Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia mengadakan program sosial bertajuk “Improving Papua and East Nusa Tenggara’s Education” (IMPACT) untuk membantu anak-anak di kawasan Indonesia Timur.

Ridho – Director of Projects Department PPI Australiadan Nina – Charity Manager IMPACT

Program IMPACT merupakan wujud dukungan mahasiswa Indonesia di Benua Kangguru kepada program pemerintah dengan objektif memperkecil kesenjangan sosial antara wilayah Timur dengan wilayah lainnya di Indonesia.

Acara penyaluran bantuan program IMPACT yang diadakan pada 7 April 2018 di gedung Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Melbourne menutup penggalangan dana yang berlangsung sejak Januari 2018 tersebut.

Fakhridho SBP Susilo, Director of Projects Department PPI Australia, bersama para anggota lainnya memilih Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai penerima bantuan dana setelah mempelajari bahwa keduanya adalah wilayah yang memerlukan bantuan segera.“Berdasarkan riset kami tentang Indonesia Timur, kami sadar bahwa Papua dan NTT memiliki wilayah yang paling banyak tertinggal. Dari riset ini kemudian sampailah kami pada kesimpulan bahwa wilayah yang urgent dibantu adalah Papua dan NTT,” terang Ridho.

Penyerahan secara simbolik kepada perwakilan pemerintah RI yang diwakili Konsul Jenderal Spica Tutuhatunewa (dua dari kanan).

PPI Australia menyalurkan bantuan dengan memfasilitasi sarana belajar-mengajar sepuluh badan pendidikan informal berupa taman belajar di wilayah Papua dan NTT.

Penyediaan bantuan pun tidak tanpa konsiderasi yang seksama. Ridho mengatakan, “kami percaya bahwa informal educationyang hidup di tengah-tengah masyarakat merupakan suatu inisiatif yang apabila kita berfokus di situ, kita kembangkan, akan dapat memberdayakan masyarakat. Jadi kami memutuskan pada peningkatan kualitas bukan pada formal education, karena formal education mungkin dananya sudah banyak didapat dari pemerintah lewat APBN.”

Senada dengan Ridho, Charity Manager IMPACT Herfi Qurrota Hanina meyakini bahwa pendidikan merupakan salah satu jalur terbaik untuk membantu masyarakat yang ada di Papua dan NTT.“Kita berangkat dari kesadaran bahwa saudara kita yang di Papua dan Nusa Tenggara Timur masih ada yang wilayahnya tertinggal dan kami yakin bahwa pendidikan bisa memutuskan rantai kemiskinan yang ada di wilayah tersebut,” harapnya.
Relasi yang telah terjalin baik dengan alumni PPI Australia dari Indonesia Timur membuka kesempatan bagi PPI Australia untuk berbagi dengan masyarakat Papua dan NTT yang membutuhkan bantuan dana.

“Ada alumni PPI Australia yang dari timur, beliau sudah kembali ke daerah, mengabdikan diri dan aktif membangun taman baca. Melihat ada ruang untuk bekerjasama, akhirnya kami menggunakan leverage tersebut,” aku Nina.

Melalui aktivitas yang juga mendapat dukungan dari Menteri Perancanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro tersebut, Ridho ingin menggambarkan kepedulian mahasiswa Indonesia di Australia kepada negara sendiri.

IMPACT juga digunakan untuk mematahkan stigma yang masih beredar di mancanegara mengenai perlakuan buruk Indonesia terhadap Papua. “Kita ingin membuat suatu narasi yang besar di balik program ini. Melalui IMPACT, kami ingin menunjukkan bahwa para pemuda khususnya pelajar Indonesia di Australia tidaklupa akan nasib saudaranya di timur. Selain itu, mari kita jadikan ini sebagai suatu narasi besar untuk menangkal narasi-narasi yang sifatnya kontraprodutif terhadap persatuan dan kesatuan Indonesia.”

Ridho dan Nina merasa bangga atas prestasi komite IMPACT 2018 yang mampu mengumpulkan hasil penggalangan dana sembilan kali lipat dari tahun sebelumnya.Dana sebesar Rp 90.980.352,00 yang terkumpul langsung disalurkan kepada anak-anak di Papua dan NTT dimana sebagian besar dalam bentuk buku pelajaran dan peralatan kelas belajar-mengajar.

“Harapannya ke depan, kepengurusan PPI selanjutnya, kalau ingin melanjutkan program ini bisa scaling upmungkin fokusnya di wilayah timur tetapi mencakup provinsi-provinsi atau daerah-daerah lain seperti Maluku, yang masih membutuhkan juga,” ujar Ridho.

Acara penyaluran bantuan program IMPACT dihadiri oleh Konsul Jenderal Spica Tutuhatunewa beserta perwakilan PPIA dari setiap universitas di Victoria, dan media.

Dalam pidato singkatnya, Konjen Spica pun menyatakan keyakinannya terhadap aktivitas sosial semacam ini yang akan membawa dampak besar, khususnya bagi para generasi muda di Indonesia Timur yang akan menyerap ilmu dari sepuluh taman belajar yang kini telah tersedia.

 

 

***

APA KATA MEREKA

 

Agatha Rhea, Caroline Suharli, Ray Setiawan Tannial
PPIA La Trobe

Ray: IMPACT ini menurut saya bagus karena merupakan opportunityuntuk membantu murid-murid dari Papua.

Agatha: Dan acara ini baik, giving them a chance to learn even just basic writing.

Caroline: Yang bagusnya di sini, mungkin selama ini PPIA itu fokusnya lebih ke dalam dan belum ke luar, jadi ya lebih ke hubungan pelajar lah ya. Kayak acara-acara. Tapi ini bisa menunjukkan ke dunia luar, “oh ini lohstudent-studentdi Australia gakcuma belajar dan lupa sama negara sendiri. Kita masih peduli sama negara sendiri.”

Untuk feedback, menurut kami, acara ini kurang di-exposesoalnya pendatangnya cuma 20 orang. Perlu banyak exposure.

Harapan kami sebagai komite PPIA La Trobe tentang hubungan dengan PPIA Victoria adalah agar bisa berpartisipasi lebih aktif. Mungkin kan sekarang kita belum ada plan, ya. Tapi mungkin planpertama kita adalah untuk bantu promosi dan encourage mereka juga.

 

 

Rezli Adli Putri
PPIA Victoria

Pertama aku dikenalin ke event ini oleh Kak Nina sendiri.

Menurutku IMPACT ini bagus banget sih, karena akupersonallysangat tertarik di bidang pendidikan. Terutama bantu anak-anak Papua itu sangat bagus banget. Mulia banget.

Semoga ke depannya IMPACT bisa terus lanjut, makin sukses, dan makin banyak juga anak-anak yang kebantu.

 

 

 

 

Nasa