Setelah mendirikan sebuah agensi desain digital, Relab, banyak orang kemudian bertanya dan meminta masukan pada saya, bagaimana membangun dan menjalankan bisnis kreatif berorientasi desain? Saya tentu menikmati berbagi kisah mulai dari pelajaran menyakitkan hingga sukses manis mengembangkan agensi desain milik sendiri. Jadi mengapa tidak, saya juga

berbagi tips lewat tulisan dan semoga saja dapat membantu Anda membangun bisnis impian.

Tulisan kali ini fokus pada persiapan awal saya sebelum membangun Relab hingga kemudian mulai berjalan. Saya sadar tiap orang punya konteks situasi berbeda-beda, maka izinkan saya memberi catatan bagi pembaca.

Catatan Saya untuk Pembaca

s a t u
Saya mulai freelancing sejak masih jadi mahasiswa, dan saya percaya kebanyakan orang melakukannya. Maka, Anda boleh mengatakan bahwa saya mulai “membangun” agensi desain saya sejak saat itu.
d u a
Saya ingin menekankan bahwa ini merupakan cara saya saat membangun Relab. Anda bisa saja mengambil langkah yang berbeda, tapi saya percaya prinsip dasarnya tetaplah sama.
t i g a 
Saya menggunakan 3.000 Dollar (Australia) sebagai modal dasar untuk membeli peralatan. Secara teknis, yang Anda butuhkan adalah laptop, software, dan koneksi internet. Jika ketiganya sudah Anda miliki, modal yang Anda butuhkan 0 Dollar dan Anda tinggal memulai.

 

Langkah 1: Cari Tahu Alasan Anda

Ini adalah langkah yang harus dipikirkan pertama kali, karena ketika merintis bisnis sendiri Anda tidak akan pernah berada di jalan yang selalu nyaman.

Sejak masa remaja, saya selalu ingin menjadi bos untuk diri sendiri. Waktu itu, saya membayangkan menjalankan agensi kecil-kecilan dengan 4-5 staf di sebuah area hipster. Untunglah, Relab bertumbuh lebih besar dari mimpi saya.

Poin yang tak boleh dilupakan, Anda harus mampu memiliki gambaran besar terhadap apa yang Anda lakukan, sehingga memperkuat sense of purpose, terutama saat Anda sedang goyah. Secara personal, saya percaya bahwa setiap orang dapat berjalan sejauh apa yang mereka inginkan.

Langkah 2: Sisihkan uang dan tabung

Saya bekerja full-time di suatu perusahaan selama empat tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk bekerja paruh waktu (part-time). Hal ini dilakukan bukan semata-mata untuk menyisihkan uang tapi juga untuk mendapat pengalaman. Jika Anda baru saja lulus kuliah, percayalah, Anda butuh waktu untuk menimba pengalaman. Anda boleh saja jadi desainer berbakat lulusan sekolah bergengsi, tapi Anda tetap butuh belajar bagaimana berkolaborasi, memperjuangkan ide-ide, berinteraksi dengan orang lain hingga me-manage anak buah.

Cobalah berhemat. Sisihkan 10% – 30% gaji Anda untuk mimpi Anda. Dalam beberapa bulan, Anda harus sudah memiliki tabungan 2.000 Dollar, yang menurut saya merupakan titik aman pertama untuk deposit personal.

Saya juga perlu menambahkan bahwa saat itu saya belum menikah atau punya anak, sehingga terbilang mudah untuk menabung. Jika Anda memiliki keluarga, mungkin Anda butuh waktu lebih panjang dan disiplin yang kuat.

 

Langkah 3: Cari proyek sampingan paruh waktu

Anda boleh saja ekstra antusias dan nekat melepaskan semuanya untuk segera berdiri sendiri, tapi Anda harus menerima kenyataan bahwa kita tetap membutuhkan uang untuk membayar aneka kebutuhan hidup. Saya tetap menyarankan Anda untuk menemukan pendapatan tetap. Dalam kasus saya, saya tetap bekerja part-time agar punya pemasukan yang stabil tiap bulannya.

