Pada 30 Agustus silam, puncak acara ‘Project O’ kembali diadakan sebagai agenda tahunan PPIA RMIT. Acara tersebut berlangsung di RMIT Storey Hall, Swanston Street, Melbourne. Seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan menggandeng YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa), ‘Project O’ dijalankan dengan harapan meningkatkan kesadaran dan memberi uluran tangan untuk anak-anak di Indonesia yang tidak mampu mendapatkan pendidikan layak.

“Kita yang sekolah di Melbourne sangat beruntung karena bisa menimba ilmu sampai luar negeri, tapi di negeri kita sendiri masih banyak anak-anak kurang mampu yang gak bisa bersekolah. Jadi dengan motto kita ‘share to learn, learn to share’ kita ingin belajar berbagi apa yang kita punya lebih kepada mereka yang belum punya,” ujar Felicia Moningkai, Media Officer Project O.

Memasuki area ruangan, hadirin disuguhi hiasan papan interaktif tentang budaya-budaya di Indonesia, sebut saja dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara dan lainnya. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan atau mengingatkan kita tentang keragaman budaya Tanah Air.

Sebagai pembuka acara, sebuah band yang terdiri dari tujuh anggota yang memadukan musik modern dan tradisional Indonesia, Jawa Pitu tampil mengisi panggung. Kemudian dilanjutkan dengan suguhan tarian asal Aceh oleh Saman Melbourne.

Dipandu oleh Jebraw dan Naya, dua youtubers terkenal dari acara travel Indonesia “Jalan-jalan Men!”, ‘Project O’ juga menyelipkan Talk Show yang diisi Presiden PPIA Victoria Muhammad Aghnia Shahputra, Dosen RMIT University Ferry Jie, Pendiri YCAB Veronica Colondam dan bassist ternama Barry Likumahuwa yang juga ialah musikus jazz terkemuka di Indonesia.

Acara diakhiri dengan hiburan dari Barry Likumahuwa bersama empat teman musisi lainnya. Mereka memainkan beberapa lagu, termasuk hits All of Me dari John Legend yang diikuti penonton dengan khusyuk, tembang Happy dari Pharrell Williams yang mengangkat semangat para penonton, sampai ke lagu Justin Timberlake yang baru, Not a Bad Thing. Penonton menyambut penampilan mereka dengan baik, bahkan beberapa diperbolehkan maju ke bibir panggung agar lebih dapat menikmati.

Keseluruhan acara berlangsung lancar. Kendatipun, patut disayangkan, menurut Co-Project Manager Vina Nurina Pranata, tiket yang terjual hanya 350 buah dibanding kapasitas ruangan yang bisa memuat hingga dua kali lipatnya.

Sementara itu, sebanyak 70% dari hasil penjualan tiket dan 100% aktivitas penggalangan dana lainnya disumbangkan langsung ke YCAB. Donasi tersebut mencapai total sekitar $7000 untuk tahun ini. “Dana ini terkumpul dari workshop-workshop yang diadakan sebelum hari H, kita juga meletakkan kotak donasi di berbagai tempat seperti restoran Indonesia dan non-Indonesia sejak setahun sebelumnya,” tambah Vina.

 

** APA KATA MEREKA **

We found the event to be deeply engaging and intellectually stimulating, constantly highlighting the primacy of education in transforming lives. We were profoundly moved and inspired by the unwavering perseverance and determination of the guests in attendance. This cause has the real potential to serve as a meaningful turning point by enhancing the prospects of so many lives, and the opportunity to realize success.
Despite the success of the event, there is still room for improvement by having Q&A session for instance or anything else to involve the audience and engage even further rather than just one way communication.

 

Menurut saya acara ‘Project O’ tahun ini dikemas secara menarik terutama dengan beragamnya hiburan yang ditampilkan. Salut untuk para panitianya!

 

sasha
foto: krusli