Lima tahun lalu seorang Bernard Leon Lokman pindah dari Perth ke Melbourne setelah mendapatkan beasiswa di Gertrude Opera (The Opera Studio Melbourne) untuk meniti karir di dunia pentas panggung.Tahun demi tahun berlalu hingga pada tahun 2018, tepatnya pada tanggal 7 April, Bernard tampil dalam opera Les Mamelles de Tiresias(The Breasts of Tiresias) garapan Lyric Opera di gedung Chapel Off Chapel, Prahran, Victoria.

Dalam opera yang berlangsung selama satu jam tersebut, Bernard berperan sebagai Gendarme(polisi dalam Bahasa Perancis), yang meski bukan adalah tokoh utama, termasuk salah satu peran yang sering muncul di atas panggung.

Rolesaya adalah Gendarmeatau polisi. Dalam opera ini saya memerankan seseorang yang menjadi paragon atau teladan moral dalam drama itu. Munculnya sering sekali, tapi perannya menurut saya tidak terlalu besar dan hanya supporting role,” terang Bernard.

Kecintaan anak bungsu dari dua bersaudara ini pada dunia opera dimulai ketika ia mengenal musik klasik – jenis musik yang tidak pernah terpikir olehnya sendiri akan ia tekuni.“Waktu itu saya bertemu guru yang memperkenalkan saya ke musik klasik. Pada mulanya saya tidak begitu interested, tapi setelah diperkenalkan satu per satu, saya mulai berpikir, ‘wah, rupanya bagus banget ya. Rupanya saya tidak tahu kalau ada musik semacam itu yang berkualitas.’ Setelah itu, langsung terjun ke dunia opera,” kisahnya.

Dengan latar belakang menyanyi yang kuat sejak di bangku sekolah dan pengalaman tampil di atas panggung selama 10 tahun, Bernard giat mendalami dunia opera. Berkat kesadaran akan perlunya tanggungjawab penuh sebagai seorang performer, pria yang baru berusia 32 tahun ini bahkan dipercaya untuk tampil di mancanegara.

“Pemeran harus punya rasa tanggungjawab yang besar karena kalau tidak, semuanya bisa ambruk sebelum mulai. Jadi, kalau perusahaan opera bisa dapat orang yang pro-aktif, mereka bisa ajak terus karena senang dengan orang seperti itu,” jelas alumnus Wesley College, Perth ini.

“Beberapa tahun lalu, saya diajak untuk tampil di Tiongkok oleh direktur The Breasts of Tiresiasini sampai satu bulan ke 17-20 buah kota di sana,” ujarnya bangga. Selain sibuk memerankan tokoh dalam drama karya direktur lain, Bernard ternyata juga sedang menulis naskah opera karya sendiri yang mengisahkan tentang masa penjajahan Jepang di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara darimana ia berasal.

“Untuk ke depannya, saya sekarang sedang menyelesaikan opera karya sendiri, opera pendek dan sangat basicyang hanya diiringi piano, sehingga tidak memerlukan biaya besar. Operanya berjudul “Gejolak” yang hanya memiliki satu actdengan durasi 45 menit. Ceritanya mengenai latar belakang pasca kedatangan pasukan Jepang ke Indonesia di Sumatera Utara.”

Melalui naskah opera yang beberapa tokohnya terinspirasi dari figur nyata di Medan pada masa itu, Bernard berharap agar performerdengan latar belakang Asia bisa mendapat peran sesuai jati diri mereka.

“Sebenarnya salah satu alasan saya menulis opera itu adalah karena saya ingin menciptakan satu karya dimana penyanyi Asia juga dapat memainkan peran dengan etnisitas mereka sendiri meski pada umumnya opera itu budaya barat.”

Alasan ini terinspirasi dari pengalamannya memainkan opera yang semua ceritanya adalah bukan dari negeri atau kulturnya sendiri.Bernard sendiri pun merasa, “kok tidak ada sih karya yang buat saya merasa bahwa saya adalah orang Asia? Dan pada umumnya, karena kita orang Asia, kadang-kadang kalah dalam castingkarena terlalu berbeda secara fisik.”

Kurangnya jumlah pemeran opera Asia, khususnya Indonesia di Melbourne juga menjadi salah satu hambatan bagi Bernard bila ingin melangsungkan operanya yang masih dalam proses penulisan tersebut.“Karya ini sangat susah dipanggungkan, karena perlu satu orang Batak Mandailing, satu orang Melayu, satu orang Tionghoa, dan satu orang Jawa,” ujarnya.

Opera The Breasts of Tiresias, yang melibatkan Bernard serta 19 orang lainnya, berlangsung selama lima hari dan mengisahkan tentang seorang istri yang lelah karena mimpinya dibatasi oleh keharusannya berumah tangga sebagai wanita.

Tokoh ini akhirnya memutuskan untuk melepas kedua payudaranya (disimbolkan dengan balon) dan berubah menjadi seorang pria bernama Tiresias.Akan tetapi sang suami tidak terima, sampai pada akhirnya sang istri harus meninggalkan rumah. Melihat keputusan Tiresias, suaminya kemudian justru memilih untuk berubah menjadi seorang wanita dan tanpa disangka berhasil melahirkan 49.050 bayi di kota tempat mereka tinggal.

Setelah satu jam berlangsung, opera ini berakhir dengan sang suami dan istri berdamai dan memberikan balon (lambang payudara) kepada satu sama lain.

Sebagai salah satu pemain, Bernard mengatakan bahwa opera ini merupakan opera surealis dengan tema komedi. Menurutnya, penampilan panggung tersebut memiliki pesan simbolik penting yang relevan dengan keadaan sekarang, terlebih lagi melihat banyaknya kesalahpahaman yang terjadi antar masyarakat.

“Pada akhirnya, pasangan ini juga mengatakan, ‘jangan berperang, tapi marilah kita make loveatau make babies instead’. Jadi mereka bertanya apakah penting perang ini, bukankah lebih penting kita make loveinstead of making war?” papar Bernard.

“Dalam acara ini saya harapkan agar kita sebagai bangsa manusia jangan lupa kalau seni itu adalah suatu cara unik menceritakan sesuatu yang kadang susah diutarakan secara langsung dan juga suatu sarana untuk mengingatkan kita bahwa kita pada akhirnya adalah sama. Tujuan kita adalah agar semua orang dapat bersatu dalam kasih,” tambahnya lagi.

Kepada pemeran opera dari Asia seperti dirinya sendiri, Bernard berharap agar mereka dapat mempertahankan dan tidak melupakan identitas mereka sebagai seniman keturunan Asia.

“Sebagai seorang pemain opera berlatar belakang Asia, saya harap artis Asia lainnya jangan melupakan asal-usul, tradisi, dan kebudayaan mereka. Dan mengembangkan juga tradisi mereka, membesarkan identitas kita juga dalam bidang seni apapun walau kita di Australia atau dimana-mana, karena sangat banyak cerita yang belum diutarakan,” tutupnya.

 

 

 

 

Nasa