Kunjungan Dubes Michael Manufandu ke Melbourne sekaligus bertemu dengan warga dan media untuk membahas mengenai perkembangan Papua dan Papua Barat. Acara yang diinisiasi AIJA (Association of Indonesian Journalists in Australia) tersebut dilangsungkan di Ruang Bhinneka, KJRI Melbourne dan dihadiri oleh Konsul Ekonomi Wita Poernamasari dan Konsul Muda Pensosbud Oldrin Lawalata.

Sebagai salah seorang warga asli Papua yang sukses berkiprah dalam dunia politik dan pendidikan Tanah Air, Dubes Michael membagikan pengalaman serta pandangannya mengenai wilayah yang kerap dianggap terbelakang oleh masyarakat umum Indonesia. “Orang melihat Papua sebagai tempat yang misterius dan penuh ketidakpastian… Justru perlu dicaritahu persoalan, juga sebab-sebabnya dan bagaimana mengatasinya,” papar beliau.

Duta Besar Michael Manufandu
Duta Besar Michael Manufandu

Secara geografis, wilayah Papua terbentang luas namun penuh dengan lembah, gunung dan lereng sehingga satu desa dengan lainnya saling terpisah jauh. Hal ini membentuk isolasi budaya yang lalu menjadi salah satu faktor utama yang menghambat kemajuan masyarakatnya. “Saya bicaya sebagai orang yang rasional dan konstruktif,” lanjut Dubes Michael, “Papua itu sekitar 3.5 kali Pulau Jawa. Adanya kebodohan, isolasi budaya dan keterbelakangan lalu dimanfaatkan OPM dan separatis.”

Beliau menilai adanya undang-undang otonomi khusus untuk Papua yang dicanangkan Presiden Abudrrahman Wahid berhasil membuat perubahan besar meski memerlukan waktu yang tidak sebentar. Kebijakan pemerintah tersebut memberikan kebijakan-kebijakan yang pada dasarnya ingin memproteksi keselamatan, kesejahteraan warga sekaligus melestarikan kebudayaan Papua. Selain itu, UU otonomi khusus juga memberikan kebebasan dalam kepemimpinan daerah agar masyarakatnya dapat terlepas dari keterasingan dan dapat mulai berpartisipasi dalam berbagai aktifitas politik, sosial dan lain sebagainya. Pada akhirnya, kemandirian Papua adalah tujuan yang ingin dicapai dari adanya UU tersebut.

“Sejak adanya UU otonomi khusus, struktur kepemimpinan mulai dibuat agar lebih tepat, cepat dan dekat dengan rakyat, maka itu dibuat 3,335 desa,” ujar Dubes Michael. Hampir semua pejabat yang ditugaskan juga merupakan rakyat Papua sendiri sehingga dapat lebih mengerti kebutuhan rakyat yang paling utama dan bagaimana cara mengakomodirnya.

Dubes Michael Manufandu telah lama bersumbangsih bagi Papua sehingga pandangannya sangat dihargai oleh berbagai lapisan masyarakat. Lahir di Biak pada 9 November 68 tahun silam, Dubes Michael menyelesaikan gelar S2 dan S3nya di Universitas Indonesia. Setelah lulus, beliau meniti karir politiknya sebagai camat dan kemudian Walikota Jayapura pada 1988 hingga 1993.

Di dunia pendidikan, Dubes Michael juga pernah berprofesi sebagai dosen di Universitas Cendrawasih sebelum akhirnya kembali berkiprah sebagai direktur penataan hukum laut dan staf ahli menteri. Tugas terakhirnya adalah sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kolombia pada 2008 hingga 2011.

Konsul Wita Purnamasari menyambut kehadiran Dubes Michael Manufandu di Ruang Bhinneka, KJRI Melbourne
Konsul Wita Purnamasari menyambut kehadiran Dubes Michael Manufandu di Ruang Bhinneka, KJRI Melbourne