PEMINAT MUDA BAHASA INDONESIA UNJUK KEBOLEHAN

Ada banyak cara untuk mengungkapkan bentuk nasionalisme kita terhadap Indonesia. Salah satunya dengan melestarikan bahasa dan budaya Indonesia kepada penduduk asing. Itulah yang sudah dilakukan oleh Radio Kita, sebuah saluran radio berbahasa Indonesia di Melbourne, Victoria. Sayembara Bahasa Indonesia, sebutan acara yang diselenggarakan oleh Radio Kita, diyakini telah menjadi program ritual tahunan. Perlombaan yang ditujukan kepada para pelajar kelas 11 di sekolah-sekolah Victoria ini pun bertemakan tentang ‘Pandangan Anak Muda Tentang Hubungan Australia dan Indonesia’.

Hujan rintik-rintik yang mengguyur kota Melbourne pada Sabtu pagi, 10 September 2016 lalu, tak menyurutkan semangat para undangan serta peserta untuk bersama-sama menjambangi KJRI Melbourne. Acara dimulai pukul 11 pagi dengan kehadiran sembilan peserta. Kesemuanya siap menyampaikan karya tulis mereka di hadapan dewan juri.

Penanggungjawab Sayembara Bahasa Indonesia dan Pembantu Sekretaris Radio Kita, Nina Lohanatha
Penanggungjawab Sayembara Bahasa Indonesia dan Pembantu Sekretaris Radio Kita, Nina Lohanatha

Ditemui usai acara, Nina Lohanatha selaku salah satu panitia sayembara, mengaku bahwa acara tahun ini berjalan dengan sukses dimana seluruh peserta seperti tahun-tahun sebelumnya sangat antusias akan tema yang diusung. “Mereka sangat bagus dalam menuliskan karya tulisnya. Jujur, saya sendiri kaget ketika menerima essay mereka. Awalnya mengira bakalan susah untuk diikuti oleh pelajar yang berbahasa ibu Bahasa Indonesia, ternyata mereka malah membuat karya tulisnya semakin lebih menarik untuk dibaca,” jelas Nina.

Nina lanjut mengatakan, persiapan perlombaan tidaklah mudah. Setidaknya, butuh 4 bulan bagi panitia sayembara Radio Kita untuk bisa merampungkan acara ini. “Terimakasih secara khusus kepada sekretaris Radio Kita yaitu Bu Syahisti Abdurrachman yang tahun ini berhasil mengundang seluruh sekolah di Victoria yang mengadakan program Bahasa Indonesia di kurikulum mereka dan mendatangkan para siswa peserta untuk menunjukkan kebolehan mereka dalam sayembara ini,” terangnya. Radio Kita melihat terjadinya penurunan program pembelajaran Bahasa Indonesia di Australia dalam beberapa tahun terakhir ini. Sayembara Bahasa Indonesia ini diadakan untuk melestarikan dan mempromosikan kebudayaan serta bahasa Indonesia kepada penduduk Melbourne, dimulai dari usia dini. “Oleh karena itulah, Radio Kita hadir dengan harapan acara ini akan terus berlangsung dan diikuti oleh lebih banyak murid lagi. Terlebih lagi, kami mengharapkan guru-guru juga dapat ikut serta dan terinspirasi untuk mempromosikan Indonesia.”

Ditengah-tengah perlombaan, Dharma Wanita Persatuan (DWP) KJRI Melbourne mengisi jeda dengan menampilkan permainan angklung. Sekitar 15 anggota DWP membawakan lagu nasional Indonesia, Tanah Airku, dengan merdu. Setelah bermain, angklung dibagikan kepada para penonton untuk bersama-sama memainkannya, yang sontak menambahkan keceriaan dan kebahagiaan pada pagi hari itu.

Tak lama setelah bermain angklung dan jeda makan siang, dewan juri yang diwakilkan Dosen Indonesian Studies di University of Melbourne Dr Edwin Jurriens, mengumumkan nama-nama pemenang Sayembara Bahasa Indonesia dimana juara pertama berhasil diraih Molly Xiao dari Huntingtower School. Sedangkan juara kedua jatuh kepada Thomas Curtis-Smith dari Loyola College, diikuti oleh siswi Goulburn Valley Grammar School Senara Kulatunga di posisi ketiga.

