Dengan harga properti yang terus meningkat dan aktifitas investasi asing yang masih disambut baik oleh pemerintah, tak lama lagi Australia perlu menetapkan langkah serius dalam membantu banyak warganya yang semakin kesulitan untuk membeli tempat tinggal.

Memiliki sebuah properti tidak seharusnya menjadi sebuah impian yang mustahil bagi masyarakat Australia. Namun demikian, harga median rumah di Melbourne saat ini berada di rekor tertinggi $826,000. Peluang masyarakat, khususnya para generasi muda yang berpenghasilan menegah ke bawah semakin sering dipertanyakan, apalagi hasil langkah-langkah pemerintah yang nyata untuk membantu seluruh penduduknya secara adil dan keseluruhan belum terlihat secara jelas.

Mempelajari sistem yang diterapkan oleh negara Singapura bisa jadi langkah nyata pertama untuk mewujudkan impian seluruh masyarakat Australia untuk menjalin hidup yang makmur. Singapura sudah berada jauh di depan Australia dalam mengatasi isu ketidakterjangkauan properti ini. Salah satu metode efektif mereka yang telah diterapkan bertahun-tahun lamanya adalah melalui pembangunan perumahan publik dalam bentuk apartemen yang disewakan kepada masyarakatnya selama 99 tahun.

Awalnya dibangun untuk mempermudah sebagian warganya untuk memiliki tempat tinggal, saat ini model perumahan publik ini menjadi sangat popular di kalangan warga Singapura kebanyakan, dengan lebih dari 80% populasinya memilih untuk menjalankan sistem sewa jangka panjang ini.

Meskipun sebagian dari apa yang setara dengan superannuation di Australia digunakan untuk mendapatkan sewa jangka panjang ini, warga Singapura masih dapat menjual atau mewariskan properti tersebut. Apartemen-apartemen ini dijual dengan harga lebih murah dari nilai pasar dan tersedia dalam berbagai macam tipe dan susunan untuk para calon pembelinya yang memiliki situasi finansial yang berbeda. Pemerintah juga mempermudah peminat perumahan publik dengan memberikan akses terhadap hutang yang lebih fleksibel.

Dengan memfokuskan pembangunan perumahan-perumahan publik di kawasan tersendiri, Singapura telah berhasil membangun kota-kota satelit yang tidak hanya terdiri dari perumahan (apartemen), namun juga infrastruktur yang mendukung para pemukimnya seperti sekolah, rumah sakit, supermarket dan fasilitas umum untuk berolahraga dan berekreasi.

Mayoritas pembangunan perumahan publik di Singapura dikelola oleh Singapore’s Housing and Development Board (HDB) yang secara tidak langsung adalah pemerintah sendiri. Bila seseorang memiliki freehold property, yang bernilai jutaan dolar, maka ia tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif pemerintah ini.

Direncanakan, dirancang dan dibangun dengan konsep sustainability dan komunitas yang berkekeluargaan, pemukiman HDB ini juga membantu para penghuninya mengembangkan tingkat interaksi sosial dan keamanan di dalam komunitas tersebut. Bahkan presiden wanita pertama Singapura, Halimah Yacob, juga mendiami sebuah HDB unit dan telah menyatakan keputusannya untuk tidak pindah.

Tentunya fenomena ini sangatlah berbeda dengan sistem perumahan publik di Australia saat ini. Dimana banyak orang yang sangat jelas tidak dapat membeli properti masih juga kesulitan untuk mendapatkan hak kepimilikan atas rumah-rumah yang disediakan oleh negara atau public housing.

Di saat langkah-langkah Singapura ini telah terbukti dan juga diakui oleh banyak negara lainnya, terutama dalam mengatasi isu kelompok tunawisma, kemampuan pemerintah Australia untuk mengatasi masalah yang serupa semaking sering dipertanyakan. Alternatif yang lebih terjangkau dalam iklim pasar properti yang panas di kota-kota utama Australia saat ini harus segera digerakkan.

 

 

Opini Bruce Oliver, Co-founder Xynergy Realty

ditulis oleh:
Alain Warisadi,
CEA (REIV), CA (MFAA), TAA, CIT (M), CPS (RE), Dipl FMBM, B. Ec (Fin)
Property Writer/ Property Consultant
Finance Consultant (Mortgage Broker)
Licensed Estate Agent
Harvard University Scholar
(e.) [email protected] 

Tanya Tjahjosarwono, B.Bus (MKT), M. ADV MKT.
Co-property Writer
Marketing Communications Officer
(e.) [email protected]