Sore itu, seorang perempuan berambut panjang tampak anggun berjalan bersama suami sambil mendorong kereta bayi di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Di belakangnya, seorang perempuan muda mengenakan masker berjalan mengiringi sembari membawa sejumlah perlengkapan bayi.

Perempuan itu langsung melambaikan tangan saat melihat tim BUSET yang sengaja menunggu di ujung lorong agar mudah terlihat setiap pengunjung. Seketika, sapaan ramah dan seulas senyum tersungging dari bibir dari ibu muda itu sambil berjabat tangan erat.

“Nana,” katanya memperkenalkan diri sambil masih menjabat tangan.

Nama lengkapnya Andina Theresia Narang, namun lebih akrab disapa Nana Narang. Pada usianya yang relatif sangat muda yakni 28 tahun, dia terpilih menjadi salah satu anggota DPRD Kalimantan Tengah periode 2014-2019.

Sebagai wakil rakyat, Nana tak terlihat canggung mencari tempat duduk di depan tim BUSET untuk wawancara. Sebab, jumlah kursi hanya empat buah yang mengelilingi meja kaca berbentuk bundar, sementara tim BUSET terdiri tiga orang.

Perempuan muda mengenakan masker yang diketahui adalah baby sitter mengambil tempat di kursi panjang tak jauh di lokasi. Sementara suaminya mohon diri dan berjalan meninggalkan lokasi untuk mencari barang-barang yang dibutuhkan.

“Saya dulu awalnya kuliah di Deakin University Australia. Mengambil Jurusan Akuntansi dan Keuangan. Sengaja memilih kuliah di sana, karena kebetulan enggak jauh dari sini (Indonesia). Selain itu, kakak juga ada di sana (Australia),” katanya sambil mengibaskan rambut.

Menurutnya, selama 2004-2008 di Negeri Kangguru itu tak sekadar menggali ilmu akademik melainkan juga menimba pengalaman. Dia aktif di Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) dan event organiser yang kerap menggelar berbagai acara untuk komunitas Indonesia.

“Seru juga saat itu, karena di PPIA sebagai seksi acara. Kita memberi dukungan kepada mahasiswa-mahasiswa di sana yang menggelar acara di kampus. Lumayan banyak mahasiswa Indonesia di Australia saat itu lebih dari lima ribu orang,” ulasnya.

Dia menjelaskan, kegiatan-kegiatan yang sering digelar itu bersifat entertainment untuk kalangan muda. Meski hanya digawangi Nana bersama dua rekannya, Indra Fahlevy dan Casey Ntoma, EO bernama “D-11 entertainment” sukses menggelar berbagai acara hiburan. “Seru. Selain menyalurkan hobi, dengan EO ini kami bisa menambah pengalaman,” ulasnya.

Meski awalnya EO tersebut sekadar menyalurkan hobi, namun pada perjalanannya juga menjadi sumber penghasilan. “Kita awalnya kan fun-fun saja, namun kok kita akhirnya tahu bahwa ini menghasilkan, maka semakin giat menggelar berbagai acara,” katanya sambil tergelak.

Dari sekian kegiatan yang pernah digelar, kata dia, konser dengan bintang tamu Glen Fredly dan Marcel Siahaan menjadi puncak gelaran acara. Konser itu berhasil mengundang perhatian banyak penonton.

“Sukses saat itu, banyak sekali yang datang untuk menonton. Kita menjalin kerja sama dengan aparat keamanan di sana, sehingga tidak ada kerusuhan. Sangat jarang juga ada kerusuhan saat konser, beda dengan di sini (Indonesia) yang sering pada tawuran,” ceritanya.

Namun, kesuksesan menggelar berbagai acara itu akhirnya terhenti, karena dia harus kembali ke Tanah Air. Selain telah menamatkan belajar, Nana juga diminta pulang orangtuanya untuk mengembangkan karier di Indonesia.

“Mungkin karena saya orangnya ramai, hahaha… Makanya, saya diminta pulang oleh ortu. Saya sempat bekerja di sebuah bank swasta di Jakarta, pada Mei 2008. Tak lama, sekitar setahun abis itu pulang ke kampung halaman di Kalimantan,” cetusnya.

Sebagai perempuan muda enerjik, pulang ke kampung halaman tak membuatnya diam berpangku tangan. Dia justru tertantang membuat sesuatu yang baru dan bisa berguna bagi masyarakat. Yup, dia mendapat ide membuat arena hiburan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

“Sempat bingung juga awalnya mau bikin apa, tapi akhirnya diputuskan membuat waterpark. Di Palangkaraya belum ada arena hiburan semacam ini. Biasanya warga kalau mau mendapatkan hiburan sejenis ini harus ke Banjarmasin atau terbang ke Jakarta,” jelasnya.

