酒量 jiǔliàng selain berarti “kadar alkohol” juga bermakna “kemampuan minum alkohol.” Bagi yang berkarir di pemerintahan dan juga kalangan pebisnis, 酒量 termasuk penting dan berperan dalam networking. Secara formal dan teori, business deal dilakukan di kantor. Tapi pada kenyataannya, tak sedikit kesepakatan terjadi di luar kantor.

酒量 ikut menentukan karir karena dianggap sebagai bukti kemampuan seseorang. Maksudnya, kesanggupan untuk menjalankan tugas di bawah tekanan dan situasi yang sulit, juga kemampuan untuk bersosialisasi dan bernetworking (yang umumnya mencakup makan dan minum). Kalau mudah mabuk dianggap tidak punya kemampuan untuk menjalankan tugas. Jika tidak pernah mabuk dianggap sebagai individu yang tidak punya perasaan/dingin. Saat minum bersama atasan, tidak pernah mabuk bisa berarti “tak solider” dengan atasan. Bisa mengurangi kedekatan dengan atasan dan kepercayaan dari boss! Duh repotnya etika dan diplomasi minum, kiri kanan salah!

Minum alkohol dalam budaya Tiongkok penekanannya pada kegembiraan manusianya. Dengan siapa kita minum jauh lebih penting ketimbang minumannya! Juga penekanan pada suasana suka cita yang diciptakannya. Sementara pada masyarakat Barat, penekanannya di minuman (jenis dan kualitas).

Bicara perihal minuman, banyak dari kita yang belum mengetahui bahwa orang Tionghoa lah yang sesungguhnya menciptakan alkohol (dalam arti menciptakan proses fermentasi). Demikian penuturan yang disampaikan Ms. Zhou mengenai serba-serbi kebiasaan mengkonsumsi alkohol masyarakat di mainland China. Tentu saja maksudnya ini adalah minum dalam lingkungan bisnis, bukan sekedar mabuk-mabukan.

Catatan penutup, bagi yang tidak bisa minum, atau yang wajahnya mudah merah meski baru minum sedikit, tidak perlu malu karena dalam tradisi Tiongkok justru diistilahkan sebagai orang yang “perasaan” nya halus. Sementara bagi yang 酒量 nya bagus, minum banyak tapi tetap tidak merah mukanya, disebut sebagai orang yang “tenang.” Begitulah, tradisi untuk “menyelamatkan wajah” memang cukup penting, itu sebab mengapa bagi yang kuat dan tidak sanggup minum pun tetap memiliki istilah yang “menarik.”

Dalam dunia Traditional Chinese Medicine (TCM), wajah merah setelah minum alkohol secara sederhana dijelaskan karena pengaruh “panas” yang dikandung dalam minuman beralkohol. Akibatnya qi (energi) dalam tubuh melonjak dan bermanifestasi, salah satunya di wajah, yang bersemu atau merah. Ini sebab pula mengapa dalam feng shui, minuman beralkohol termasuk unsur Api, bukan Air!

IMHO, berapapun 酒量 kita tidak masalah. Yang tidak etis adalah yang istilahnya “minum secangkir mabok seempang!” Artinya, baru minum sedikit tapi sudah mabuk, bertingkah dan bicara yang tidak sepantasnya.

Menjelang akhir tahun, kita akan masuk musim yang penuh perayaan. Dan tentunya, minum alkohol menjadi bagian yang sulit dihindari. Semoga kita semua dapat menikmati atmosfir yang ditawarkan tanpa harus “mabok seempang!”

***

Contoh minuman yang biasa dikonsumsi masyarakat Tiongkok adalah:

Baijiu 白酒 (bái jiǔ) disebut pula sebagai sorghum wine. Baijiu biasanya menjadi pilihan pada jamuan bisnis. Terpopuler adalah Maotai yang kadarnya sekitar 60% alcohol-by-volume (ABV), sementara kadar vodka adalah sekitar40% ABV.

Red wine

Red Wine 红酒 (hóng jiǔ) baru tahun-tahun belakangan mulai populer dan umum diminum oleh masyarakat kebanyakan.

Beer 啤酒 (pí jiǔ) merk-merk populer antara lain Tsingtao and Harbin Beer.

***

 

 


Suhana Lim
Certified Feng Shui Practitioner
www.suhanalimfengshui.com
0422 212 567 / [email protected]