Pelecehan seksual terhadap anak-anak memang merupakan mimpi buruk orangtua. Tetapi apa jadinya ketika hal yang ditakutkan tersebut terjadi di dalam lingkungan sekolah? Di tempat dimana seorang anak menghabiskan hari-harinya untuk menimba ilmu. Sangat disayangkan bahwa akhir-akhir ini justru semakin banyak kejadian seperti ini tercatat berlokasi di sekolah.

Pertengahan April lalu Indonesia dikejutkan oleh berita pelecehan seksual yang dialami anak yang masih duduk di bangku TK (pre-school) dan baru berusia 5 tahun. Anak itu bersekolah di Jakarta International School (JIS) yang terkenal dengan keamanan yang ketat. Pelaku kejadian tersebut juga merupakan staff dari dalam sekolah itu sendiri.

Di wilayah Victoria belakangan juga tercatat beberapa kasus pelecehan seksual terhadap anak sekolah. Salah satunya adalah kejadian Mei silam, yaitu seorang remaja laki-laki menarik tangan seorang anak anak berusia 8 tahun ke tempat sepi, di tengah jam murid-murid pulang, dan ramainya area sekolah Glenferrie Primary School di Hawthorn.

Hal ini serta merta membuat sejumlah orangtua khawatir terhadap nasib anak-anaknya yang masih menjalani pendidikan lewat sekolah di Indonesia maupun di wilayah Victoria ini sendiri.

Pasca kejadian ini, BUSET lalu melakukan wawancara pada sejumlah orangtua tentang bagaimana tanggapan mereka dan apa tindakan pencegahan – dari sekolah dan orangtua – yang diharapkan bisa diaplikasikan untuk mencegah fenomena ini terulang kembali.

Kejadian di JIS merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan hati saya sebagai orang tua. Bagaimana bisa seorang dewasa tega memanfaatkan keterbatasan anak kecil dan melecehkannya secara seksual?! Siapapun oknum yang berbuat, wajib dihukum seberat-seberatnya agar menjadi efek jera bagi para pelaku. Dan yang cukup menyedihkan lagi, di luar sana masih banyak kasus kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang masih kurang di perhatikan dan bahkan pelakunya belum tertangkap. Pemerintah Indonesia harus lebih serius dan bertindak.

Untuk pencegahan, sekolah harus meningkatkan pengawasan terhadap para murid, yang menyangkut seluruh kegiatannya di dalam lingkungan sekolah dengan penambahan CCTV. Sekolah juga perlu lebih ketat menseleksi para calon pengajarnya dengan melibatkan para pakar di bidang psikologi, demi kualitas pendidikan dan pembimbingan dalam sekolah.

Tugas orang tua adalah mengasihi anaknya sepenuhnya, baik lewat perhatian dan pendidikan di rumah, termasuk membuka wawasan pengetahuan tentang ancaman bahaya yang mungkin mereka alami ketika jauh dari orang tua.
Pelecehan seksual terhadap anak kecil, terutama di sekolah, adalah kejahatan yang tidak dapat dimaafkan, karena anak adalah harapan setiap orangtua. Orangtua menyekolahkan anak di suatu sekolah, artinya orangtua telah mempercayakan pendidikan dan keselamatan anaknya pada sekolah tersebut. Selama jam sekolah keselamatan anak seharusnya menjadi tanggungjawab sekolah. Selain itu, hal seperti itu mengakibatkan anak menjadi trauma terhadap sekolah, sedangkan alur pendidikan mereka masih panjang.

Untuk pencegahan dari pihak sekolah, sebaiknya meyeleksi yang ketat atas kesehatan jasmani dan rohani bukan hanya guru, tetapi juga para karyawan, petugas kebersihan di lingkungan sekolah. Dan yang paling penting, untuk murid-murid setingkat playgroup, TK, kelas-kelas awal SD, bila ke toilet harus ditemani guru pendamping.

