Lucu, tak kenal lelah, energetik, dan nasionalis mungkin merupakan segelintir ciri-ciri yang dimiliki oleh Pandji Pragiwaksono. Siapa pun yang mengenal dan pernah menikmati karya-karyanya pasti akan kagum dengan kapabilitas serta totalitas yang ia miliki. Pria berumur 37 tahun ini memiliki segudang pengalaman dalam perjalanan hidupnya. Pekerjaan seperti menjadi penyiar radio, aktor, presenter televisi, penulis buku, penyanyi rap, serta stand up comedian pernah ia geluti.

Melalui hasil kerja keras dan sikap pantang menyerah, tahun ini Pandji Pragiwaksono kembali hadir menghibur masyarakat dunia lewat tur 5 benua dan 24 kota. Host acara ‘Sebelas Duabelas’ ini telah melanglang buana ke berbagai kota di Eropa, Afrika, serta Tiongkok sejak bulan April lalu.

Agustus lalu Pandji berada di kota ke-12, Melbourne yang menandakan setengah dari perjalanan turnya kali ini. Dalam tur ‘Juru Bicara Stand Up Comedy World Tour’, ia memposisikan diri sebagai ‘juru bicara’ bagi siapapun yang terlalu lemah dan tidak mampu menyampaikan aspirasi kepada beragam masyarakat Indonesia di seluruh dunia.

Ini adalah kali kedua sang komedian mengisi panggung hiburan di Melbourne. Sebelumnya, Pandji sempat mampir dalam rangkaian Tur Mesakke Bangsaku dan tampil di acara ‘Pandangan Merdeka Dalam Tawa’ (Pandawa) hasil kolaborasi PPIA Swinburne dan PPIA Deakin pada tahun 2014 silam.

Pandji memang mendapat berbagai ‘titipan’ dari banyak orang untuk membawakan pesan dalam materi stand upnya. Salah satunya adalah kegiatan Kamisan dari Ibu Sumarsih yang anaknya merupakan mahasiswa korban kerusuhan tahun 1998. Selain itu, Pandji juga menyinggung konservasi internasional yang kerap kesulitan menyampaikan materi-materi ke publik. Dalam world tour 2016 -nya, pria bertubuh tegap itu membawakan beragam tema mulai dari pelanggaran HAM, LGBT, rating televisi, legalisasi prostitusi, Muslim toleran, teori evolusi, satwa langka, komunisme, hingga entrepreneurship.

Pandji Pragiwaksono yang ditemui BUSET melalui acara ‘Teater Muda Langkah Awal Merdeka’ (Temu Lawak) garapan PPIA Victoria, mengaku banyak isu serta permasalahan yang terbilang rumit dan secara materi cukup ‘berat’ untuk dibahas dalam stand upnya kali ini jika dibandingkan dengan Tur Mesakke Bangsaku. Kendati demikian, pria yang terinspirasi oleh karya-karya Glen Fredly dalam berbagi cerita hidup kepada masyarakat Indonesia ini mengibaratkan komedian sebagaimana penyanyi yang menciptakan lagu berangkat dari keresahan hati, sehingga membuat aksinya menjadi lebih mudah dalam mengekspresikan materi-materi tersebut. Menurut pengakuannya, ia dan tim telah mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih matang untuk turnya kali ini.

“Dari jauh-jauh hari kita sudah diingatkan kalau tur ini bakal menguras fisik, sangat melelahkan dalam menjalani tur yang panjang. For the most part it’s a wonderful experience. Tapi ada juga dark sidenya; dari lelah, capai, rumitnya menyelenggarakan event. Untuk menyiasatinya, gue sering disupply vitamin sama manager, sama suka jogging setiap pagi hampir di setiap kota yang dikunjungi untuk mastiin gue selalu bugar,” tutur komedian yang mengidolakan klub sepak bola Manchester United tersebut.

Suami dari Gamila Mustika Burhan ini pun mengaku bahwa dalam kesibukannya ia tetap mengusahakan untuk membaca buku, menonton film dokumenter, menonton youtube untuk menjadi bahan obrolan bersama orang-orang yang ia temui serta juga menjadi ‘modal’ untuk joke-joke yang ia bawakan.

“Materi stand up sudah ditulis dan dipersiapkan selama 6 bulan dari bulan November 2015 sampai April 2016. Hingga akhirnya ketemu set yang solid dan telah diujicobakan dalam berbagai acara open mic,” ujarnya ketika ditanya mengenai persiapan dan penulisan materi stand up yang ternyata memakan waktu yang cukup lama.

“Nulis joke itu rumit, salah milih kata efeknya berkurang. Terus misalnya kita main majas, salah milih majas orang engga ngerti. Joke itu idenya sama, tapi salah milih reference atau kata-kata jatuhnya bisa beda sama sekali. Untuk nemuin set of jokes yang bisa bekerja dalam durasi dua jam untuk semua orang di berbagai kota merupakan tantangan bagi gue,” tuturnya menambahkan.

Gua percaya kerja keras ngalahin bakat, kalau bakat tidak bekerja keras. Bakat memainkan peran yang penting tapi kerja keras mengasah bakat tersebut jauh lebih krusial.” – Pandji Pragiwaksono

Berbicara mengenai topik stand upnya yang paling menarik dalam turnya kali ini, Pandji mengungkapkan bahwa topik entrepreneurship adalah topik yang paling dekat di hati dan satu-satunya materi yang tidak datang dari titipan orang.