Sang juara, Molly, mengungkapkan rasa bahagianya telah memenangkan acara ini. “Sungguh, tidak terpikir sebelumnya oleh saya bahwa akan memenangkan acara ini. It was a great event, with an infectious atmosphere and I really enjoyed it!” Serunya. Yang mengejutkan, Molly memaparkan bahwa dalam pembentukan karya tulisnya, dirinya tidak memperlukan waktu yang lama untuk melakukan research tentang hubungan Indonesia dan Australia. “In all honesty, not very long. I used roughly 30 to 45 minutes on researching and writing up my speech,” ujarnya. Gadis pecinta bahasa asing ini pun mengaku kepada BUSET bahwa ia memang senang mempelajari bahasa asing, terlebih lagi Bahasa Indonesia. “Di sekolah saya belajar Bahasa Perancis juga,” tuturnya. Molly menilai sampai saat ini ia sangat menikmati mempelajari Bahasa Indonesia, namun, dari segi penggunaan grammar Indonesia, ia sedikit menemukan kesulitan. “I have learnt Bahasa Indonesia for quite some time and I haven’t found many aspects difficult yet. Perhaps the extended grammar such as object focus and subject focus for now,” katanya polos.

Senada dengan Molly, Thomas, juga merasa bangga karyanya terplilih sebagai juara kedua. “Saya merasa bagus sekali! Not just because of winning but being able to experience such an informative competition. The competition was very simple and basic yet it did provide a lot of insight of student’s perceptions between Australia and Indonesia’s relationship. Being able to be immersed in the Indonesian language with other students was fantastic as well!” Papar pria berkacamata tersebut. Uniknya, Thomas mengembangkan topik yang telah diberikan melalui makanan. Ia pribadi merasa dengan makanan, seseorang dapat menjalin koneksi dengan baik. “My topic was about how Indonesian food and its culture can be a way of strengthening the bond and perception between Australians and Indonesians. I chose this topic because I love food a lot and I think that it’s a great a way to connect with other cultures. Di sayembara, saya berbicara tentang saya cinta nasi goreng dan sate,” jelasnya seraya tersenyum lebar.

(dari kiri) Juara I: Molly Xiao (Huntingtower School), Juara II: Thomas Curtis-Smith (Loyola College), juara III: Senara Kulatunga (Goulburn Valley Grammar School)
(dari kiri) Juara I: Molly Xiao (Huntingtower School), Juara II: Thomas Curtis-Smith (Loyola College), juara III: Senara Kulatunga (Goulburn Valley Grammar School)

Thomas mengaku ia membutuhkan waktu seminggu untuk bisa memberikan penampilan terbaik sebagai perwakilan sekolahnya. “Saya dan teman saya sendiri mempersiapkannya selama seminggu. However, this did not stop us trying our best effort!” Ketika ditanyai bagaimana pandangannya terhadap Bahasa, Thomas menganggap mempelajari Bahasa Indonesia adalah suatu tantangan sendiri untuknya, tapi tetap menyenangkan. “Although people usually say Bahasa Indonesia is the ‘easiest’ language, Bahasa can still be very challenging. Being able to be very fluent and accurate is very difficult but in the end it is rewarding! And yet, it is a very fun to learn,” sahut Thomas.

Di posisi ketiga, Senara mengangkat topik yang menarik untuk dipresentasikan di hadapan dewan juri. “My essay was based around my trip to Indonesia for student exchange and also how important learning Indonesian is for students in Australia for the future. Because Australia and Indonesia are neighboring countries it is important that we have a strong relationship.” Senara merasa topik yang ia angkat sangat penting karena dirinya bisa menulis sambil belajar memahami budaya Indonesia lebih dalam.

Selain mempelajari bahasa Indonesia, Senara juga mengenal Bahasa Sinhalase dengan baik, atau bahasa yang dipakai oleh masyarakat Sri Lanka pada umumnya. “Before I begin to expand my knowledge in languages I want to become fluent in Bahasa first,” ujar gadis yang memiliki rambut panjang ini. “Difficulties I had with learning Bahasa was grammar, but with some practice I think that I can overcome this challenge,” ungkap Senara penuh semangat.

Baik Molly, Thomas, maupun Senara yang nota bene masih merupakan murid kelas 11 atau setara dengan SMA kelas 2, mengharapkan adanya kemajuan terhadap hubungan politik Indonesia dan Australia. “I hope in the future the relationship between the two countries will only strengthen and continue to last,” harap Thomas. Molly menambahkan, “I hope that it will become stronger in its educational connections and the two countries will continue to help each other out.” Menutup wawancara dengan BUSET, Senara memberikan penilaiannya mengenai hubungan kedua negara yang terbentuk dari rasa saling percaya, dan ini sedianya terus dipupuk sehingga akan menghasilkan banyak peluang emas dari kerjasama tersebut.

Pemukulan gong oleh Konsul Pensosbud O’Conroy Doloksaribu menandai dimulainya sayembara
Pemukulan gong oleh Konsul Pensosbud O’Conroy Doloksaribu menandai dimulainya sayembara
Dewan juri
Dewan juri
Persembahan musik angklung dari DWP KJRI Melbourne
Persembahan musik angklung dari DWP KJRI Melbourne
Peserta diajak bermain angklung bersama
Peserta diajak bermain angklung bersama

 

Alifia