Nama Sri Wulandari Lorraine Guritno, atau yang dikenal Wulan Guritno tentunya sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Dengan segudang nominasi dan penghargaan yang telah ia torehkan di dunia perfilman Indonesia, menjadikannya seorang praktisi handal di bidang industri entertainment.

Pekerjaan artis sinetron, layar lebar, iklan, presenter telah diembani sebelumnya dan tentu karyanya abadi dan terus berjalan hingga hari ini. Seorang Wulan Guritno hari ini pun tetap terkenal seiring tahun berjalan, dengan karya dan kontribusi yang tak henti-hentinya mulai dari aktris, produser, dan wirausahawan dari PT. Alkimia yang mencakup usaha kecantikan (Poetre Spa, Poudre), kuliner (Kokoa & Co, Chokocha Float, Cultivar Coffeehouse) dan busana MAHA Mukena.

Tidak ketinggalan, wanita kelahiran London, Inggris ini sekarang aktif mewadahi aktivitas sosial yang ia bentuk bersama rekan-rekannya, yaitu Gelang Harapan. Di kesempatan Indonesian Students Symposium yang diadakan oleh PPIA Monash dan LPDP Monash, Buset mendapatkan kesempatan untuk wawancara bersama aktris yang satu ini mengenai kehidupannya berkarier di dunia hiburan sekaligus mengembani kewirausahannya serta menjadi ibu dari tiga anak.

Apa yang pertama kali Wulan pikirkan saat menerima undangan untuk jadi pembicara di Melbourne?

Sewaktu lagi diundang tuh aku nanya, ini bukan aku speaker yang pakar kan? Karena I am not, aku adalah seorang praktisi, kalau for sharing I would really love to do it, karena pasti kalian akan menjadi praktisi juga. Kadang ya senang, what I’m doing ternyata ada interest some people ya, kalau (bagai) main film tuh kayak dapat Piala Citra.

Bagaimana membuat Projek Gelang Harapan tidak stagnan dan trending sesaat saja?

To be honest, it happens. In business, ya seperti itu. Kita harus mengolah what’s new, what’s next, gimmick apalagi yang dapat digunakan. Tahun pertama pas viral produknya tersebut laku keras, tahun kedua menurun sedikit namun didukung dengan beberapa event. Tahun ketiga? Drop. Karena semua orang sudah punya gelangnya, karena sudah dapat dibeli lewat e-commerce.

Akhirnya, semua orang sudah punya terus kemudian saya mencoba untuk target Millennials. Yang aku lihat kalau di era Millenials sekarang kalian lebih banyak ke creative people dan akhirnya yang kalian senangi itu something like DIY, make your own, you feel a sense of belonging dari produk. Makanya all brands tanpa disadari jadi personalised, bukan hanya sekadar ada nama kamu tetapi lebih jadi personalised ke sesuatu.

Makanya aku coba untuk buat seperti itu dan kita juga melihat harus kolaborasi, contoh Fendi x Off-White. Itu yang aku lakukan juga, ada gelang yang nanti kolaborasi dan akan dijual dengan harga yang lebih mahal. So we’ll use things around us sebagai awalan, kayak pertama kali saja pakai kain mama Ghea. Kalau dibilang gak struggling ya gak mungkin, karena semuanya struggle. Yang bisa semangatin kita adalah big brands, saat mereka melakukan sesuatu yang belum tentu berhasil dan akhirnya menemukan jati diri lagi pas diinovasi lagi. So, there’s always hope kalau kita tidak patah semangat dan terus riset, tidak asal mencari.

Selain yayasan, Wulan juga aktif di dunia film, lalu ada juga peranan di PT Alkimia. Gimana cara Wulan sebagai ibu dari tiga anak mengurus semua tanggungjawab ini?

Kalau untuk dunia entertainment ada management yang selalu berubah rhythmnya, kita selalu omongin itu yang paling urgent mana? Yang lebih membutuhkan untuk aku terjun langsung, misalnya Gelang Harapan. Aku lebih cocok di film karena proses film itu one at a time, so I can still do things.

Yang paling pertama itu keluarga, jadi anak-anak gak bertanya “siapa sih itu?” gak kayak gitu, my children are very close to me. Waktu mau ke sini saja nangis dan mereka minta ditelpon setiap dua jam sekali.

Akhirnya, kita harus lebih aware dan memilih, gak maruk tapi berusaha bagaimana karir dan cita-cita kita pada akhirnya itu bisa terwujud. Ada orang yang bisa jadi ibu rumah tangga, tapi aku gak bisa karena ada mimpi dan cita-cita. Tapi ya, tetap berusaha agar hal-hal yang di belakang tidak terbengkalai. Jadi memang harus dipilih, pasti ada trial and error ketika semuanya bertumbukan, dan jadi gila, it happens, tp kita belajar lagi untuk atur yang benar.

Pesan untuk pelajar Indonesia?

Kalau tadi kita lihat dari penjabaran profesor Ariel, ternyata Indonesia gak keren-keren amat di mata dunia yah? Jadi jangan gengsi dulu, tapi bukan jadi minder tapi jadi masukan untuk kita semua. Semua orang punya talenta tersembunyi. Aku selalu tekankan hal ini kepada anakku, Shalom. Aku selalu bilang sama dia, ‘kamu tuh beruntung bisa memiliki kesempatan untuk melihat dunia duluan, tidak seperti yang lain. Yang lain harus berkarier, untuk melihat dunia!’

Untuk kalian yang memiliki kesempatan emas yang tidak bisa dicapai oleh remaja lain, kalian bisa melihat dunia duluan. Kemampuan merekam itu menjadikan kalian sebagai orang yang open-minded sehingga bisa memajukan diri, yang paling utama, dan kemudian Indonesia dengan cara kalian masing-masing dimanapun kalian berada.

Benar tadi kata Pak Halim, dimanapun kalian berada your blood is Indonesian. Kebetulan karena aku aktif di dunia film, aku tahu kalau sekarang ternyata di Disney juga banyak editor asal Indonesia, itu kan artinya memajukan sesuai cara mereka, at the end akan kebaca kalau kita pun berpengaruh di dunia ini. Jadi, do your thing dan semangat!

Adisa