Pastafarianism – memuja Flying Spaghetti Monster karena dipercaya memiliki kekuatan supernatural yang berkuasa atas Bumi dan segala isinya. Alkisah, ribuan tahun yang silam FSM mengkonsumsi alkohol terlalu banyak hingga jatuh mabuk dan menciptakan dunia.

Tidak ada peraturan ataupun ritual tertentu bagi para pengikut FSM. Yang pasti, Pastafarianism percaya bila pirates (bajak laut) merupakan para petualang suci yang cinta kedamaian. Pirates adalah penyembah sejati Pastafarianism yang dianggap sebagai kriminal oleh masyarakat jaman sekarang akibat pengajaran yang salah oleh orang-orang yang tidak mengerti FSM.

Perihal doa, bila umat Kristiani kerap berkata “Amin”, maka Pastafarian biasa mengakhiri doa mereka dengan “R’Amen”.  Doa yang paling sering dipanjatkan adalah yang diajarkan Nabi Ragu yang berbunyi demikian:

Our saucer which art in a colander, draining be Your noodles. Thy noodle come, Thy meatballness be done on earth, as it is meaty in heaven. Give us this day our daily sauce, and forgive us our lack of piracy, as we pirate and smuggle against those who lack piracy with us. And lead us not into vegetarianism, but deliver us from non-red meat sauce. For thine is the colander, the noodle, and the sauce, forever and ever. R’Amen.

Layaknya agama lain yang memiliki surga, Pastafarianism juga percaya penyembah FSM akan masuk ke surga pada kehidupan selanjutnya. Surga FSM berisikan gunung-gunung vulkano bermuatan bir dan penuh dengan penari telanjang yang disebut stripper factory.

Teruntuk mereka yang tidak mengindahkan keberadaan dan kekuasaan FSM semasa hidupnya, setelah meninggal mereka akan menempati underground freezer of doom dimana mereka akan menggigil kedinginan. Tetap akan ada beer volcanoes dan stripper factory di underground freezer of doom, hanya saja bir yang tersedia merupakan stok lama yang sudah kadaluarsa dan semua stripper yang ada mengidap penyakit kelamin yang menular.

 

FSM DI AUSTRALIA

Bukan tipu, bukan canda. Di Australia sendiri, Pastafarianism telah menyatakan eksistensinya dengan rencana pendirian partai politik Party for Pastafarians (P4P) dan keikutsertaan pada pemilihan umum mendatang. Hanya saja, hingga berita ini ditulis, masih dibutuhkan registrasi keanggotaan sejumlah minimum 500 orang sebelum P4P dapat diresmikan.

Seperti yang dilansir dari situs Australian Pastafarian Lobby, bila terpilih nanti, P4P akan mengambil langkah perbaikan hukum Australia dengan kebijakan-kebijakan baru, antara lain:

  • menghilangkan pajak bir karena bir merupakan minuman suci Pastafarian
  • hidangan pasta harus disediakan setiap sekolah sebagai santapan sehari-hari para murid
  • akhir pekan akan menjadi tiga hari dengan ditambahnya Hari Jumat sebagai Hari Suci Pastafarian

dan tentu saja…

  • deklarasi kebangsaan sebagai Australian Pasta Republic.

Bak film-film tentang bajak laut, posisi yang dibutuhkan untuk P4P dan terbuka bagi siapa saja yang berminat adalah:

  • Captain (Presiden)
  • First Mate (Wakil Presiden)
  • Quartermaster (Bendahara)
  • Navigator (Sekretaris)
  • Several Able seaman (Anggota Komite)
  • Bosuns (Kandidat Perwakilan Rakyat)

 

KISAH NYATA

Seorang warga Brisbane, Queensland harus berurusan dengan Pejabat Departemen Transportasi setempat karena dirinya urung melepaskan saringan pasta (colander) yang dipakai di atas kepalanya saat pengambilan foto surat ijin mengemudi.

Simon Leadbetter lantas mengungkapkan keberatannya atas perlakuan diskriminasi yang ia terima. Pria 31 tahun tersebut mengatakan saringan pasta itu adalah kepercayaannya dan bila penganut agama lain boleh mengenakan turban atau hijab, mengapa dirinya diperlakukan beda.

Di lain pihak, Departemen Transportasi Queensland (TMR) menanggapi kasus ini dengan memberi pernyataan bahwa aksesoris kepala diperbolehkan pada pengambilan foto untuk SIM hanya apabila berhubungan dengan suatu kepercayaan dan aksesoris tersebut dikenakan setiap hari ketika berada di area publik. Dengan kata lain, jika saringan pasta tersebut hanya dikenakan untuk keadaan tertentu dan tidak wajib dipakai setiap saat ketika berada di area umum, maka dianggap dapat dilepas untuk pengambilan foto SIM.

Lain halnya dengan Preshalin Moodley, mahasiswa jurusan sains di Sydney, New South Wales yang berhasil mendapatkan SIM dengan foto dirinya mengenakan saringan pasta September kemarin. Guy Albon asal Adelaide, Australia Selatan juga mendapatkan kartu ijin kepemilikan senjata api dengan foto saringan pasta di atas kepalanya, meski setelahnya Guy harus menjalani pemeriksaan psikiatrik sebelum senjatanya dikembalikan.