Stand up comedy memang belum lama masuk Indonesia, tetapi menurut seorang Pandji Pragiwaksono, karir sebagai stand up comedian teramat menjanjikan karena stand up comedy terbukti menjadi batu loncatan yang efektif untuk berkarir di dunia hiburan. “Banyak komedian yang main film, banyak komedian yang jadi presenter, jadi bintang iklan. Bayaran untuk orang stand up sudah semakin tinggi dan orang pertama di Indonesia yang bikin world tour adalah stand up comedian. Jadi menurut saya cukup menjanjikan,” ujar pria berusia 35 tahun ini.


[alert color=”C24000″ icon=”hearts”]Asal muasal menjadi stand up comedian[/alert]Awalnya Pandji bisa mendalami bidang stand up comedy adalah karena ia dari dulu memang suka dan pintar ngomong, dan senang membuat lelucon. Ketika masih duduk di bangku SMA, apabila guru pelajaran tidak kunjung datang, ia suka maju ke depan kelas berpura-pura menjadi guru tersebut dan melawak di depan kelasnya. Akibat ulahnya ini, salah seorang teman kelasnya berkomentar, “wah si Pandji lagi stand up tuh! Lucu! Jadi stand up comedian aja!”

Kala itu Pandji masih belum mengerti konsep stand up comedy yang dimaksud temannya. Seiring dengan berjalannya waktu, ia pindah ke Bandung untuk berkuliah dan mulai bekerja di radio. Sewaktu sedang melontaran lawakan, ada lagi teman yang memberi komentar tentang stand up comedy. “Saya mikir kenapa orang consistently ngomong kayak gitu. Nah, akhirnya pas saya nonton acara Robin Williams baru saya tau apa itu stand up,” cerita pria yang memulai debutnya sebagai stand up comedian pada April 2010 ini.

“Saya melihat Robin Williams di acara stand up-nya, “Live on Broadway”, dan saya bilang, saya bisa nih kayak gini.” Maka itu berpulangnya Robin Williams pada 11 Agustus 2014 dirasakan Pandji secara personal

karena menurutnya dia mungkin tidak akan pernah menjadi stand-up comedian jika bukan karena Robin. “Saya bukan cuma mengagumi dia sebagai stand up comedian, tapi film-filmnya tuh juga bagus-bagus, kayak “Dead Poets Society”, “Mrs. Doubtfire”,” Bicentennial Man”, “Jack”, banyak deh.”

Melanjutkan kisah asal muasal karir Pandji, inspirasi selanjutnya datang ketika Chris Rock beraksi di salah satu acara stand up-nya, “Never Scared”. Momen tersebut merupakan cikal bakal kelahiran Pandji sebagai stand up comedian dimana dirinya merasa yakin dan harus benar-benar mencoba. “Saya coba untuk ngelatih diri saya sendiri untuk stand up. Pelan-pelan di depan penonton konser, dulu saya punya konser mini hip hop bulanan, Twivate concert,” ungkap pria yang hingga kini masih mengagumi Chris Rock sebagai komedian favoritnya.

Ketika stand up comedy meledak di Indonesia, menurut Pandji, Raditya Dika ialah the go-to guy bila ingin belajar komedi. “Jadi ilmu saya banyak datang dari dia, bahkan di Indonesia stand up comedian banyak datangnya dari dia,” aku Pandji yang juga berkata bahwa komedian favoritnya di Indonesia adalah Sule.

 

[alert color=”C24000″ icon=”hearts”]Bukan hanya untuk orang berpendidikan[/alert]Banyak orang berprasangka jika stand up comedy tidak merakyat, dalam artian sulit dipahami masyarakat yang kurang berpendidikan. Menanggapi hal ini, Pandji menjelaskan jika bahan lelucon terletak di referensi, bukan di tingkat edukasi. “Misalnya ada seorang profesor stand up comedy tentang dunia ke-profesor-an tapi di depan anak SMA. Pasti anak SMA-nya ngga ketawa, padahal pintar. Sebaliknya kalau misalkan ada anak SMP ngelawak tentang kehidupannya anak SMP di depan anak-anak SMP pasti pada ketawa. Jadi kuncinya adalah referensinya harus sama, preference-nya harus sama,” jelasnya.

Pandji yang ditemui di acara Pandangan Merdeka Dalam Tawa (Pandawa) garapan PPIA Swinburne dan Deakin University, juga bercerita tentang seorang teman seprofesinya. Sang teman berbicara tentang kehidupannya yang susah; mencari uang susah, bayar sekolah susah, apa-apa susah karena memang ia bukan orang yang berada. “Tetapi orang kalangan bawah ketawa nonton dia, bahkan waktu itu dia pernah stand up di pengungsian banjir Jakarta. Jadi dia menghibur keliling-keliling gitu. Komedi nggak ada hubungannya sama tingkat pendidikan, asal referensinya dia sama dengan referensi penontonnya, harusnya nyambung, apapun latar belakang pendidikan dan ekonominya.”

