World Music Open Mic sudah jadi rumah istimewa selama lima bulan bagi musik dan lagu tradisional dari berbagai negara di Melbourne dan merupakan bagian dari komunitas musik multikultural yang sudah berusia 35 tahun, The Boite.

Pada tanggal 13 Juni lalu, di sebuah ruangan di Compass Pizza yang terletak di area Brunswick dan di antara interaksi musik yang bhinneka, mengalun nada-nada indah dari alat musik khas Kalimantan Tengah, yakni sape dan kecapi dayak, yang dimainkan oleh Rayhan Sudrajat.

Penampilan Rayhan Sudrajat malam itu mencuri perhatian penonton World Music Open Mic

Selama sekitar 15 menit, mahasiswa jurusan Etnomusikologi di Monash University ini diberi kesempatan untuk membawakan tiga lagu. Di antaranya lagu berjudul “Karungut Bara Hetoh” dan “The Blue Lake” yang merupakan ciptaan sendiri. Lagu “Leleng” yang tampil di urutan kedua dan turut juga dinyanyikan oleh segenap pengunjung acara secara bersahutan, merupakan lagu tradisional suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur.

Melalui ketiga lagu tersebut, Rayhan berharap bisa mengakrabkan kesenian dawai Nusantara khususnya dari Kalimantan kepada audiens Australia danpendengar dari berbagai negara lainnya. “Tujuan saya adalah ingin memperkenalkan kesenian musik dari Kalimantan yang mungkin belum banyak orang tahu, termasuk bagaimana cara memainkannya. Dari performance malam ini, saya berharap agar bisa menyampaikan pesan bahwa Kalimantan strings ini ada dan diharapkan orang-orang bisa mengetahui dan belajar mengenai itu,” imbuhnya.

Jenny Thomas dari Australia menjadi host acara tersebut
Mempromosikan Musik Tradisi adalah yang Utama

Kedatangan Rayhan di ajang World Music Open Mic, diawali dengan perjumpaannya dengan Eyal Chipkiewicz, koordinator acara tersebut. Saat ditemui Buset malam itu, Eyal mengaku musik yang dimainkan Rayhan sangat menghipnotis. “Suara yang keluar dari sape seolah-olah membawa saya ke tidak hanya satu arah pemikiran, namun beberapa dan membuat saya ingin mendengarnya lagi dan lagi,” kenang Eyal.

Mereka ketika itu bertemu di acara Global Flow di Evelyn Hotel, tepat satu bulan sebelumnya. Kala itu Rayhan menampilkan kolaborasi musik dengan musisi asal Kolombia, Oscar Jimenez. Permainan musik dari pria asal Bandung tersebut rupanya menginspirasi Eyal untuk mengajaknya tampil dalam acara bulanan yang ia harapkan dapat menciptakan lebih banyak kolaborasi musisi antar negara di kota Melbourne ini.

Kathryn Clements yang merupakan orang Australia namun menampilkan lagu tradisional Irlandia

Bagi Rayhan acara semacam Word Music Open Mic ini bisa jadi wadah yang tepat untuk memperkenalkan musik tradisi dan kontemporer. Serta tentu bisa jadi kesempatan bagus untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia dan bukan semata-mata sebagai ajang unjuk kebolehan. “Pujian dari penonton merupakan bonus untuk saya karena saya bermain musik bukan untuk dipuji. Bukan pula menjadi ajang show off. Saya melihat acara ini sebagai salah satu tools untuk memperkenalkan kultur Indonesia,” tambahnya.

Visi dari Rayhan ternyata sejalan dengan yang dimiliki oleh Eyal. Pria asal Venezuela yang berkecimpung di dunia perkusi Latin inimengharapkan munculnya sebuah cara pikir baru di benak para penonton yang hadir malam itu. “Saya harap ketika mereka pulang ke rumah, mereka berpikir bahwa dunia ini dipenuhi banyak hal luar biasa yang belum semuanya mereka lihat. Dan semoga dari penampilan beragam budaya ini, pikiran mereka terbuka untuk mendengar hal-hal yang tidak biasa mereka dengar,” ungkap Eyal.

Ya, Untuk Kolaborasi

Tentang kolaborasi di masa mendatang dengan Rayhan, Eyal menjawab “ya” dengan penuh antusiasme.“Oh, tentu saja saya menantikan kolaborasi selanjutnya. Dalam acara seperti ini, saya sungguh mengharapkan semua musisi dapat bertemu, berinteraksi, dan akhirnya merancang sebuah proyek luar biasa,” tambah Eyal.

ALILO beranggotakan 8 org menampilkan lagu tradisional Georgia

Dari frasa kata yang membentuknya saja, Anda pun sudah menebak bahwa acara ini adalah panggung multikultural bagi para musisi lintas latar kultur. Memang tidak hanya Rayhan yang tampil di acara yang berlangsung hingga tengah malam. Selama tiga jam, pemusik dan penyanyi dari total 11 negara lain juga turut ambil bagian.

Beberapa musisi yang tampil adalah Jenny Thomas dan Wolf Arrow dari Australia, band Alilo dari Georgia, Elena Gonzalez dari Argentina ditemani Michel Bestrin dari Chile, Kathryn Clements dari Australia menampilkan musik Irlandia, dan kelompok musik Moolekeetoo dari Brazil.Semuanya memeriahkan langit Melbourne yang multikultural.

 

 

 

 

Nasa