Di sekitar Club Collaborative Zone (CCZ) University of Western Australia di hari Sabtu pagi yang sunyi, Cendranata Wibawa Ongkowijoyo tengah sibuk mempersiapkan sound system untuk sesi diskusi. Ninis, yang bertanggung jawab sebagai seksi konsumsi, menyiapkan makanan ringan bagi para hadirin. Di hari-hari biasa, area itu selalu ramai dipadati para mahasiswa.

Cendranata dan Ninis sama-sama tergabung dalam AIPSSA (Associataion of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia). Hari itu untuk pertama kalinya, organisasi tersebut berkolaborasi dengan KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mengadakan acara diskusi dalam rangka Hari Penghilangan Paksa Sedunia (yang diperingati tiap tanggal 30 Agustus). AIPSSA berinisiatif mengadakan suatu acara untuk mengenang mereka yang dihilangkan pada era Orde Baru. Dengan bantuan KontraS sebagai penyedia informasi, mereka yang penasaran menjadikan acara ini sebagai momen untuk berdiskusi lebih jauh mengenai permasalahan yang ada di Indonesia.

Para hadirin yang turut datang berdiskusi

Meski berselang beberapa hari dari Hari Penghilangan Paksa Sedunia, tepatnya pada tanggal 15 September acara diskusi ini baru bisa digelar, namun hal ini tidak jadi masalah. Begitu pula dengan dikepungnya jadwal padat sebagian besar para mahasiswa di sana, tidak menyurutkan semangat teman-teman yang hadir.

Demi Mereka yang Hilang

Acara dimulai dengan kata sambutan Cendranata, selaku ketua AIPSSA University of Western Australia. Ia menjelaskan asal muasal ditetapkannya Hari Penghilangan Paksa Sedunia. Masalah penghilangan paksa memang menjadi permasalahan global, salah satunya yang jadi sorotan adalah Indonesia. KontraS sebagai suatu organisasi yang fokus terhadap masalah-masalah HAM di Indonesia, selalu berada di garis depan untuk mengawal perkembangan kasus-kasus HAM, salah satunya penghilangan paksa.

Video-video milik kontras turut diputar sebagai gambaran untuk sesi diskusi. Video pertama memperlihatkan kilas balik sejarah, menceritakan perjuangan para aktivis pro-demokrasi pada zaman Orde Baru. Meski hanya dalam rekaman, mereka seakan-akan tengah meneriakkan tuntutannya itu di halaman University of Western Australia. Area yang di akhir pekan begitu sepi ini seolah menjadi tempat orasi mereka. Video berikutnya yang diputar mengisahkan kesedihan keluarga korban.

Diskusi pun bergulir lancar sarat dengan lempar pendapat dan pertanyaan. Dalam sesi ini, tak ketinggalan puisi-puisi Wiji Thukul, salah satu aktivis yang hilang, juga diperdengarkan. Ditutup dengan pembacaan puisi Peringatan, mereka yang hadir dengan serentak berkata, “Hanya ada satu kata : Lawan !“.

Bekerjasama dengan Organisasi Bentukan Munir

“Saya sangat tertarik dengan kolaborasi antara AIPSSA dan KontraS. Ini adalah momen special,” seru William, salah satu mahasiswa pascasarjana University of Western Australia. Kolaborasi ini memang terbilang luar biasa. Sangat jarang organisasi Indonesia di luar negeri membuat acara dengan menggandeng organisasi dalam negeri. KontraS membantu AIPSSA dengan memberikan sumber-sumber yang mereka milki, mulai dari video hingga dokumen siaran pers. Hasilnya? Acara yang padat informasi dan penuh makna.

Cendranata membuka sesi diskusi dengan pemaparan konteks sejarah

Meski tidak ada perwakilan KontraS di Perth acara tetap bergulir seru. Dapat dilihat dari hadirin yang asyik berdiskusi sembari  melihat referensi untuk memastikan argumen-argumen mereka. Tentu kini jarak tak lagi berarti karena adanya teknologi yang menghubungkan.

Kejatuhan Orde Baru dan bangkitnya Masa Reformasi terjadi 20 tahun silam, namun berbagai persoalan terkait pelanggaran HAM masih menghantui perjalanan negeri ini. Belum ada titik terang dan terkunci rapat. Mahasiswa di masa sekarang, yang sebagian besar belum lahir ketika para aktivisi 98 dihilangkan paksa, pun perlu melek sejarah jika ingin jadi agen perubahan dan turut menjaga agar sejarah kelam tak kembali terulang.

 

 

Apa Kata Mereka

 

Eko

Diskusinya sangat objektif walapun pembahasannya dapat menimbulkan kerancuan. Kita tidak menyalahkan pihak tertentu. Saya harap acara seperti ini tidak hanya sebagai media edukasi tapi juga advokasi untuk kebenaran dan keadilan di Tanah Air.

 

Shafira

Acara seperti ini penting untuk membangun konteks di pikiran masing-masing orang yang hadir. Kami dapat lebih paham bila ada diskursus terkait isu penghilangan paksa dan tidak akan ada lagi pemikiran anti “menolak lupa”.

 

Rino

Acaranya sangat bagus dan edukatif. Ke depannya, saya ingin acara seperti ini diadakan kembali. Ini adalah kesempatan yang tepat untuk berdiskusi mengenai isu-isu terkini. Di lain kesempatan, tentu saja saya akan hadir dalam acara serupa dengan topik yang berbeda.

 

 

 

 

Kevinng