Ternyata bukan perkara mudah membuat arena hiburan tersebut. Sebab, dia belum memiliki pengalaman di bidang tersebut. Apalagi, lokasi yang akan dibangun masih berupa hutan seluas 4,5 hektar.

“Mulai dari nol pembangunan itu. Harus babat hutan terlebih dahulu dan meratakan tanah agar bisa dibangun,” katanya bersemangat.

Di saat itulah, sosok Riccardo Frederik, suaminya, menjadi orang yang sangat berjasa. Dia kemudian hanya fokus pada sisi manajemen, sementara suaminya lebih kepada urusan teknis pembangunan dengan segala kebutuhan materialnya.

“Kita datangi seluruh waterpark di Jakarta, survei sekaligus belajar. Saya melihat bagaimana pengunjung mulai masuk arena, sistemnya hingga pembukuannya. Sedangkan suami melihat struktur bangunan, bentuk kolam, bagaimana air kolam tidaak keruh dan sebagainya. Ada satu temen yang ikut membantu dalam hal ini (waterpark),” urainya.

Hasilnya, luar biasa. Kerja keras itu membuahkan hasil pada saat launching yang dihadiri sekitar tiga ribu pengunjung. Tak hanya waterpark, kawasan (boulevard) tersebut juga didirikan resto dan gedung pertemuan.

“Selama sebulan pertama pengunjung membludak. Kita seneng lah. Sekarang ada sekitar 80 karyawan yang bekerja di Boulevard Kalawa milik kami ini,” katanya bangga.

Keberhasilan membuat arena hiburan itu menjadi modal bagi dirinya untuk lebih berkembang. Sebagai anak yang memiliki darah politik dari orangtuanya, Nana tertantang untuk terjun sebagai politikus. Apalagi, saat itu menjelang pemilihan legislatif 2014.

“Bapak (Reinhard Atu Narang/Ketua DPRD Kalteng) dan kakak sebagai politisi. Selain itu paman (Agustin Teras Narang) juga sebagai Gubernur Kalteng. Jadi darah politik itu mengalir dalam diri saya. Saat diumumkan KPU masuk DCT (daftar caleg tetap), itu saya baru tahu kalau lagi hamil (anak kedua),” ujar Nana.

Meski hamil, Nana tetap turun ke lapangan untuk menemui warga di daerah pemilihannya. Dia mengaku tak banyak mengumbar janji saat kampanye. Pembawaannya yang lugas, ceplas-ceplos, dan tidak bertele-tele menjadi daya pikat masyarakat untuk mengantarkannya menuju kursi anggota dewan.

“Saya kebetulan satu dapil dengan bapak, saya nomor dua sedangkan bapak nomor satu. Meski sekarang bapak terpilih lagi menjadi Ketua DPRD Kalteng, saya tetap mengikuti semua prosedur. Misalnya saya izin, juga harus mengajukan sesuai aturan, meski sebenarnya bisa bilang ketika di rumah,” lugasnya.

Sebagai wakil rakyat, dia mengaku prihatin karena masih sering mendengar warganya mengeluhkan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Padahal, Nana ditempatkan pada Komisi D yang membidangi infrastruktur.

“Sebenarnya juga tidak pas, karena KDRT itu yang mengurusi bidang kesejahteraan. Sedangkan saya kan infrastruktur, pembangunan, dan sebagainya. Namun, itu tidak apa-apa mungkin karena mereka melihat saya sebagai perempuan, sehingga bisa menceritakan kasusnya,” katanya.

Sambil melihat anak keduanya, yang tidur pulas dalam kereta bayi, dia mengatakan, kasus KDRT ibarat fenomena gunung es. Meski banyak kasusnya, namun yang melapor ke pihak berwajib sangat minim. “Rata-rata mereka malu untuk melapor. Biasanya perempuan berpandangan bila lapor akan dibilang istri yang tidak berbakti, takut tidak dinafkahi,” tegasnya.

Dia juga mencermati isu perpindahan ibu kota negara yang salah satu alternatifnya adalah Palangkaraya. Menurutnya, Palangkaraya memiliki modal yang cukup untuk menjadi ibu kota negara karena sangat luas. Selain itu, daerah tersebut juga jauh dari pantai dan gunung sehingga relatif aman dari bencana.

“Ini memang masih pro-kontra, banyak yang mendukung tapi tak sedikit yang menolak. Menurut saya, Palangkaraya siap menjadi ibu kota negara setelah berbagai pembangunan. Mungkin sekitar 10 sampai 20 tahun ke depan. Dari segi masyarakat saya kira juga siap,” tukasnya.

Ibu dari Matthew Jaeden Tesan Frederik (3,5) dan Azelia Sophie Adrina Frederik (sebulan) itu mengakhiri pembicaraan bersamaan dengan suaminya yang datang menghampiri. Mereka lantas meninggalkan tim BUSET sambil mengucapkan kata perpisahan.

tb