Ditanya mengenai kemungkinan untuk berkiprah di dunia entrepreneurship seperti khalayak artis lainnya, Pandji mengungkapkan bahwa ia telah meluncurkan beberapa unit business seperti Projek Wongsoyudan yang mengelola tur yang sedang ia jalani.

Selain itu, ada juga Wongsoyudan Production House yang menyediakan jasa konsultasi dan pembuatan material hiburan; meluncurkan kolamkomik.com yang merupakan situs komik digital; serta wsydnshop.com yang menjual berbagai karya dari DVD stand up, buku, CD rap, dan aneka produk lainnya.

Pandji kemudian mengungkapkan rasa syukurnya ketika dapat bertemu masyarakat Indonesia di berbagai belahan dunia. Menurutnya, sangat menyenangkan dapat melihat berbagai sisi dunia sekaligus berbincang dengan warga Indonesia. Lewat turnya ini, ia juga berkesempatan mengunjungi Kota Pretoria di Afrika Selatan yang tidak pernah ia bayangkan dalam benaknya. Apalagi dapat melawak di sana, pastinya ini merupakan hal yang menambah pengalaman serta menjadi prestasi tersendiri dalam perjalanan karir seorang Pandji Pragiwaksono.

Karir dan Kritik

Profesi komedian yang telah dilalui Pandji tidak selalu berjalan dengan mulus. Terkadang mantan penyiar Hard Rock FM Bandung ini mendapat kritik dari berbagai kalangan lantaran ada candaan yang terbilang cukup kontroversial. Misalnya saja, ujar Pandji, materi legalisasi prostitusi. Ia menganggap bahwa hal tersebut merupakan solusi yang baik karena itu benar menurutnya dan hal tersebut berangkat dari temannya yang terjangkit HIV/AIDS.

Ditambah lagi, hubungan dekat Pandji dengan kaum aktivis membuatnya semakin gencar menyerukan legalisasi prostitusi agar penyebaran HIV/AIDS dapat berkurang. Alumnus Kolese Gonzaga, Jakarta itu menyesalkan ulah para politisi yang hanya memberikan solusi singkat dengan cara menutup tempat prostitusi demi mendongkrak popularitas tanpa memikirkan efek jangka panjang yang bisa ditimbulkan.

Dengan berbesar hati Pandji pula pernah meminta maaf kepada beberapa golongan yang menyalahartikan jokes yang ia bawakan. Pandji menganggap bahwa hal itu lumrah mengingat komunikasi terkadang tidak dapat disampaikan secara 100% di setiap waktu.

Level edukasi pun terkadang menjadi hambatan ketika banyak orang tidak mampu menginterpretasi materi yang disampaikan secara benar. Dalam penilaiannya, masyarakat usia 18 hingga 35 tahun dengan pendidikan S1, first jobers, serta kalangan profesional merupakan target pendengar yang tepat.

When you have a product that has such a strong character, people can decide whether to love it or to hate it, there’s no in between, seperti buah durian yang sangat ekstrim,” ujarnya menjelaskan mengenai para pendukung dan haters-nya.

Indonesia Perlu Dibenahi

Berbicara mengenai kentalnya nasionalisme yang dimiliki, Pandji menjadikan anak-anaknya sebagai alasan utama. Ayah dari Ourania Almashira Wongsoyudo dan Wadilla Dipo Wongsoyudo ini ingin agar anak-anaknya bisa menjadi apapun yang mereka inginkan. Namun, nyatanya negara Indonesia dikenal bukan negara yang tepat untuk mengembangkan kemampuan anak-anak.

Menurut pandangan Pandji, pada tingkat anak-anak, Indonesia banyak menelurkan juara dunia di berbagai bidang, seperti juara Olimpiade Fisika, paduan suara, debat, robotic, hingga juara dunia sepak bola tingkat SMP. Akan tetapi, ketika naik ke level profesional, Bangsa Merah Putih ini terlihat tidak siap untuk menjadi lembaga yang bisa menerbangkan mereka menjadi apapun yang mereka mau.

“Ada yang harus gue rapihin dari Indonesia, I can not do it by myself, harus usaha kolektif. Gue mau buat orang-orang tau apa yang gue tau tentang Indonesia. Ketika wawasannya sama, kita baru bisa sama-sama bergerak merapihkan Indonesia. Gue ingin anak gue tau kalau gue turut berperan untuk membangun Indonesia,” pungkasnya.

Melbourne Penuh Kesan

Ketika ditanya tentang kunjungannya, Pandji mengaku bahwa Melbourne sangat berkesan dan merupakan salah satu kota terbaik yang pernah ia jambangi.

I really really love this whole city as experience. Reminds me as bandung. Ditinggal sendiri gue bisa merasa aman, bisa membaca tata kota dengan gampang, transportasi umumnya proper, banyak kafe dan restoran yang menyenangkan, dan sangat pantas dinobatkan sebagai kota terbaik dunia untuk ditinggali selama 6 tahun berturut-turut.”

 

 

Leo
Foto: Leo