Salah satu pameo beken dalam kung fu berbunyi: “sifu membukakan pintu, murid harus melangkahkan kaki untuk masuk.” Maksudnya seorang guru mengajarkan gerakan atau jurus. Agar bisa menguasai dan mahir dalam jurus dan gerakan maka si murid sendiri yang harus tekun dan serius melatih ilmunya. Tanpa sang murid “melangkah” maka tidak ada hasilnya juga.

Hal serupa berlaku pula dalam mengaplikasikan feng shui. Sang praktisi membantu dengan analisa, memikirkan apa solusi dan kiat yang perlu dilakukan demi kebaikan sang klien. Nah, si klien juga perlu “melangkah” dengan mengaplikasikan sepenuhnya semua “jurus” yang telah diajarkan. Tak boleh lupa pula harus “melangkah” dalam arti melakukan semaksimalnya usaha dan tindakan untuk mewujudkan perubahan positif.

Ibaratnya sang praktisi feng shui bantu menyiapkan lahan yang kondusif dan subur buat bercocok tanam. Si petani (klien) tetap harus menyemai bibit, merawat, memberi air pupuk dan sebagainya. Baru akan mendapatkan panen yang baik dikemudian hari.

Sayangnya logika di atas sering diabaikan atau tidak diketahui. Jadi anggapannya kalau sudah mengaplikasikan feng shui maka bisa dan boleh berleha-leha. Problem akan otomatis pergi. Semuanya (hoki, jodoh dan lainnya) akan datang sendiri. Akibatnya lahan subur yang sudah disiapkan jadi kurang berarti.

Feng shui memang bukan magik, praktisi feng shui pun bukan Merlin sang pembuat keajaiban. Tetapi dengan aplikasi feng shui yang tepat, benar dan objektif plus usaha dan kerja keras maka banyak hal-hal yang tidak mungkin bisa didapat atau terwujud.

Dari pengalaman puluhan tahun, banyak sekali contoh kasus yang sudah saya lihat dimana tidak ada hasil atau hasilnya minim gara-gara si murid tidak melangkah, gara-gara sang petani malas mengurus tanamannya. Mereka-mereka yang kooperatif sepenuhnya lah yang akan mendapatkan perubahan positif yang maksimal dalam hidupnya melalui pengaplikasian feng shui yang tepat secara objektif dan rasional.

 

Make or Break Your Business with Feng Shui

Suatu pagi saya memanfaatkan udara nan sejuk untuk berjalan memutari daerah Pecinan di Sydney. Selain untuk berolahraga ringan, juga sekalian mencari tempat untuk sarapan. Seperti biasa, kapanpun dan kemanapun saya pergi dan berada, selalu saya pakai untuk melakukan analisa – of my own and for my own. Orang dan lingkungan sekitar yang menjadi objeknya.

Inilah salah satu cara untuk terus mengasah keterampilan agar tidak tumpul. Saya memilih satu restoran yang menyajikan xiaochi (makanan kecil) ala Taiwan buat santap pagi. Tempatnya sangat padat pengunjung, padahal di sekelilingnya ada beberapa restoran sejenis. Seraya menikmati susu dengan cakue dan hongdou cake, saya pun berkilas balik ketika saat kecil dulu tinggal di Tiongkok.

Saya lalu keliling Pecinan untuk observasi sekalian mengunjungi beberapa klien saya yang ada di sana. Yang saya lihat makin meyakinkan saya bahwa tempat bisnis tanpa ‘faktor panen’ yang baik maka kebanyakan akan mengalami kesulitan. Hal ini terbukti lagi dengan dua restoran yang bersebelahan. Jenis makanannya sama, akan tetapi kualitas bangunannya beda. Yang satunya ramah dan yang satunya lagi tidak ramah feng shui.

Benar memang jika feng shui bukan satu-satunya faktor kesuksesan, tetapi tanpa didukung oleh feng shui yang kondusif maka bisnis akan makin banyak problem dan bukan tidak mungkin (seperti yang sering saya jumpai) malah membawa kebangkrutan. Ibaratnya kita mendapatkan lahan yang subur atau yang tandus untuk bercocok tanam.
Suhana Lim
Certified Feng Shui Practitioner
www.suhanalimfengshui.com
0422 212 567 / [email protected]