Jika melihat dari definisinya, diaspora Indonesia atau orang Indonesia perantauan adalah orang-orang Indonesia yang menetap di luar Indonesia. Istilah ini berlaku bagi orang-orang yang lahir di Indonesia dan berdarah Indonesia yang menjadi warga negara tetap ataupun menetap sementara di negara asing. Definisi ini pernah muncul di The Jakarta Post dan bisa Anda intip lewat Wikipedia.

Untuk menyegarkan kembali ingatan kita, kebangkitan gerakan diaspora ini muncul pertama kali melalui Congress of Indonesian (CID) di Los Angeles Convention Center tahun 2012 silam, diprakarsai oleh Dino Patti Djalal yang saat itu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Gerakan ini kemudian mengglobal, tak ketinggalan pula warga diaspora di Australia, khususnya Victoria, turut bereaksi. Kemudian untuk menjawab kebutuhan tersebut dibentuklah Indonesia Diaspora Network pada tahun 2013. Kala itu diketuai oleh Lucky Kalonta, Martin Nanere, dan juga bersama Yacinta Kurniasih dan Iman Sentosa.

Rapat akhir tahun Indonesian Diaspora Victoria diarahkan oleh Konsul Jenderal Dewi Wahab (kiri) dan Iman Sentosa (kanan)

Empat tahun sudah berlalu, dan seperti yang diutarakan Iman Sentosa saat berlangsungnya Indonesian Diaspora Victoria End of Year 2017 Meeting di KJRI Melbourne 10 Desember lalu, Indonesia Diaspora Network di Victoria ini seolah mati suri. Ia mengibaratkan seperti berada di dalam ruangan ber-AC, terasa sejuk sehingga tidak kemana-mana. Atau bahkan seperti motor yang punya power besar tapi tidak dioptimalkan dengan baik. Maka di dalam rapat yang dihadiri Dewi Savitri Wahab selaku Konjen RI di Melbourne dan hanya nyaris 20 peserta, diharapkan bisa bangkit kembali.

Persoalannya memang tidak mudah, komunitas ini dihadapkan banyak pertanyaan dan pekerjaan rumah yang kompleks. Apalagi berada di Victoria yang sudah memiliki 51 organisasi masyarakat yang sangat aktif. Posisi dan misi dari IDN di Victoria kemudian menjadi bahasan sentral yang perlu didiskusikan mendalam. Dewi Savitri Wahab mengingatkan bahwa peran Indonesia Diaspora di Victoria ini harus lebih strategis dan punya visi jangka panjang yang lebih dipikirkan, ketimbang mengurusi isu-isu yang mungkin saja sudah di-tackle oleh komunitas lain.

Dewi berbagi berita bahwa baru-baru ini Tim Lindsey juga menuliskan dalam Foreign Policy White Paper bahwa diaspora Indonesia di Australia sangatlah kecil dan tidak membuat “kegaduhan”. Ia juga menambahkan bahwa Indonesia seharusnya bisa lebih vokal bermain pada isu strategis, seperti kesempatan ekonomi dan memperkenalkan Islam Indonesia yang liberal – yang sayangnya dalam pembahasan tersebut di Victoria seringkali diwakili oleh Turki ketimbang Indonesia.

Maka dalam pembahasan yang bergulir, disepakati bahwa IDN di Victoria harus aktif menjadi bagian dari masyarakat multikultural di Victoria dan membangun jembatan terhadap isu-isu strategis. Tak hanya merangkul para masyarakat Indonesia di Victoria tapi juga terlibat dengan kegiatan global. Beberapa misi yang disepakati di antaranya, persoalan masyarakat majemuk, mewakili Islam yang benar dan aktif, dwikewarganegaraan, kesempatan kerja atau ekonomi di antara kedua negara Australia dan Indonesia.

Dalam rapat ini, dengan pertimbangan bahwa yang hadir tidak terlalu banyak, maka dipilihlah caretaker untuk terlebih dulu mensosialisasikan visi dan misi baru yang terbentuk sembari menunggu annual meeting yang akan dilangsungkan pada kuartal pertama tahun 2018. Mereka adalah Diski Naim, Sulistyawan Wibisono, Windu Kuntoro, Yacinta Kurniasih, dan Antonius Tobing.

Semoga saja Diaspora Indonesia di Victoria mampu semakin berperan aktif menyuarakan serta memperjuangkan isu-isu strategis, juga menjadi bagian masyarakat multikultur yang sehat dan bersahabat.

 

 

Deste