Mikhavita Wijaya

0
330

TEKUN BEKERJA RAMBAH PASAR AUSTRALIA

Ialah mantan penghuni Melbourne yang sempat aktif meramaikan berbagai acara mahasiswa Indonesia sebagai panitia maupun penonton. Anak ke-tiga dari empat bersaudara ini ternyata sulit melepaskan hubungan spesialnya dengan kota ternyaman nomor satu dunia. Pasalnya, mengawali tahun 2017, Mikha baru saja membuka gerai furnitur di kawasan Port Melbourne yang mengedepankan produksi kayu berkualitas dari Indonesia.

Wanita yang lebih akrab dipanggil Mikha ini mengaku rela mendedikasikan waktu dan energinya untuk bidang usaha yang sangat ia gemari tersebut. Mikha sempat mengecap pendidikan di Kota Melbourne pada tahun 2005 hingga 2009. Alumnus RMIT University ini sebenarnya tidak memiliki pendidikan formal di bidang desain, melainkan merupakan penyandang gelar sarjana Applied Economics and Finance. Namun sejak kecil Mikha memang sudah mengenal bisnis furnitur dari usaha yang dijalankan kedua orang tuanya. Saat ini, Mikha telah membuka dua brand perabotan rumah bernama Vie For Living dan MIKATA Home & Décor di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Mikha bangga memperkenalkan kualitas kayu Indonesia melalui Vie For Living
Mikha bangga memperkenalkan kualitas kayu Indonesia melalui Vie For Living

Produk furnitur yang ditawarkan didominasi bahan kayu recycle, dan sudah dinikmati berbagai kalangan, terutama para expatriat yang tinggal di Ibu Kota. Selain itu, desain dan build interior-nya juga suskes dilirik developer properti raksasa di Indonesia seperti Alam Sutera dan Agung Sedayu.

Mengerti betul selak beluk bisnis furnitur, maka tanpa ragu Mikha membuka cabang baru untuk Vie For Living di kota yang sangat melekat di hatinya, Melbourne. Ibu dari Eleanor Regiana Bukit ini selain melihat adanya peluang emas, juga ingin menunjukkan kualitas perabot rumah tangga buatan Tanah Air kepada masyarakat Australia. Pasalnya, menurut Mikha, hampir lima puluh persen pasokan manufactured furniture yang ada di Negeri Kangguru ini ternyata berasal dari Indonesia.

Walau membawa nama bangsa, produk Vie For Living tidak bergaya etnik. Dengan menggunakan kayu yang sudah teruji ketahanannya, in-house designer bisa menciptakan berbagai gaya mulai dari industrial, pop, rustic, hingga kontempoer. Seluruhnya dibuat dengan tangan dengan model dan bahan sesuai keinginan sang pembeli.

Menariknya, Vie For Living tak segan membuka kesempatan kerjasama dengan seniman-seniman ternama Tanah Air. Sebut saja Barata Sena yang karya serta pengetahuannya akan furnitur kayu sangat dikagumi berbagai kalangan, termasuk oleh masyarakat mancanegara.

Kendatipun, Mikha tidak lantas bersantai dan menganggap semua enteng. Dirinya tetap siap turun tangan sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan. Salah saMikhavita Wijayatu kesulitan yang dihadapi Mikha adalah menembus pasar lokal. Menurut wanita yang resmi menjadi istri Bambang Reguna Bukit (Bams, mantan vokalis band ‘Samsons’) sejak 2014 lalu, masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengerti keunggulan recycled wood yang sebenarnya lebih kuat dan berkarakter bila dibandingkan dengan kayu muda. “I tried to penetrate Indonesian market, I tried for the past two years. Baru sekarang ini ada perkembangan, tapi tidak banyak peningkatannya. Oleh karena itu, kita mau expand ke luar negeri. Masyarakat Indonesia masih merasa produk luar pasti lebih bagus daripada produk dalam negeri, padahal mereka tidak tahu brand seperti ZARA itu, misalnya, buatnya juga di Indonesia,” sesal Mikha.

Salah satu upaya yang dilakukan Mikha untuk Vie For Living Australia adalah dengan pendekatan harga. Furnitur dibandrol harga sedikit lebih murah dibanding para pesaing lokal tanpa mempengaruhi kualitas kayu, desain, dan pelayanan. Mikha ingin menjadikan produk kayu Indonesia sebagai pilihan yang selalu diprioritaskan ketika warga Australia ingin mempercantik dan memberi sentuhan kemewahan untuk rumah mereka.

Dalam waktu dekat ini Mikha sudah berencana untuk membuka cabang Vie For Living yang ketiga di Kanada, kemudian ke kota-kota di Amerika Utara.

Selain Vie For Living, Mikha juga menyibukkan diri dengan bisnis sarang burung walet yang digarap bersama orang tuanya. Malahan ini merupakan cikal bakal ia menjajaki ke market Australia. Berkat kegigihannya, sekarang ini sarang burung walet asli dari Palembang sudah meraja lela di berbagai restoran dan juga bisa ditemui di berbagai toko duty free di Melbourne.

Di tengah kesibukannya yang luar biasa, wanita yang aktif di komunitas Australian & New Zealand Association (ANZA) Jakarta itu tidak ingin kehilangan kesempatan untuk selalu berada di sisi sang buah hati yang baru berusia 2 tahun. Demi Eleanor, Mikha bertekad menyisihkan waktunya dengan cara pulang tepat waktu pukul 6 sore tiap harinya. “It is a challenge, but I tried to spend as much time as possible, because I know between the age of zero to six is the golden age, it’s when they build their personality,” jelasnya penuh senyum.

Mikha, Eleanor, Bams
Mikha, Eleanor, Bams

Sebagai istri, Mikha juga merasa sangat bersyukur karena Bams selalu mendukung kegiatan dan usahanya. Malahan, Bams yang juga memiliki latarbelakang keluarga yang bergelut di bidang wirausaha serta konsultan hukum, selalu memberi pendapat dan menemani Mikha dalam perjalanannya mengembangkan Vie For Living, MIKATA Home & Décor serta dalam mengekspor sarang burung walet.

Berbagai peranan yang diemban seorang Mikhavita Wijaya tentu tidak dapat berjalan mulus tanpa karakter, tekad, kerja keras, serta iman yang kuat. Keberhasilan Mikha sedianya dapat menjadi bukti bahwa seorang wanita dapat menjadi istri, ibu sekaligus pebisnis yang handal.

 

Mikhavita Wijaya tampil di sampul depan BUSET Edisi Februari 2017
Mikhavita Wijaya tampil di sampul depan BUSET Edisi Februari 2017

 

Gaby