Seorang pria berambut gondrong tampak berdiri di tengah studio mengenakan headset. Di depannya ada sebuah mikrofon tua. Ia lalu mulai membentak, berteriak, dan memaki. Sesaat setelahnya ia berteriak ketakutan, gemetar, lirih, dan putus asa. Kami, para penonton, menerka bahwa pria tersebut adalah seorang dubber atau pengisi suara. Kami pun menebak, apakah pria ini tengah mengisi suara seorang eksekutor dan korban sekaligus untuk sebuah film tentang peristiwa di tahun 1965? Selama 12 menit, dengan setting sederhana namun ditopang akting prima dari aktor tunggal, Pritt Timothy, film karya Bayu Prihantoro Filemon ini berhasil mencekam penonton. Tragedi paling berdarah di Indonesia ternyata bisa ditampilkan tanpa darah, tanpa kekerasan – hanya meneror lewat suara. Film pendek berjudul On The Origin of Fear ini tayang perdana di Venice International Film Festival dan jadi salah satu dari empat film yang diputar dalam acara pre-event Indonesian Film Festival 2018, yang diberi tajuk Through The Lens.

Film pendek lain yang turut dipertontonkan di gedung Arts West, University of Melbourne 19 April lalu, di antaranya The Malediction (Ruah), Pria, dan Tembus. Untuk judul terakhir, merupakan pemenang IFF Short Film Competition tahun ini dan sengaja dipremierkan malam itu. Tiga panelis yang hadir, di antaranya Ariel Heryanto, Peter Krausz, dan Helen Gaynor; membedah dan memberi respons di setiap akhir film. Ariel Heryanto memperkaya konteks ke-Indonesiaan agar lebih mudah dipahami, sedangkan Peter dan Helen juga melengkapi bahasan seputar teknik, simbolisasi dan narasi berdasarkan keahlian masing-masing. Para penonton pun bebas memberi komentar dan pertanyaan.

Masing-masing film memang memberi warna tersendiri. Tema yang diangkat pun beragam, meski kita bisa menangkap benang merah: mendobrak tabu dan cukup vokal bersuara terhadap isu-isu yang terkait urusan agama dan moralitas. Soal judi (togel), poligami, tragedi 65, dan LGBTQ. Seperti yang diungkap Ariel Heryanto berulang-ulang malam itu, film-film pendek semacam ini sulit diputar di ruang publik di Indonesia walau mungkin tetap dapat dinikmati dalam forum terbatas. Toh, tiga film pendek yang diseleksi panitia (The Malediction, On The Origin of Fear, dan Pria) bukan berarti sulit mendapat panggung, ketiganya telah mendapat pengakuan internasional dan nasional.

Seseorang pernah berkata bahwa fiksi merupakan medium paling jujur, apapun bentuknya. Malam itu, kejujuran itu tampak lewat karya para sineas Tanah Air. Walau kita pun tahu, kejujuran atau kebenaran selalu sulit diterima. Begitu pula dengan film-film yang jujur bersuara juga mungkin tak bisa terlalu lantang bersuara di negeri sendiri.

 

klik di sini untuk info lebih lengkap mengenai IFF 2018

 

 

Apa Kata Mereka

Ariel Heryanto

Membuat acara seperti ini tidak mudah, jadi saya sangat menghargai mereka yang terlibat, mengusahakan, dan menyelenggarakan acara ini. Tentu masih banyak bolong dan kurang, tapi saya berharap masyarakat Indonesia di Melbourne juga membantu untuk mengisi yang kurang  dan memperbaiki. Saya bukan pertama kali mengikuti acara ini, terus terang saja tahun-tahun sebelumnya film-filmnya lebih bagus, tapi ya mungkin karena ini yang tersedia. Buat saya paling berskesan di antara seleksi film-film pendek ini adalah On The Origin of Fear. Karena saya banyak mempelajari topik 65, saya merasa topik ini sulit dibuat, kompleks dan sangat tidak menghibur. Sutradaranya bisa mengemas dengan cara yang unik di film itu. Ada banyak adegan yang lucu dan dimainkan hanya oleh satu orang saja, buat saya itu dahsyat.

 

Titis Pratiwi

Acara ini bagus banget, memberikan snapshot kehidupan masyarakat Indonesia dan ditampilkan secara menohok dan menggemparkan. Pemilihan lineup film-film pendek ini juga sangat pintar. Saya rasa ini jadi kekuatan acara ini. Saya akui sih, film-film semacam ini agaknya sulit diputar di Indonesia. Favorit saya malam ini, On The Origin of Fear, sederhana tapi efeknya nonjok banget.

 

 

 

Deste