dari kiri: Paul Bonnington (bas akustik, elektrik), Ade Ishs (piano, autoharp, vokal), Chelsea Allen (drum, vokal), Ee Shan Pang (trompet, vokal). (Foto disediakan, oleh: Windu Kuntoro)

Dua tahun lalu saat Ade Ishs bersama partner bermusiknya, drummer jazz Chelsea Allen mengeluarkan album perdana mereka berjudul ‘The ishs/Allen Project’ (TiAP), ia mewartakan bahwa dirinya akan kembali berkolaborasi dengan Allen untuk merilis album kedua.

Janji itu akhirnya mewujud lewat diluncurkannya album kedua mereka, ‘Stories Under The Sky’. Masih pula ditemani dua rekan mereka lainnya, Paul Bonnington pada bass dan Ee Shan Pang pada terompet. Istimewanya malam peluncuran album terbaru TiAP dilangsungkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2017 di Paris Cat, Melbourne. Tapi rupanya itu merupakan sebuah berkah dari ketidaksengajaan. “Waktu itu saya hanya mengutarakan keinginan saya untuk me-launching album baru sekitar bulan Agustus dan mereka menjawab bahwa tanggal 17 Agustus masih kosong. Kebetulan sekali,” beber pria murah senyum ini.

Menurut Ade, mayoritas lagu dalam ‘Stories Under The Sky’ ditulis dalam periode 2015 – 2016. Meski begitu, ada satu lagu berjudul Rainy Days yang sudah tercipta bahkan sebelum album pertama keluar, namun baru masuk di album ini. Tema-tema yang digali pada album ini pun sederhana dan berkaitan dengan cerita sehari-hari namun menyentuh sisi-sisi terdalam manusia. Salah satunya adalah lagu I’ll Wait Until You Arrive yang ditulis untuk seorang sahabat di saat-saat terakhirnya sebelum akhirnya meninggal dunia.

Sampul album diambil dari lukisan istri Ade, Fety Aryani

Kesepuluh lagu dalam album ini tentu sangat personal dan sulit memfavoritkan salah satu dari yang lainnya. Namun Ade menyebutkan bahwa lagu berjudul Blue Sky sangat berkesan karena lagu itu ia tulis saat sedang liburan bersama istri dan ketiga anaknya di Lake Marma, Murtoa, Victoria. “Itu adalah momen sangat membahagiakan bersama keluarga. Saat anak-anak sedang asyik bermain di sana saya menulis lagu itu. Dan tempat itu kemudian dilukis oleh istri saya dan menjadi cover album ini,” terangnya pria asal Bandung yang mengantongi gelar Ph.D untuk ilmu Computer Science ini.

Menemukan soulmate dalam berkarya tentu anugerah, itulah yang dirasakan Ade dan Chelsea. Mereka tak hanya klop sebagai partner bermusik tapi juga sahabat. Proses mereka mencipta lagu pun terbilang asyik. “Biasanya kami bertukar melodi lewat email atau saat bertemu. Kami juga sering berbagi cerita dan sharing banyak hal, tentang apa yang tengah dirasakan atau apa yang sedang menginspirasi,” tukasnya yang juga mengakui kalau jalan pikirannya seringkali sejalan dengan Chelsea saat bereksperimen dengan musik mereka.

Peluncuran album terbaru TiAP bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI di Paris Cat

Jika membandingkan dengan album TiAP yang pertama, Ade menjawab bahwa dari segi komposisinya kini lebih kompleks dan eksploratif karena tidak mengikuti pakem khusus dalam jazz. Tapi dari segi olahan tema lebih bervariasi, dari yang sangat gelap hingga paling terang ada di album ini. Dalam album ini musisi Lachlan Davidson juga turut menyumbangkan permainan saxophone-nya.

Malam itu tiket ludes terjual dan sekitar 50 orang memadati ruang temaram di lantai atas Paris Cat untuk menyaksikan aksi TiAP melantunkan lagu-lagu di album terbarunya selama nyaris dua jam. Bahkan lagu baru ciptaan Ade dan Chelsea berjudul A Brighter Day ikut dimainkan. Sebuah sinyal akan muncul album berikutnya dari Ade dan kawan-kawan. Kita tunggu saja mereka kembali bercerita lewat bunyi.

 

 

 

Deste