 

[alert color=”C24000″ icon=”hearts”]Peningkatan kharisma[/alert]Menurut Pandji, dewasa ini industri stand up comedy di Indonesia telah mengalami peningkatan. Bila di Amerika Serikat stand up comedy dipakai sebagai batu loncatan, misalnya saja Ellen DeGeneres yang kini memiliki talk show sendiri, Eddie Murphy menjadi bintang film dan Ray Romano mempunyai sitkom “Everybody Loves Raymond”, di Indonesia pun sama faktanya dimana baru-baru ini “Comic 8” menjadi film layar lebar dengan penonton terbanyak di tahun 2014. “”Comic 8” itu isinya delapan aktor yang baru main film pertama kali, tetapi mereka semuanya itu stand up comedian, sampai sekarang penontonnya lebih banyak dari “The Raid 2”. Itu cukup efektif untuk menggambarkan bagaimana industri stand up comedy di Indonesia sangat berkembang dengan pesat,” papar Pandji.

 

[alert color=”C24000″ icon=”hearts”]Sibuk menulis[/alert]Pandji juga baru-baru ini menerbitkan beberapa e-book; yang pertama bertajuk “Nasional.Is.Me”, dan yang paling baru adalah “Indiepreneur”. Pandji mengakui jika seringkali hidupnya didorong oleh rasa ingin menulis. “Dari dulu misalkan saya ingin mempelajari dan memahami sesuatu, saya menulis.”

Indiepreneur” lahir dari serangkaian pemikiran dan eksperimen tentang pemasaran. “Setelah proses yang cukup panjang, saya pikir saya bukuin aja karena pasti banyak teman-teman yang juga ingin hidup dari karya masing-masing tanpa keluar dari idealismenya.” Tak dipungkiri, di dalam “Indiepreneur” ada pembahasan tentang stand up comedy yang diambil dari film, musik, bahkan dari buku.

 

[alert color=”C24000″ icon=”hearts”]Surat terbuka untuk Dhani[/alert]Menulis memang bisa menjadi medium penyaluran emosi dan pemikiran. Di sela-sela sengitnya kampanye pemilihan Presiden RI yang baru saja berlalu, penyanyi papan atas Ahmad Dhani sempat dicerca banyak orang karena keputusannya memakai baju seragam (mirip) Nazi dan menyanyikan lagu We Will Rock You – dengan diganti liriknya – tanpa ijin dari pihak pemilik hak ciptanya. Kedua hal tersebut dilakukan Dhani untuk kampanye mendukung calon presiden Prabowo. Melihat hal ini, Pandji Pragiwaksono memutuskan untuk menulis sebuah surat terbuka.

“Saya mengagumi Ahmad Dhani. Karena orang-orang pada nyela dia, saya cuma pengen jadi orang yang bilang ‘you know what? No matter what people say, I still admire you, I still see you as my hero’. Nggak tau dibaca apa nggak, tapi pengen bilang itu aja,” jelasnya ketika ditanya mengenai tujuannya menulis surat tersebut.

Perihal seragam, Pandji berpendapat bila Dhani hanya mencari sensasi. “Dari dulu juga dia seperti itu orangnya. Tetapi itu adalah keputusan Dhani sendiri, dan dia cukup dewasa untuk mengambil keputusan dan resiko atas keputusan tersebut. Mungkin dia tahu imbasnya dari memakai seragam Nazi itu, tapi nggak gitu ngeh bahwa dia juga mewakili Prabowo pada saat itu sehingga menjadi tambah parah.”

 

[alert color=”C24000″ icon=”hearts”]Jadi host[/alert]Kesibukan Pandji lainnya adalah mengisi acara talk show “Sebelas Duabelas” yang ditayangkan di Kompas TV.

Awalnya Pandji dihubungi Kompas dan ditawarkan untuk menjadi host di program tengah malam yang berupa talk show komedi. “Saya bilang saya mau, tapi saya mau terlibat seratus persen di proses kreatifnya. Mereka bilang oke, dan akhirnya kita kerja bareng,” ujarnya.

Sejauh ini respon masyarakat terhadap “Sebelas Duabelas” bagus sekali kendati masih ada banyak aspek yang perlu diperbaiki. “I think it’s a good thing karena berarti ada pertumbuhan yang bisa dilakukan oleh “Sebelas Duabelas”,” imbuh Pandji seraya mengingatkan kita untuk selalu berpikir positif.

Selain “Sebelas Duabelas”, ayah dari Wadilla Dipo Wongsoyudo (7) dan Ourania Almashira Wongsoyudo (3) ini pula menjadi host di acara pencarian bakat “Stand up Comedy Indonesia” yang sudah dimulai sejak 2011. Melalui ajang ini, Pandji merasa teramat senang dan bangga karena dapat melihat bakat baru yang bermunculan dan tumbuh di depan matanya.

 

sasha