Setelah menjalani perjalanan jauh dari Frankfurt, Jerman dan Washington DC untuk mengikuti rangkaian economics meetings, Menteri Keuangan Indonesia Bambang Brodjonegoro hadir untuk memberikan kuliah singkat pada acara Australia Indonesia Business Forum (AIBF) 2016 yang diselenggarakan di Monash University (7/5/2016).

Dalam kurun waktu tiga puluh menit beliau membahas tiga topik yang meliputi kondisi ekonomi global, peran kewirausahaan di Indonesia, dan pentingnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia.

Bambang Brodjonegoro (ketiga dari kanan) bersama dengan Prof Edward Buckingham (kedua dari kanan), David Livingstone (kedua dari kiri), Philip Dalidakis (ketiga dari kiri) menerima sertifikat apresiasi yang diserahkan oleh Aulya Salsabila dan Benazir Komarudin
Bambang Brodjonegoro (ketiga dari kanan) bersama dengan Prof Edward Buckingham (kedua dari kanan), David Livingstone (kedua dari kiri), Philip Dalidakis (ketiga dari kiri) menerima sertifikat apresiasi yang diserahkan oleh Aulya Salsabila dan Benazir Komarudin

Dalam topik pertamanya, Bambang Brodjonegoro menyoroti suramnya prospek ekonomi global, lambannya pertumbuhan ekonomi, dan rendahnya harga komoditas di berbagai belahan dunia. Economics meetings yang ia ikuti juga dirasa belum dapat menghadirkan solusi untuk mengatasi masalah ekonomi yang ada. “In G-20 meeting, we have not found any kind of solution for economic slowdown in the global economy. So far, no clear recommendation can be subscribed for every member of G-20 as well as most of part of the world,” jelas alumnus Universitas Indonesia dan University of Illinois tersebut.

Masih dalam topik yang sama, pria yang sempat dianugerahkan penghargaan Visiting Fellow oleh Australian National University pada tahun 2004 tersebut pula membahas tentang meningkatnya frekuensi volatilitas yang ada di pasar global dan pasar finansial yang semakin memperkeruh kondisi ekonomi saat ini.

“Whenever there is an issue or rumor somewhere outside the global then suddenly everybody becomes more nervous than before. It means that the volatility is there and what we have to do now is to go through this volatility and try to manage our economy at our best,” papar Bambang perihal gejolak ekonomi yang kerap terjadi.

Mantan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di University of Illinois itu kemudian membahas tentang peran kewirausahaan yang menurutnya penting untuk terus dikembangkan oleh para pelajar Indonesia di Australia. Menurutnya, bukan tidak mungkin generasi muda Indonesia akan berkembang dan mulai ‘menggusur’ nama-nama yang telah bercokol sebagai konglomerat di Indonesia, bahkan dunia.

Pada topik terakhirnya, Menkeu tak lupa mengingatkan pentingnya menjalin hubungan baik dengan Australia sebagai negara tetangga, bukan hanya untuk urusan perdagangan, melainkan juga dalam bidang finansial, politik dan lainnya.

Beberapa tokoh terkemuka terlihat hadir sekaligus untuk memberikan kata sambutan, diantaranya David Livingstone dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia, Philip Dalidakis Menteri Urusan Usaha Kecil Negara Bagian Victoria, dan Profesor Edward Buckingham, wakil Rektor Monash University.

Project Manager AIBF 2016 Benazir Komarudin (kanan) dan wakilnya, Feris Tjuanda
Project Manager AIBF 2016 Benazir Komarudin (kanan) dan wakilnya, Feris Tjuanda

Hadir pula beberapa pembicara yang telah sukses berkarir di berbagai bidang, seperti Anton Gunawan (Chief Economist Bank Mandiri), Andre Louhanapessy (International Board Member of the Yayasan Cinta Anak Bangsa Foundation), Michael Rafferty (General Manager of Development Dimensions International Australia in Victoria), Helen Brown (Senior Journalist of ABC News), Hadi Ismanto (Publisher and Director Manual Jakarta), DR. Ni Putu Tirka Widanti (President of Yayasan Kul-kul Green School Bali), dan Alanda Kariza (Business Director Sinergi Muda).

Keberlangsungan AIBF yang hadir untuk tahun ke-3 mampu menghadirkan tema yang cukup variatif dan meliputi berbagai aspek yang dipercaya mampu memberikan gambaran yang dibutuhkan para lulusan Indonesia sebelum masuk ke dunia kerja.

