Mempelajari bahasa bisa membuka kesempatan baru. Kita bisa mendapatkan pekerjaan baru, pindah ke tempat lain di dunia dan menemukan teman baru dari negeri lain.

BUSET sempat berkunjung ke daerah Point Cook; suburb yang terletak di Melbourne bagian barat untuk melihat sebuah pusat pembelajaran Bahasa Indonesia.

BISA (Bahasa Indonesia School in Victoria) merupakan sebuah community based school yang fokus mengajar kelas Bahasa Indonesia kepada warga yang tinggal di daerah Point Cook dan sekitarnya. Ide ini diinisiasikan Junny Ebenhaezer yang melihat pentingnya pengajaran bahasa sekunder (secondary languages) khususnya bahasa dari Asia kepada orang Australia.

Kelas yang dijalankan BISA diadakan di Jamieson Community Centre, 59 Jamieson Way, Point Cook. Ruangan yang digunakan tidaklah sebesar kelas yang biasa kita lihat di sekolah. Tetapi, program yang baru saja dijalankan sejak Februari lalu ini sudah menarik sekitar tujuh orang murid.

“Inspirasinya muncul dari kelas bahasa yang dijalankan oleh komunitas Tionghoa. Bayangkan, mereka mengirimkan anak-anaknya ke kelas bahasa untuk tiga jam per minggu karena ingin mempertahankan budaya dan bahasanya. Saya pikir, kenapa ngak mulai di Australia. Saya tidak bisa ke Indonesia, tapi ini adalah usaha saya untuk berkontribusi kepada Indonesia,” tambahnya.

Dari riset yang dilakukan oleh Junny, belum ada kelas Bahasa Indonesia yang dijalankan komunitas yang mampu berbahasa itu. Ia mengutarakan kalau dengan adanya community based language class bisa memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.

Menggunakan teori neuroscience dan competency based learning di kelas

Bersama dengan dua rekannya, ia menjalankan program BISA yang menggunakan basis neuroscience, yaitu ilmu yang mempelajari cara otak belajar. Terlihat menyeramkan? Sama sekali tidak seperti apa yang kamu bayangkan! Dalam kelas BISA, selain menggunakan teori neuroscience, pengajar juga memberikan pembelajaran berbasis kompetensi (competency based learning). Materi yang diberikan kepada murid BISA disusun agar mereka bisa tertantang tanpa merasa takut untuk belajar.  

“Pelajaran di BISA itu, gampang-gampang susah. Gampang jika mereka mau belajar. Kita belajar mulai dari kosakata, tapi tidak mengajarkan mereka untuk mengingat 1000 kata. Kita mau make sure kalau mereka bisa menggunakan kata-kata itu. Jadi, kita mulai dengan sesuatu yang sudah familiar, seperti cara untuk greetings and not so much about the Indonesian history.”

Junny menekankan, apabila materi pembelajaran yang diberikan pengajar terlalu sulit maka otak siswa akan menolak masuknya informasi yang diberikan. Oleh karena itu, proses pembelajaran kepada siswa harus dibuat nyaman dan terus memotivasi untuk terus belajar.

Tantangan merintis sebuah sekolah baru

Merintis sesusatu yang baru bukanlah hal yang mudah. Sebagai perintis, Junny mengalami skeptisisme dari komunitas di sekitar Point Cook, khususnya dari warga Indonesia yang sudah tinggal di Australia. Ironis sekali mengingat banyaknya bangsa asing yang mau mengenal Indonesia secara mendalam.

Response dari komunitas Indonesia masih ragu-ragu. Mereka masih kurang yakin bahwa dengan mengeluarkan enam dolar untuk les bahasa adalah hal yang berguna. Mereka lebih rela untuk membayar belajar piano dan matematika. Saya mengerti kalau semua orang tua itu sayang anak dan ingin memberikan yang terbaik terhadap anaknya. Tapi, yang sering yang saya dengar adalah mereka memasukkan anaknya untuk les mandarin.”

Walau sulit, tapi beliau ingin terus maju mempromosikan aktifitas pembelajaran Bahasa Indonesia ke masyarakat. Menurutnya, ini adalah hadiah yang bisa diberikan kepada Australia yang sudah menjadi rumah keduanya.

This project is very personal because it links to my long term vision, yaitu punya sekolah perempuan di Indonesia. Tapi itu nanti. Sekarang adalah waktunya untuk meyakinkan komunitas di sekitar saya mengenai pentingnya belajar Bahasa Indonesia. Banyak dari mereka mengasosiasikan Indonesia dengan bom, pulau Bali dan kapal asyllum seeker.”

Bersama timnya, Junny sedang berusaha meningkatkan jumlah murid di kelas BISA dengan mendekatkan diri ke organisasi masyarakat yang mempunyai minat kuat terhadap budaya dan Bahasa Indonesia.

Kendati usaha untuk mendapatkan sokongan dana dari Wyndham City Council gagal, ini tidak membuatnya berhenti memperjuangkan perkembangan BISA di wilayah Point Cook dan sekitarnya. Junny mengatakan kalau komunitas Indonesia belum mendapatkan prioritas dari City Council karena jumlahnya kurang banyak. “Baru beberapa tahun terakhir, banyak imigran dari Asia yang datang ke Wyndham City Council. Komunitas Indonesia kira-kira jumlahnya 1000, tetapi itu hanya 5% dari jumlah total populasi di sini,” jelasnya singkat.

Visi dari BISA adalah untuk menjadi teladan dalam pengajaran bahasa dan budaya Indonesia untuk anak sekolah dan komunitas di Australia. Dengan visi inilah, Junny berusaha untuk membuat BISA menjadi penyedia program les yang hemat dan bermutu tinggi dengan melibatkan komunitas Indonesia setempat sebagai dewan pengurus dan tim pengajar. Melalui ini, Junny punya keyakinan kuat bahwa ilmu yang ia berikan kepada murid-muridnya bisa membuahkan hal yang positif.

Ada beberapa kelas yang bisa diikuti, yakni kelas grup, kelas privat atau program liburan. Untuk kelas grup dan privat hanya akan dilaksanakan saat term sekolah berjalan.

Biaya dan deskripsi tentang setiap kelas BISA

  • Kelas grup: 5-8 Murid per grup yang dikhususkan untuk murid kelas 2 hingga 4 dengan biaya 15 AUD per orang dan kelas akan dimulai pada pukul 13:00 hingga 15:30. Lalu, bagi yang ingin mendapatkan les tambahan VCE subjek Bahasa Indonesia dapat mengatur jadwalnya dengan tim pengajar langsung dengan membayar 25 AUD per anak.
  • Kelas privat hanya dibatasi dengan jumlah murid antara 1-4 orang. Program ini dikhususkan untuk kebutuhan khusus bagi orang dewasa dan grup keluarga. Waktu diselenggarakannya adalah pk 10:00 pagi hingga 12:00 siang dengan biaya 50 AUD per jam.
  • Bagi Anda yang ingin mendaftarkan buah hatinya ke program liburan sekolah, maka bisa menikmati program yang bertemakan musik, seni dan film Indonesia. Waktu diselenggarakannya tergantung keinginan anggota les. Waktu bisa disesuaikan antara pukul 09:00 hingga 12:00 siang atau 13:00 hingga 16:00 petang. Biaya untuk program ini ialah 40 AUD per anak.

Untuk mengetahui lebih lanjut, bisa langsung menghubungi Ibu Junny Ebenhaezer lewat emailnya yaitu [email protected] atau mengunjungi Facebook Page BISA: https://www.facebook.com/BahasaIndonesiaSchool/info

 

ham/krus