Gus Nadir memberikan pandangannya terhadap radikalisme dan Islamophobia

Bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha pada 1 September lalu, Forum Masyarakat Indonesia di Australia (FMIA) mengadakan diskusi bertajuk Preventing Radicalisation and Islamophobia in Our Diverse Society”. Tema yang dipilih boleh jadi cukup berat dan sensitif namun perlu untuk diangkat, terutama dengan berbagai konflik antaragama yang terjadi dan bibit intoleransi yang kian terlihat menjangkiti negeri Indonesia yang sesungguhnya begitu plural.

Di tangan tiga panelis yang dihadirkan, yakni Profesor Vedi Hadiz, profesor Asian Studies dari University of Melbourne; Profesor Greg Barton, ketua Global Islamic Politics di Alfred Deakin Institute for Citizenship and Globalisation di Deakin University; dan Dr Nadirsyah Hosen atau yang akrab disapa Gus Nadir sebagai dosen senior di Fakultas Hukum Monash University sekaligus Rais Syuriah Nahdlatul Ulama (NU) cabang Australia dan Selandia Baru (New Zealand), serta dimoderasi oleh Putu Laxman Pendit, tema berat ini menjadi begitu memikat untuk disimak. Sesi tanya jawab juga menjadi begitu hidup dan interaktif. Diskusi yang berlangsung selama tiga jam di Old Arts Theatre Building, University of Melbourne, pun tidak terasa panjang dan membosankan.

Para panelis berfoto bersama panitia FMIA

Manifestasi Frustasi di Era Modern

Menurut Profesor Vedi, radikalisasi agama dan sentimen rasial yang terjadi sesungguhnya dipicu dari rasa frustasi terhadap janji-janji modernisme yang tidak terwujud. Fakta menarik yang dipaparkan adalah bahwa proses radikalisasi ini bukan dari orang yang tidak berpendidikan. Berdasarkan sebuah penelitian di Timur Tengah yang dilakukan sekitar 10 tahun lalu, 70% para jihadi yang teridentifikasi merupakan lulusan universitas dan biasanya insinyur. “Jika dulu kita diajari untuk rajin sekolah, kerja keras, maka kamu akan maju. Tapi sesungguhnya struktur sosial tidak berlaku seperti itu.”

Tak hanya itu, lebih jauh mengenai fenomena radikalisme dan Islamophobia yang terjadi ini digunakan untuk kepentingan di panggung politik. Hal ini (sentimen terhadap Islam) bahkan kemudian juga digunakan oleh pemimpin sayap kanan seperti Donald Trump, Geert Wilders, Marine Le Pen untuk mendulang suara. Sebaliknya (namun tetap dengan tujuan utama sama: kepentingan) di negeri seperti Indonesia, kelompok-kelompok ekstrimis seperti FPI, FBR dan lainnya juga ‘dipelihara’ karena berfungsi untuk memobilisasi massa.

Gus Nadir juga melontarkan otokritik bahwa ada faktor internal Islam yang perlu dibenahi, namun seiring dengan hal itu, faktor eksternal pun harus mendukung. Peliknya, ketidakadilan di dunia seperti kasus Israel dan Palestina masih terjadi, begitu pula dengan ketimpangan ekonomi. “Mudah sekali mempermainkan emosi, apalagi jika sudah bicara soal agama,” tuturnya.

Yang Waras Tidak Boleh Mengalah

Lalu bagaimana kita meredam upaya penyebaran radikalisme sekaligus gejala islamophobia? Menurut Profesor Greg, sudah seharusnya mainstream majority, dalam hal ini kaum Muslim moderat untuk lebih aktif dan percaya diri bersuara. Kaum ekstrimis secara angka tidak banyak, tapi biasanya lebih ‘berisik’.

(dari kanan): Putu Laxman Pendit (moderator), Prof. Vedi Hadiz, Dr. Nadirsyah Hosen, Prof. Greg Barton

Di sela-sela diskusi, Gus Nadir secara blak-blakkan menceritakan bahwa hari itu, di saat Idul Adha pun beberapa follower-nya di Twitter masih mengadukan khotbah-khotbah dengan muatan kebencian, berhubungan dengan politik, serta menyinggung SARA. “Bisa tidak ya, kita bikin apps, untuk para Muslim moderat dan para silent majority ini untuk tahu mesjid mana yang punya penceramah yang baik, jadi kita bisa ke sana. Sekarang orang banyak yang walk out dari mesjid yang menyampaikan hate speech. Tapi ketika pindah mesjid lain, kontennya sama saja,” terangnya.

“Kalau dulu ada ujaran ‘sing waras ngalah’, sekarang tidak bisa begitu lagi. Orang waras tidak boleh diam saja. Yang waras dari majoritas maupun minoritas harus bersatu,” seru Gus Nadir yang juga mengingatkan bahwa penyebaran ajaran radikalisme efektif memanfaatkan kanal media sosial. Artinya, kita pun bisa ambil bagian untuk bersuara merawat ideologi pancasila dan tetap memelihara nalar.

 

Apa Kata Mereka

Ana Surjanto

Insightful dan sangat membuka mata. Saya sangat terkesan dengan para pemateri hari ini karena substansinya berhasil disampaikan dengan baik, khususnya bagaimana menjaga NKRI. Jujur saja temanya berat, tapi memang itulah yang terjadi di Indonesia dan berbagai negara terkait radikalisasi dan Islamophobia ini. Saya merasa mendapat pencerahan luar biasa, apalagi saya sebagai generasi muda harus berpikir lebih luas dan harus memikirkan sudut pandang-sudut pandang lain agar lebih bijaksana. Ke depannya kita butuh lebih banyak diskusi seperti ini.

Nudia Imarotul Husna

Saya suka mengikuti Gus Nadir di media sosial, jadi ada beberapa materi yang beliau sampaikan, sudah sempat aku baca. Tapi tetap mendapat banyak ilmu baru dan sangat penting, khususnya anak muda seperti saya untuk menyikapi berbagai macam radikalisme dalam agama. Apalagi tadi juga disampaikan bahwa anak muda mudah sekali terpengaruh. Jadi acara semacam ini sangat bermanfaat. 

Andrew Wanandy

Bagus banget bahkan melebihi ekspektasi saya karena ada beberapa pandangan yang berbeda tapi saya suka justru. Apalagi juga penggunaan media sosial yang berlebihan untuk menyebar kebencian. Penting untuk berdiskusi seperti ini maka kalau ada terus lebih baik, karena NKRI dan pancasila harus dirawat terus. Saya juga ingin membuat ini di Sydney bulan Oktober, jadi saya memang sengaja datang untuk bertemu para panelis.

 

 

 

Deste