 

***

Team Capsule
Juara Business Challenge AIBF 2016

BUSET NGELIPUT - AIBF TIM CAPSULE

“Capsule” adalah ide bisnis yang merupakan sistem pengarsipan data pasien pertama di Indonesia. Inovasi ini muncul karena kurangnya kepercayaan masyarakat Indonesia mengenai sistem kesehatan yang ada di Indonesia, dimana masih banyak yang lebih memilih untuk mengunjungi negara tetangga untuk berobat.

“Capsule” bertujuan untuk mengembangkan sistem ini dengan cara menyediakan media untuk menyimpan database pasien seperti informasi alergi, sejarah kondisi kesehatan, imunisasi, catatan hasil X-ray, dan lain-lainnya.

Penyedia layanan kesehatan (rumah sakit atau klinik) dapat mengakses data pasien dan memodifikasi data tersebut setiap kali pasien berobat.

“Capsule” juga akan menyediakan statistik kesehatan pasien dalam skala makro kepada badan riset, pemerintah, organisasi non-pemenrintah, dan perusahaan farmasi agar dapat membuat kebijakan yang berhubungan dengan keadaan kesehatan masyarakat dengan efisien dan tepat sasaran.

Dengan dirancangnya “Capsule”, diharapkan masyarakat lebih percaya kepada sistem kesehatan Indonesia dan infrastruktur dalam bidang kesehatan dapat berkembang lebih pesat.

Capsule Team:
Reagan Kurniadwiputra Susanto, Master of Engineering (Biomedical Engineering), University of Melbourne
Trivita Tiffany Winata Putri, Bachelor of Commerce (Finance and Marketing), University of Melbourne
Qiudy Qrizya, Bachelor of Science (Neuroscience), University of Melbourne

 

 

** Apa Kata Mereka? **

Somya Astari Wirawidia, Bachelor of Commerce (Economics and Finance), University of Melbourne

BUSET NGELIPUT - AIBF - Somya Astari Wirawidia Menurut gue acaranya inspiring, and there are a lot of speakers dari a wide range of field yang sangat nyambung dengan tema acara, which is entrepreneurship. Gue jadi ada kesempatan denger some people yang gue jarang banget ketemu kalau gak ikut acara ini, misalnya saja Pak Bambang Brodjonegoro dan Ibu Ika dari Green School Bali. Untuk masukannya, mungkin akan lebih baik kalau next time acaranya bisa dibuat lebih singkat. Or probably, kalau tetap mau diangkat different themes dibedain harinya, e.g. social entrepreneurship harinya beda sama motivational speakers. Speaker yang paling menarik di bagian motivational speakers, like Alanda Khariza dan Hadi Ismanto. Cuma, I really like the opening speeches sih!

I think it’s a really informative session about Indonesia’s economy & political condition.

 

Wira Adhi Danaputra, Bachelor of Business (Economics and Marketing), Monash University

BUSET NGELIPUT - AIBF - Wira Adhi Danaputra

Menurut gue acaranya bagus banget! From the event I acknowledged that world facing economic slowdown. In Indonesia itself, to be a part of developed community we cannot depend on commodity products rather than we should expand more to manufacture industries that creating value added. Hence, Indonesia needs huge numbers of creative and innovative entrepreneurs to make it so. From the speakers, I gained new and valuable knowledge. I got inspired by successful young entrepreneur shared his experience about his journey building up his success start-ups. More than that, “what good leaders do?” – 5 criterias described by Michael Rafferty gave me insight on how to be a good leader. I hope next year AIBF still holding and opening more opprtunities for young generations to get inspired and change the world to a better future.

 

Dicky Saputra, Bachelor of Business (Accounting), Monash University

BUSET NGELIPUT - AIBF - DICKY SAPUTRA

Menurut saya acaranya sangat informatif, soal ekonomi dunia dan terutama soal ekonomi Indonesia dan Australia. Sangat membantu deh buat student yang mau menjadi entrepreneur. Juga memberi ide soal business yang lagi bagus dan perkembangan ekonomi secara general. Menurut saya speakernya menunjukan visi bisnis dan juga permasalahan yang sedang berlangsung pada ekonomi dunia, dan juga memberikan ide yang dapat membantu menanggulangi masalah ekonomi yang sedang berlangsung.

 

Leo