Dengan bekerja part-time, Anda masih menghasilkan uang dan punya waktu untuk mendapatkan klien dan membangun agensi desain Anda. Jika Anda bekerja sebagai part-time designer, bekerja 3 -4 hari per minggu, Anda bisa menghasilkan sekitar 2.000- 3.000 Dollar per bulan. Anda juga tak harus bekerja sebagai desainer, selama Anda mendapat cukup pemasukan untuk membiayai kebutuhan hidup hemat Anda .

Faktanya, saya malah merasa lebih baik bekerja di bidang yang tidak ada kaitannya dengan desain, misalnya saja di industri retail atau hospitality. Cobalah cari pekerjaan yang dapat mengajarkan Anda keterampilan berharga untuk menjalankan bisnis dan menghadapi klien karena kecakapan tersebut sangat dibutuhkan saat membangun agensi Anda sendiri.

Saya sempat bekerja part-time sebagai koordinator marketing di sebuah organisasi non-profit. Menariknya, setelah 8 jam menekuni pekerjaan marketing, saya jadi bersemangat untuk mengerjakan proyek-proyek desain saya saat sampai di rumah. Hal ini membuat hari-hari saya tidak membosankan.

 

Langkah 4: Beli peralatan yang dibutuhkan

Saatnya bicara soal peralatan dasar yang dibutuhkan seorang desainer dan memperhitungkan biayanya ke dalam bisnis

Anda. Jika Anda tidak memiliki komputer, maka ini menjadi investasi bisnis pertama Anda. Anda bisa menggunakan simpanan Anda (lihat Langkah 2), tapi Anda harus tetap memiliki kas darurat paling tidak 2.000 Dollar untuk bisnis Anda karena biaya tak terduga dapat datang kapan saja.

Bagi pengguna Mac, saya sarankan untuk membeli laptop Apple yang sudah diperbarui (refurbished) secara resmi untuk menghemat biaya. Lebih murah, tampak seperti baru, dan tentunya mengurangi resiko ketimbang Anda  mendapatkan laptop second-hand dari eBay.

Lebih detailnya, 13-inch MacBook Pro. Pilih satu yang memiliki spesifikasi tepat guna.

Sebagai studio desain pemula, Anda perlu mengedepankan fleksibilitas karena Anda harus menghadiri meeting di cafe, kantor klien, atau bekerja dari rumah. Kehadiran laptop tentu akan mendukung mobilitas Anda. Jika Anda memiliki uang lebih, belilah sebuah monitor besar yang memiliki kisaran harga 600 – 800 Dollar.

Anda juga membutuhkan lisensi perseorangan untuk software Adobe yang harus dibayar di muka. Selain itu, jangan menghabiskan dana berlebihan untuk menyewa kantor. Bekerjalah dari rumah atau di area publik.

Modal untuk agensi desain Anda:

MacBook Pro yang diperbarui                 $ 2.000

Lisensi tahunan untuk software Adobe    $ 900

Kas darurat (penting untuk dimiliki)        $ 2.000

TOTAL                                                  $ 4.900

 

Langkah 5: Hustle, hustle, hustle

Teruslah berjuang berbagi waktu dan kerja untuk membangun agensi desain Anda. Jangan terlalu memilih-milih klien. Pekerjaan dan klien yang ideal tidak selalu datang, tapi jika konsisten Anda akan mendapatkannya.

Tips lain, berterus terang saja pada atasan Anda dan katakan pada mereka bahwa selain pekerjaan yang sedang dijalani, Anda tengah membangun bisnis Anda sendiri. Mereka akan menghargai kejujuran Anda.

Dalam kasus saya, klien pertama untuk Relab adalah organisasi non-profit tempat saya bekerja. Bagi saya di masa-masa awal membangun bisnis, kehadiran klien reguler lebih baik daripada klien yang hanya datang untuk sekali proyek karena sangat membantu perputaran bisnis.

Jika Anda telah berani melangkah, selamat! Anda telah melakukan lompatan pertama menuju “rimba” penuh hal-hal baru. Tetap fokus, lanjutkan apa yang Anda lakukan.

 

 

 

 


Alvin Hermanto adalah principal Relab Studios, sebuah digital design agency di Melbourne. Dia juga merupakan inisiator Spektrum Podcast, yakni podcast channel berbahasa Indonesia yang membahas mengenai dunia desain untuk komunitas masyarakat Indonesia di Melbourne (tersedia di iTunes dan Soundcloud).