Tidak bisa dipungkiri, kita berada di era yang membingungkan dan bikin gamang. Banyak ladang pekerjaan yang punah, berganti dengan profesi baru yang sebelumnya tidak ada. Area kerja yang dulu sangat diminati, bisa jadi tidak relevan kini. Perubahan dari dunia analog ke dunia digital begitu bergegas.

Ina Liem memberikan seminar “Meneropong Karier 2030”

Di era yang berubah cepat, kehadiran Ina Liem lewat seminar bertajuk “Meneropong Karier 2030” yang digelar oleh Superstar Education bekerjasama dengan Victoria University pada November lalu menjadi begitu bermanfaat. Meski hampir semua yang hadir sudah menentukan jurusan mereka di universitas, namun tidak ada kata terlambat untuk mempersiapkan tantangan masa depan yang masih panjang membentang.

Ina yang merupakan CEO jurusanku.com serta menjadi Top 2 Asia Career Direct Consultant ini dalam seminarnya membeberkan ada 3 hal yang membuat seseorang berpindah-pindah pekerjaan dan salah jurusan. Di antaranya karena kurang mengenal diri, salah persepsi, dan kurang informasi.

Di awal seminar, Ina melemparkan pertanyaan pada para tamu yang datang. “Apakah entrepreneurship itu?” Dari beberapa yang hadir menjawab bahwa visi, konsep, modal dan ide menjadi sangat penting saat mulai membuka bisnis. “Pantas saja, orang Indonesia kalau buka bisnis kalau tidak kuliner, ya fashion. Saya meneliti ada 70% orang Indonesia yang membuka kedua bisnis itu. Bukannya tidak bagus, tapi kalau 70%, kok tidak kreatif sekali,” respons Ina.

Menurutnya, entrepreneurship itu berkaitan erat dengan cara baru untuk menyelesaikan masalah (problem solving) dan menciptakan nilai (create value). Dengan kata lain, bukan dimulai dari ide, tapi mulailah dari problem yang dilihat sehari-hari. Kita cari solusi, dan selanjutnya akan bertemu dengan proses.

Ina mencontohkan, ada seorang mahasiswa lulusan ITB jurusan biologi bernama Gibran yang merintis bisnis dengan modal 400.000 rupiah. Ia membuka tambak ikan lele. Karena ia berada dalam industri tersebut dan peka terhadap problem yang dialaminya, ia menemukan fakta bahwa problem terbesar tambak ikan adalah pakan ikannya. Ia memetakan bahwa 50 – 80% biaya terbesar habis karena makanan ikan. Ia kemudian membuat alat bernama Efishery, yang secara otomatis dapat mengeluarkan makanan dengan jumlah secukupnya. Bahkan alat ini terkoneksi dengan internet sehingga bisa merekam data dan dioperasikan dari jarak jauh. Baru membuat prototype-nya, alat ciptaan Gibran ini sudah diincar pemodal venture dan para pembeli dari berbagai negara. Ilustrasi cerita yang diangkat Ina ini ingin menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Gibran memiliki unsur problem solving dan creating value.

Menyongsong Industri 4.0

Soal “tidak kreatif”-nya orang Indonesia dalam memilih jurusan dan karier juga tampak dari penelitian yang dilakukannya pada nyaris 12.000 siswa di 16 kota sepanjang tahun 2013 – 2016. Terlihat bahwa jurusan-jurusan yang paling banyak diminati adalah Manajemen, Kedokteran, Teknik, Akuntansi, IT, Psikologi, Arsitektur, Hukum, Perhotelan dan DKV (Desain Komunikasi Visual).

Padahal jika meneropong karier yang akan banyak dibutuhkan, ada begitu banyak peluang dari berbagai sektor yang mungkin saja tidak terpikirkan sebelumnya. Ina menjabarkan bahwa industri 4.0 akan banyak bergerak di area otomasisasi robot; 3D printing – yang artinya pabrik masa depan tidak akan membutuhkan banyak lahan karena home industry bisa memproduksi misalnya saja bingkai kacamata, smartphone case dan lain-lain; 5G yang menghadirkan era big data; internet of things; dan cyber security. Tren big data akan memberi prediksi bagi banyak hal dan akan sangat bermanfaat.

