Profesor Campbell McKnight
Banyak warga yang mengagumi kekayaan budaya Indonesia

Museum of Indonesian Arts (MIA) kembali menggelar sebuah pameran bertema unik di bulan Agustus lalu. Berjudul ‘Art Across Water’, pameran tersebut dibuka secara resmi pada 4 Agustus dan berlangsung hingga 2 September 2017. Lebih dari 50 orang meluangkan waktu pada sebuah Jumat petang untuk menghadiri malam pembukaan (opening night) pameran. Mereka memenuhi ruangan foyer Monash Gallery of Arts yang didaulat menjadi tempat penyelenggaraan acara.

 

Elisabeth Hames-Brooks (pengunjung)

Pameran ini menunjukkan pengaruh budaya Indonesia yang memasuki Australia semenjak ratusan tahun yang lalu. Koleksi yang dipajang pada opening night tersebut pun boleh dibilang merupakan salah satu koleksi terunik yang pernah dipamerkan oleh MIA. Seperti dijelaskan oleh Profesor Campbell McKnight ketika ditemui seusai acara, “koleksi yang dapat dilihat di sini berasal dari banyak orang di Melbourne yang mencintai adat istiadat dan kebudayaan Indonesia. Banyak sekali barang-barang menarik yang diperlihatkan di sini, seperti misalnya kain tradisional dari Toraja dan songkok dari Bone yang terbuat dari recca.” Campbell yang pernah mengajar di Australian National University dan University of Tasmania tampak begitu antusias menjelaskan. Tak pelak, kecintaannya terhadap budaya Indonesia terpancar dengan jelasnya.

 

Salah seorang pengunjung yang hadir, Elisabeth Hames-Brooks, turut berbagi pendapatnya, “I think it is a wonderful exhibition. Banyak subyek yang diangkat di sini, seperti bahan tekstil yang begitu indah dan berbagai kerajinan perak. Sangat bersyukur rasanya kepada para individu anggota MIA yang telah bersedia meminjamkan berbagai benda yang ada di sini. Menurut saya penting sekali untuk mempertahankan hubungan antar budaya yang dimiliki oleh Indonesia dan Australia yang sangat istimewa adanya.”

Setelah peresmian pameran, para pengunjung pun diajak memasuki sebuah aula yang telah tertata rapi di bagian belakang museum. Di sana mereka bisa menikmati berbagai santapan ringan yang telah disediakan. Opening night juga diramaikan oleh komunitas Batak Bonapasogit, yang tampil membawakan berbagai tembang merdu. Dengan bangga dan senyum tersungging, mereka mengenakan pakaian khas Batak dan berlenggak-lenggok untuk menghibur para pengunjung yang hadir.

Bonapasogit Victoria menghibur melalui nyanyian dan tarian

 

 

Ishie