Sedangkan dari pihak orangtua, anak diberi pengertian, harus menjaga bagian-bagian tubuhnya dengan baik, tidak boleh membiarkan orang lain menyentuhnya. Satu lagi yang penting, anak diajarkan untuk selalu lapor kepada orangtua bila ada orang yang melakukan sesuatu padanya, yang membuat dia tidak nyaman.
Pelecehan seksual terhadap anak dalam bentuk apapun adalah tidak bermoral dan tidak dapat ditoleransi, karena banyaknya akibat dan trauma yang ditimbulkan dari pengalaman buruk yang dialami anak dari kejadian tersebut. Belum lagi secara fisik ia dapat tertular berbagai macam penyakit seksual yang berbahaya. Selain itu ditakutkan kejadian itu dapat membentuk anak menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.

Pencegahan yang harus dilakukan oleh pihak sekolah adalah memperhatikan kualitas para staf, baik pengajar maupun karyawan dari tingkat atas sampai bawah. mengecek latar belakang mereka, juga agen yang menyalurkan mereka.

Guru juga harus berusaha mengenal dekat anak-anak muridnya, memperhatikan dan mendengarkan kebutuhan mereka sehingga jika anak mempunyai masalah atau mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, agar mereka bisa mempercayai gurunya untuk bercerita.

Yang perlu orangtua lakukan untuk pencegahan adalah lebih perhatian terhadap anak dan tingkah lakunya agar cepat tanggap jika ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Jangan sepenuhnya lepas tanggungjawab dalam pengasuhan dan pembelajaran anak kepada pengasuh, guru atau orang lain.

Mengajarkan anak untuk berani mengatakan TIDAK jika ada orang atau yang menyakiti dirinya dan membuatnya tidak nyaman, bahwa tubuhnya adalah sangat pribadi dan tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya.

Pelecehan seksual terhadap anak tidak saja dapat terjadi di sekolah tetapi juga di tempat-tempat lain. Pihak sekolah seharusnya dapat melakukan pengawasan terhadap anak-anak sewaktu mereka berada dalam lingkungan sekolah.

Sebagai Muslim, kami – orangtua dan anak – selalu berdoa meminta perlindungan kepada Allah SWT sebelum berangkat sekolah karena orangtua dan pihak sekolah tidak senantiasa dapat mengawasi anak. Anjuran kami selaku orangtua, sedapat mungkin usahakan agar anak selalu dalam pengawasan kita, pihak sekolah, ataupun pihak yang dapat diberi kepercayaan untuk turut menjaga anak, seperti teman atau kerabat.

Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak yang terjadi belakangan ini memang sangat mengkhawatirkan untuk saya yang mempunyai dua anak di sekolah. Saya sangat waspada dengan pergaulan anak pertama saya yang kini sedang beranjak dewasa, dan begitu banyaknya kasus-kasus remaja yang berhubungan dgn seks bebas dan narkoba. Tetapi dengan maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur juga cukup membuat saya lebih stress lagi memikirkan kedua anak laki-laki saya yang belum mengerti apa itu artinya seks.

Terhadap anak perempuan saya, kami sudah sering bertukar pikiran tentang bagaimana dia harus bisa menjaga dirinya di lingkungan sekitar. Saya juga sengaja memperbolehkan dia untuk nonton film-film tentang kekerasan seksual dan kehidupan remaja lainnya dengan harapan banyak pelajaran yang bisa dia ambil dan lebih berhati-hati.

Terhadap anak laki-laki saya yang masih di bawah umur, yang saya bisa bilang ke anak saya hanya never talk to stranger, walaupun predator seksual saat ini bisa juga orang-orang yang dekat dengan kita.

Memang saya tidak menemani mereka di sekolah, tetapi di tempat-tempat kegiatan lain yang mereka ikuti seperti piano, basket dan hockey saya selalu melihat mereka dari awal sampai selesai. Saya mencoba untuk sering berkomunikasi dengan guru-guru dan staff untuk mengetahui perkembangan anak-anak di sekolah.

Kita sebagai orangtua harus terus memantau karakter anak-anak kita dan lingkungan di sekitar mereka, sesibuk apapun kegiatan kita sehari-hari. Setiap hari tanya anak-anak bagaimana hari mereka di sekolah. Kalau mereka terlihat aneh, terdiam dan tidak seperti biasanya, mungkin ada sesuatu yang tidak benar.

Akhir kata marilah kita bersama-sama berdoa meminta perlindungan Tuhan untuk anak-anak kita dan mudah-mudahan kasus seperti ini tidak pernah ada lagi.

sasha

 

****