Berfoto bersama para peserta dan perwakilan dari Superstar Education dan Victoria University

Indonesia sebagai negeri kepulauan juga sesungguhnya punya potensi sangat besar di industri laut dan perikanan. Ina termasuk rajin memperkenalkan industri tersebut kepada anak-anak SMA. Faktanya, meski Indonesia negeri kepulauan tapi negeri kita ini tidak bisa disebut sebagai negara maritim karena baru memanfaatkan laut dan segala isinya sebesar 15 persen. Suatu negara disebut negara maritim jika ekonominya sebesar 40 – 50% ditopang laut dan tidak hanya tergantung pada luas laut. Negara kecil seperti Belanda dan Singapura layak menyandang negara maritim karena hal tersebut. Padahal dengan luas lautan yang dimiliki Indonesia, kita bisa mendapat 10.400 triliun rupiah per tahun hanya dari laut saja. Begitu pula dengan sumber energi terbaru yang dimiliki Indonesia bisa menjadi karier dan ladang pekerjaan yang menjanjikan.

Satu lagi catatan dari Ina, bahwa kelak manusia akan sangat bergantung pada fisika quantum karena diprediksi 15 tahun lagi atau sekitar tahun 2030, komputer tidak bisa lebih cepat lagi. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya economic collapse jika tidak ditanggulangi. Fisika akan menjadi bintang di masa datang.

Sepanjang dua jam, ada begitu banyak informasi yang bisa digali dan didapat. Pesan Ina yang juga penulis Kreatif Memilih Jurusan ini, agar kita mampu menjadi pelari cepat dan survive di era abad 21 maka kita harus memiliki self awareness dan harus rajin melakukan riset. Dan tentunya yang tidak kalah penting adalah memiliki entrepreneurial mindset. “Apapun jurusannya, kita harus bisa mencari problem dan create value,” ujarnya menutup seminar.

 

Ina Liem: Awas Tergilas Perubahan

Sebelum menjadi seorang infopreneur seputar jurusan kuliah dan tren karier, Ina rupanya juga sempat merasakan berpindah-pindah jurusan dan karier. Ia pernah mengenyam pendidikan Bisnis Manajemen, Desain Interior, bekerja di studio desain grafis, menjadi konsultan pendidikan hingga kemudian menjadi infopreneur sampai saat ini. Setelah seminar selesai digelar, Buset berhasil melakukan wawancara dengan Ina Liem seputar kesalahan mendasar memilih jurusan dan bagaimana menaklukkan tantangan di era disruptive (karena kehadiran teknologi) sekarang ini.

Jika berkaca dari pengalaman sendiri, apa kesalahan mendasar saat memilih jurusan?

Dulu, kenapa saya juga mengalami salah memilih jurusan karena prinsip memilih bidang studi anak hanya dilihat dari minatnya saja. Misalnya, ada anak suka gambar lalu pasti dia cocok masuk desain atau arsitek. Padahal dalam memilih jurusan, minat saja tidak cukup.

Mengapa minat saja tidak cukup?

Minat itu tergantung dari exposure. Karena kalau kita tidak pernah mencoba pasti tidak mungkin kita akan punya minat. Misalnya, kita tidak mungkin suka diving, jika belum pernah mencoba. Ini pula yang terjadi pada anak-anak usia sekolah. Kegiatan anak Indonesia umumnya terbatas dan tuntutan akademisnya besar. Dari pagi hingga siang sekolah, belum lagi dijejali les pelajaran. Karena kegiatannya terbatas, maka minatnya juga terbatas. Jika kita tidak pernah mencoba, maka opsi kedua adalah kita membaca tentang hal-hal lain yang belum pernah kita coba. Sayangnya, minat baca orang Indonesia sangat rendah (urutan ke 60 dari 61 negara). Selain minat dan bakat, ada pula kepribadian yang harus dicermati. Mengapa kepribadian penting? Karena faktanya, orang banyak memilih jurusan karena minat dan bakat, padahal banyak orang yang pindah karier karena kepribadiannya tidak pas dengan tempat kerja. Jadi itulah yang terjadi, kita salah jurusan karena tidak mengenal diri, tidak tahu kepribadian kita, dan tidak benar-benar dipetakan.

Banyak orang mengatakan bahwa sekarang ini merupakan era disruptive, bagaimana tanggapan Anda?

Ini memang jadi masalah dimana-mana di seluruh dunia. Prinsipnya, pekerjaan yang relatif aman dan tidak tergantikan dengan otomatisasi adalah pekerjaan yang menuntut kreativitas dan social intelegence. Jadi dua kata yang harus dihindari di era disruptive ini adalah, “aman” – jangan lagi mencari pekerjaan yang aman karena kita harus selalu aware dengan perubahan. Kedua, kata “rutin” karena kalau rutin sekarang ada algoritma yang bisa mencatatnya. Bisa diambil orang IT dan digantikan oleh mesin.

Bagaimana cara agar kita berhasil melalui era disruptive ini?

Seperti yang sudah saya jelaskan, kita harus memiliki entrepreneurial mindset, berani mengambil resiko dan kreativitas bisa menjadi solusi untuk keluar dari masalah.

 

 

 

Deste