Selama empat hari di pertengahan Juli kemarin penduduk lokal beramai-ramai mendatangi Furnitex yang diadakan di Melbourne Convention Centre. Furnitex adalah pameran furniture dan aneka dekorasi terbesar di Australia yang setiap tahun menawarkan koleksi lengkap terbaru dari pabrikan serta penjual grosir asal Australia maupun internasional.

Lebih dari 500 manufaktur menunjukkan andilnya dalam dunia bisnis mebel, dan dua diantaranya berasal dari Indonesia, yaitu Cane Java dan Turendav. Mereka adalah dua nama yang mendapat dukungan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne untuk tampil di Furnitex mewakili nama Indonesia selama dua tahun berturut-turut.

Bila produk Cane Java dibuat menggunakan bahan dari kategori natural fibre, yakni rotan, maka Turendav lebih berfokus pada bahan dasar kayu jati dan mahogani.

Cane Java yang berpusat di 1/48 Greens Road, Dandenong South, Victoria dijalankan Muhammad Noerdiansyah. “Pertama-tama Cane Java itu dari family business di Cirebon, yang juga dari orangtua. Terus baru deh dilanjutkan dengan punya toko sendiri di Melbourne,” ujar pria yang lebih akrab disapa Ancha.

Ancha memulai kancah Cane Java di Melbourne sebagai wholesaler dengan mengikuti berbagai pameran furnitur sejak tahun 2000. Di bawah produksi langsung dari PT. Inti Bintang Mas Perkasa, produsen perabotan rotan dan kayu asal Cirebon, Jawa Barat, Ancha berhasil mengimpor beberapa produknya untuk department store lokal di Melbourne seperti Target, Myer dan The Reject Shop.

Pada 2003 Cane Java akhirnya mendirikan toko retail di Dandenong demi mempermudah akses publik. Di Furnitex, kios Cane Java menawarkan produk rotan Indonesia dengan kisaran harga mulai dari $50. Kualitas dan desain yang ciamik membuat Cane Java ramai dikunjungi, dan yang menjadi favorit pembeli adalah peacock chair seharga $300. Di kios ini pula video pembuatan produk rotan ditayangkan untuk menambah pengetahuan pembeli tentang proses produksi.

Sementara itu, Turendav merupakan perusahaan mebel berbasis di Australia dengan bahan kayu yang diimpor dari Solo. Perusahaan ini muncul setelah salah satu pendirinya, Metin Koch yang berlatar belakang Turki pertama kali ke Indonesia pada tahun 1999. “My group leader told me to go and look for something to export and import. At first we didn’t go for furniture. But after looking at 8 and 9 products or so, we decided to go with furniture instead,” ungkapnya.

Turendav yang berlokasi di 19 Lisa Place, Coolaroo, Victoria juga sudah berkecimpung di dunia furnitur selama 15 tahun dan mengikuti Furnitex sejak tahun 2000.

Sayang, Metin mengakui adanya penurunan penjualan furnitur selama 4 sampai 5 tahun terakhir. Hal ini pun diamini Ancha. Menurutnya, ini merupakan imbas dari penurunan ekonomi Australia secara keseluruhan. Saat ditanya mengenai dukungan yang diberikan pemerintah Indonesia, mereka menganggap sudah cukup baik, namun perlu juga ditingkatkan dengan dukungan dari masyarakat Indonesia sendiri.

“Saya sih maunya dimulai dari kita sendiri, sebagai orang Indonesia harus tahu kalau ini adalah kekuatan kita. 80% kontribusi rotan kan dari Indonesia, jadi sebagai orang Indonesia, harusnya pakai furnitur Indonesia. Di rumah kita, di apartemen kita, di kantor-kantor kita, khususnya di Konsulat Jenderal Republik Indonesia, dimana saja. pokoknya harus mulai memakai produk Indonesia. Jadi kalau ada orang yang datang dan melihatnya, kita bisa membanggakan kalau itu produk asal Indonesia,” jelasnya Ancha.

Lebih lanjut Ancha mengatakan kebanyakan pelanggannya bukan orang Indonesia melainkan orang asing, atau orang asing yang menikah dengan orang Indonesia. Ancha berharap hal ini dapat berubah, dimana orang Indonesia dapat lebih mendukung pemasukan dari bangsa sendiri. “Cintailah produk Indonesia. Itulah yang perlu ditekankan.”

Maradona Runtukahu, Konsul Muda Ekonomi KJRI Melbourne menjelaskan bahwa sudah menjadi tugas mereka di KJRI untuk mempromosikan Indonesia di Australia. Awalnya pihak KJRI mencoba mengundang beberapa pengusaha mebel dari Indonesia. Sayangnya hal ini terbentur kendala outsource dan biaya. Kendati demikian, KJRI tetap mencari dan mendukung usaha mebel Indonesia di Victoria agar dapat terus memasarkan produk Tanah Air, seperti halnya Cane Java dan Turendav.

“Keunggulan Indonesia sebenarnya tidak ada kompetisi, karena rotan memang dari hutan kita sendiri, meski sempat kalah sama negara Tiongkok dan Vietnam yang membeli bahan baku dari Indonesia dan diproses menjadi produk mebel di negara mereka masing-masing. Tetapi sejak adanya pelarangan ekspor natural fiber dari mantan Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan, industri rotan jadi lebih memiliki competitive advantage dibanding produsen mebel berbahan baku natural fiber di negara-negara yang saya sebut tadi,” ungkap Konsul Muda Maradona.

“Pada tahun 2012 memang sempat terjadi penurunan serapan bahan baku domestik, namun saat ini geliat industri telah lebih baik dan ekspor telah meningkat sehingga perlahan-lahan dapat mencapai harapan kita bersama, yaitu menjadi tuan rumah atas produksi berbahan baku domestik, sekaligus menggenjot ekspor, terutama di Australia ini,” tambah beliau.

Untuk mencari tahu lebih lanjut tentang Cane Java dan Turendav silahkan kunjungi situs www.canejava.com dan www.turendav.com

 

sasha